6 Cara Bercocok Bertanam Secara Hidroponik

Sistem berkebun saat ini yang lagi tren adalah system menanan Hidroponik, yup sisitem Hidroponik adalah berasal dari bahasa Yunani yakni Hydro dan Ponics yang artinya air dan daya atau tenaga. Tips menanam dengan sistem hidroponik artinya menanam menggunakan media air atau tenaga kerja air.Hidroponik juga dikenal sebagai soilless culture atau budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah. Jadi hidroponik berarti budidaya tanaman yang memanfaatkan air dan tanpa menggunakan tanah sebagai media tanam atau soilless.

Menanam dengan teknik hidroponik berarti kita bercocok tanam dengan memperhatikan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman yang bersangkutan, atau istilah lainnya bercocok tanam tanpa tanah tetapi menggunakan air yang mengandung nutrisi yang dibutuhkan tanaman.Rupanya masyarakat sudah menyadari pentingnya kebutuhan pupuk bagi tanaman.Di mana pun tumbuhnya sebuah tanaman akan tetap dapat tumbuh dengan baik apabila nutrisi (unsur hara) yang dibutuhkan selalu tercukupi. Dalam konteks ini peranan tanah adalah untuk penyangga tanaman dan air yang ada merupakan pelarut nutrisi, untuk kemudian bisa diserap tanaman.

Ada 6 cara untuk menanam dengan sistem Hydroponik :

  1. Sistem AEROPONIC. Sistem AEROPONIC adalah system hydroponic yang paling hebat dan mungkin juga memberbagi hasil paling baik dan tercepat dalam pertumbuhan dalam berkebun Hydroponic. Faktor ini dimungkinkan sebab larutan nutrisi ini diberbagi alias disemprotkan berbentuk kabut langsung ke akar, jadi akar tanaman lebih mudah menyerap larutan nutrisi yang tak sedikit mengandung oksigen.Sementara tanaman sangat membutuhkan nutrisi dan oksigen dalam pertumbuhannya.
  2. Sistem Tetes (DRIP SYSTEM). Sistem Tetes adalah system hidroponik yang tak jarang dipakai untuk saat ini. Sistem operasinya sederhana yaitu dengan memakai timer mengontrol pompa. Pada saat pompa dinasibkan, pompa meneteskan nutrisi ke masing-masing tanaman.Agar berdiri tegak, Tanaman ditopang memakai media tanam lain semacam cocopit, sekam bakar, ziolit, pasir, dll tidak hanya tanah.
  3. Sistem NFT (NUTRIENT FILM TECHNIQUE). Sistem NFT ini adalah tutorial yang paling terkenal dalam istilah hidroponik. Sistem NFT ini dengan cara semakin menerus mengalirkan nutrisi yang terlarut dalam air tanpa memakai timer untuk pompanya. Nutrisi ini mengalir kedalam gully melalui akar-akar flora dan kemudian kembali lagi ke penampungan air, begitu sesemakinnya.
  4. Sistem EBB & FLOW SYSTEM. Sistem Ebb & Flow bekerja dengan tutorial membanjiri sementara wadah pertumbuhan dengan nutrisi hingga air pada batas tertentu, kemudian mengembalikan nutrisi itu ke dalam penampungan, begitu sesemakinnya. Sistem ini memerlukan pompa yang dikoneksikan ke timer.
  5. Sistem WATER CULTURE. Walter Culture adalah system hidroponik yang sederhana. Wadah yang menyangga flora biasanya terbuat darai Styrofoam dan mengapung langsung dengan nutrisi. Pompa udara memompa udara ke dalam air stone yang membikin gelembung-gelembung sebagai suply oksigen ke akar-akar tanaman.
  6. Sistem WICK SYSTEM. Wick system ini salah satu system hidroponik yang paling sederhana sekali dan biasanya dipakai oleh kalangan pemula. Sistem ini tergolong pasif, sebab tak ada part-part yang bergerak. Nutrisi mengalir ke dalam media pertumbuhan dari dalam wadah memakai sejenis sumbu.
Menaman dengan sistem Hidroponik memang mempunyai berbagai kelebihan dibanding sistem konvesional berkebun dengan tanah. Pada sistem Hidroponik, tingkat pertumbuhan tanaman hidroponik adalah 30-50 persen lebih cepat dari tanaman memakai media tanah, tumbuh di bawah kondisi yang sama. Hasil tanaman juga lebih besar. Para ilmuwan percaya bahwa ada berbagai argumen mengapa menanam dengan sistem hidroponik itu sangat menguntungkan. Tidak hanya itu, pasokan oksigen ekstra dalam media tumbuh hidroponik, sangat menolong untuk merangsang pertumbuhan akar-akar tanaman. 

Tanaman yang tak sedikit mengandung oksigen dalam akar juga sanggup menyerap nutrisi lebih cepat. Nutrisi dalam sistem hidroponik yang dicampur dengan air dan dikirim dengan cara langsung ke sistem akar. Flora tak wajib mencari di tanah untuk nutrisi yang diperlukan. Nutrisi tanaman bakal rutin terpenuhi dari waktu ke waktu. Tanaman hidroponik sendiri memerlukan sangat sedikit energi untuk menemukan dan memecah makanan. Tanaman kemudian memakai energi yang disimpan ini untuk tumbuh lebih cepat dan menghasilkan lebih tak sedikit buah. Tanaman hidroponik juga mempunyai lebih sedikit persoalan dengan infestasi bug, fungi dan penyakit. Dengan cara umum, tanaman yang tumbuh dengan sistem hidroponik adalah tanaman sehat dan tumbuh besar. 

Berkebun dengan cara hidroponik juga memberi kegunaaan bagi lingkungan. Berkebun hidroponik memakai air membutuhkan lahan lebih sedikit dari pada memakai media tanah. Pemakaian pestisida lebih sedikit dipakai pada tanaman hidroponik.

Cara Membuat Pupuk Kompos Dari Jerami Padi

Sehabis panen padi, biasanya sebagian besar petani membakar jeraminya di lahan sawah karena jerami dianggap mengganggu dalam pengolahan lahan terutama jika menggunakan traktor. Sebagian petani ada juga yang meletakkan jeraminya diatas pematang-pematang, yang apabila sering turun hujan maka tanah pada pematang tersebut malah tanahnya menjadi terbis karena tergerus air hujan. Petani tidak menyadari bahwa dengan pembakaran jerami, akan terjadi kehilangan bahan organik pada lahannya, yang jika dilakukan pada setiap musim tanam maka kandungan bahan organik tanah sawah tersebut menjadi semakin berkurang. Disamping itu, pembakaran jerami juga menghasilkan asap dan CO2 yang kurang baik bagi kesehatan.


Di dalam jerami terdapat beberapa unsur hara yang berguna untuk tanaman seperti Nitrogen dan Kalium. Dengan membakar jerami berarti sama saja dengan membakar uang karena jerami yang dibakar tersebut sebenarnya dapat membantu menggantikan pupuk KCl sebanyak 1 sak (50 kg). Berapa rupiah yang dibakar petani karena ketidaktahuannya? Dengan mengembalikan jerami padi ke lahan sawah, petani tidak perlu lagi memberikan pupuk KCl. Dengan demikian akan menghemat biaya produksi.

Selain dikembalikan langsung ke lahan sawah,. jerami padi dapat juga dijadikan sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik (kompos). Jika petani menganggap jerami menyulitkan dalam pengolahan menggunakan traktor maka lebih baik dibuat kompos saja. Untuk membuat kompos yang berkualitas, diperlukan decomposer yang sesuai dengan tujuan pemberian kompos. Jika menginginkan kompos untuk menyuburkan tanah sekaligus mengendalikan hama penyakit, khususnya penyakit yang disebabkan oleh jamur, maka dapat digunakan decomposer Trichoderma.


Cara pembuatan kompos jerami dengan menggunakan dekomposer Trichoderma adalah sebagai berikut:

Bahan yang diperlukan :

Jerami padi segar 1 m3 (1 m x 1 m X 1m), Urea 2 kg, SP-36 1 kg, Kapur 1 kg, pupuk kandang 20 kg dan starter trichoderma 0,5 kg.

Cara Pembuatan:
  • Jerami segar direndam selama 1 malam. Perendaman ini bertujuan agar jerami tetap lembab.
  • Bahan aktif (Urea, SP-36, kapur, pupuk kandang, starter trichoderma) dicampur dan diaduk sampai rata dan dibagi atas 4 bagian.
  • Jerami ditumpuk 1 m3 dibagi atas 4 lapisan
  • Pada lapisan jerami pertama (1/4 bagian jerami) ditaburkan bahan aktif ¼ bagian dan dipercikkan air untuk menjaga kelembabannya.
  • Setelah itu, tumpukkan kembali lapisan jerami kedua (1/4 bagian jerami) dan taburkan kembali bahan aktifnya ¼ bagian. Demikian seterusnya hingga jerami habis. Tinggi tumpukan jerami sebaiknya kurang dari 1,5 m agar memudahkan dalam pembalikannya
  • Tutup tumpukan dengan plastik agar terlindung dari hujan dan panas, atau dapat diletakkan ditempat yang terlindung
  • Lakukan pembalikkan tumpukan jerami setiap minggu
  • Kelembaban tumpukan jerami dijaga agar kadar airnya 60 – 80 % dengan cara menyiram/memercikkan air (kalau diremas jeraminya maka air tidak menetes)
  • Kompos siap digunakan setelah 3 – 4 minggu.
Ciri-ciri Kompos yang sudah siap untuk digunakan:
  • Berwarna coklat gelap sampai hitam, remah/gembur
  • Bersuhu dingin
  • Tidak berbau atau berbau daun lapuk
Mutu atau kualitas kompos

Kualitas kompos sangat tergantung kepada teknis pembuatan di lapangan. Untuk itu beberapa hal harus diperhatikan:
  • Starter/biang trichoderma yang digunakan harus yang berkualitas baik. Trichoderma bisa diperoleh dari laboratorium BPTP/BPTPH/Dinas Pertanian/Perguruan tinggi atau di kios saprodi .
  • Pembalikan kompos dilakukan tiap minggu karena mikro-organisme pengurai jerami yaitu trichoderma perlu aerasi atau penghawaan agar dapat bekerja secara optimal.
  • Selain itu trichoderma juga memerlukan kelembaban yang tinggi untuk mengomposkan jerami.
Kandungan Beberapa Unsur Hara untuk 1 Ton Kompos Jerami Padi

Dari 1 ton jerami padi dapat diperoleh ½ ton sampai 2/3 ton kompos. Dengan demikian jika kita ingin membuat 1 ton kompos, maka bahan baku jerami yang disiapkan sekitar 1,5-2 ton jerami. Kandungan beberapa unsur hara untuk 1 ton kompos jerami padi adalah : unsur makro Nitrogen (N) 2,11 %, Fosfor (P2O5) 0,64%, Kalium (K2O) 7,7%, Kalsium (Ca) 4,2%, serta unsur mikro Magnesium (Mg) 0,5%, Cu 20 ppm, Mn 684 ppm dan Zn 144 ppm.


Penulis : Ir. Sri Suryani M.R., M.Agr (DPW PERHIPTANI Provinsi Bengkulu). Sumber : perhiptani.org

Peranan Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan dan RSPO Dalam Menyelamatkan Bumi Indonesia

Indonesia merupakan salah satu penghasil minyak sawit terbesar di dunia, sebagai salah satu negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam maka saat ini begitu banyak hutan-hutan di Indonesia yang beralih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit, mulai dari perkebunan sawit tingkat masyarakat maupun perusahaan saat ini sedang gencar dalam melakukan usaha budidaya tanaman kelapa wait.

Pada dasarnya, jika suatu areal sudah memenuhi syarat tumbuh untuk tanaman kelapa wait maka tanaman kelapa sawit dapat tumbuh dan subur di areal tersebut, namun jauh dari itu masih banyak hal lainya yang harus diperhatian untuk melakukan usaha tersebut, karena banyak nya faktor yang harus diperhitungkan untuk menyelamatkan lingkungan dari dampak yang ditimbulkan dalam berbagai aspek.

Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia saat ini sudah mencapai 10,9 juta hektar (2009-1015) yang tersebar di beberapa tempat di Indonesia seperti di Riau, Sumatera Utara dan kalimantan, 51,6 % dari 10,9 juta hektar tersebut adalah perkebunan besar milik perusahaan swasta dan 41,5 % lainya adalah perkebunan rakyat, dan saat ini masih terus berkembang dalam perluasan lahan dari perkebunan kelapa sawit diberbagai daerah tersebut.

Kehadiran perkebunan kelapa sawit di Indonesia memang membuka peluang yang besar dalam mengatasi pengangguran, karena faktanya jutaan orang menggantungkan hidup mereka dalam sektor perkebunan ini, namun banyaknya perkebunan sawit yang tumbuh dan berkembang tanpa dilakukan pengawasan yang jelas membuat lingkungan semakin rusak dan tercemar, mulai dari pembudidayaan, perawatan dan pengolahan hasil yang menimbulkan dampak negatif di berbagai sektor kehidupan. Namun demikian, perkebunan sawit tidak bisa dihentikan begitu saja karena akan menimbulkan dampak yang lebih serius lagi.

Maka dari itu diperlukan suatu penanganan yang serius dalam berbagai sektor perkebunan kelapa sawit agar tidak menimbulkan permasalahan dimasa mendatang nantinya, dalam hal ini diperlukan suatu pengawasan agar semua perkebunan dapat menerapkan sistem perkebunan kelapa sawit berkelanjutan untuk meminimalis dari dampak negatif yang ditimbulkan dari adanya aktifitas perkebunan tersebut.

Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan.

Luas perkebunan kelapa sawit yang semakin lama semakin meluas di berbagai daerah di Indonesia, baik itu dalam skala besar maupun skala perkebunan rakyat, hal ini tentunya harus mendapatkan perhatian lebih karena banyak dari beberapa perkebunan kelapa sawit yang mulai berkembang tanpa melakukan konsultasi terlebih dahulu dalam memperluas areal perkebunan yang tentunya sangat beresiko dalam perusakan lingkungan yang semakin rusak.

Perkebunan kelapa sawit yang menerapkan sistem berkelanjutan tidak hanya berpatokan kepada keuntungan yang besar namun juga selalu memperhatikan lingkungan agar tidak rusak dan tidak membuka hutan sembarangan dalam perluasan areal perkebunan, karena hutan merupakan tempat dari berbagai satwa yang harus sama-sama kita lindungi.

Prisnsip dari perkebunan kelapa sawit berkelanjutan adalah melakukan budidaya sawit yang selalu memperhatikan lingkungan agar dapat meminimalis dari dampak kerusakan yang ditimbulkan dari aktifitas perkebunan tersebut, maka dari itu perkebunan kelapa sawit berkelanjutan harus diterapkan dalam menyelamatkan satwa di Indonesia yang saat ini sudah mengalami penurunan dari aktifitas pembukaan lahan yang tidak terkendali dan tentunya suatu ancaman yang serius untuk lingkungan Indonesia baik itu lautan, daratan maupun pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan.

Bergabung Dengan RSPO (Rountable on Sustainable  Palm Oil).

Luas perkebunan kelapa sawitt di Indonesia saat ini terus bertambah, namun pertambahan luas perkebunan tersebut tidak sebanding dengan pelestarianya, saat milyaran kubik kayu dari hutan di ambil dan diperdagangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, baik untuk produk kertas dan sisanya untuk produk kayu yang diperjual belikan secara ilegal, Sementara untuk perkebunan kelapa sawit sendiri dikembangkan dari areal hutan yang seharusnya tidak dijadikan areal perkebunan.

Saat ini RSPO (Rountabel on Sustainable Palm Oil) hadir untuk menangani hal ini, dengan menerapkan perkebunan sawit berkelanjutan yang lestari akan meminimalis dampak kerusakan yang ditimbulkan dari pengelolaan perkebunan, Karena dalam sertifikasi RESPO perkebunan harus memperhatiakn pelestarian lingkungan, sehingga berbagai faktor kerusakan dapat ditangani sebaik mungkin.

RSPO selalu melakukan audit secara berkala dalam memperhatikan perkembangan dari perkebunan yang memiliki sertifikasi RSPO agar tidak merusak lingkungan yang lebih bururk lagi, perkebunan yang sudah memiliki sertifikasi akan menangani perkebunan dengan bijak, dan jika ada suatu permasalahan tentang lingkungan, satwa dan hal lainya maka perusahaan tersebut sudah tahu langkah apa yang di ambil, sehingga kerusakan yang ditimbulkan dapat diminimalis untuk menyelamatkan lingkungan, satwa dan bumi Indonesia.


Gunakan Selalu Produk Yang Berlabel/Logo RSPO.

Saat ini begitu banyak produk yang menggunakan bahan minyak sawit, mulai dari kosmetik, makanan, margarin, deterjen, minyak goreng dan masih banyak yang lainya lagi,  namun apakah minyak sawit yang mereka gunakan adalah miyak sawit dari perkebunan yang lestari, karena jika mereka tidak menggunakan minyak sawit yang berlabel RSPO maka bisa dikatakan mereka adalah minyak sawit dari perkebunan sawit yang tidak berkelanjutan.

Di Eropa sendiri wajib memiliki logo RSPO, karena memang produk yang memiliki logo ini sudah memiliki jaminan sertifikasi terhadap barang yang dipasarkan untuk konsumen, sehingga produk yang berlogi RSPO menjadi pilihan utama untuk di beli dan di konsumsi sehari-hari.

Produk yang memiliki label/logo RSPO merupakan keluaran dari prosusen yang telah melewati sertifikasi terlebih dahulu, sehingga jika produk memiliki logo ini maka menjadi pilihan beli yang baik dari pada produk yang tidak tersertifikasi RSPO karena kita juga ikut dalam menyelamatkan bumi Indonesia dari kerusakan lingkungan Indonesia.

Beli Yang Baik Untuk Menyelamatkan Bumi Indonesia.

Dari berbagai uraian dan penjelasan di atas maka sangatlah penting untuk produsen maupun konsumen untuk menghadirkan dan membeli produk yang bersertifikasi RSPO, karena terkadang tanpa sadar kita juga ikut andil dalam melakukan perusakan lingkungan kita.

Dengan beli yang baik dan bersertifikat jaminan yang jelas maka kita juga ikut dalam menyelamatkan lingkungan dari kerusakan alam yang semakin terancam, berbagai produk yang kita beli dan pergunakan dalam kebutuhan sehari-hari harus kita perhatikan agar kita selalu prosusen maupun konsumen menjadi pelopor dalam menyelamatkan bumi Indonesia.

Menggunakan produk yang berlabel RSPO maka secara tidak langsung kita telah mendukung pelestarian hutan, pelestarian satwa, menyelamatkan lingkungan dan mencegah pemanasan global, maka dari itu untuk para produsen silahkan bergabung dengan RSPO untuk mengeluarkan produk yang bersertifikasi dan terjamin asal usul minyak sawitnya dan untuk konsumen juga harus jeli dalam membeli produk, perhatikan selalu logo RSPO karena lebih terjamin dari mutu dan kualitasnya.

Demikianlah penjelasan tentang pernanan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dan RSPO dalam menyelamatkan bumi Indonesia, jika anda ingin turut menyelamatkan Indonesia dari kerusakan lingkungan maka bergabunglah dengan RSPO dan gunakan selalu produk yang berlabel RSPO.

Sekian dan terimakasih.

Budidaya Bawang Merah Secara Lengkap dan Tepat

Pendahuluan

Beberapa waktu terakhir bawang merah menjadi perhatian berkenaan dengan fluktuasi harga, pasokan dan permasalahan bawang merah impor. Kebutuhan akan bawang merah setiap tahunnya terus meningkat, dan diwaktu tertentu akan meningkat tajam. Untuk memperpendek jalur distribusi, pemerintah mengembangkan komoditi ini di luar wilayah produsen utama (Jawa dan Sumatera) diantaranya Kalimantan, Sulawesi dan NTT.

Kalsel memiliki beragam tipologi lahan yang potensial dan sesuai untuk pengembangan komoditi ini, diharapkan nantinya komoditi ini mampu memberikan kontribusi yang tinggi terhadap perkembangan ekonomi daerah dan sebagai sumber pendapatan serta membuka kesempatan kerja.

Sosialisasi dan pemasyarakatan di Kalsel dilakukan diawal tahun 2012, pelaksanaan demplot di beberapa kabupaten yang potensial dilaksanakan ditahun 2013. Untuk mencapai keberhasilan pengembangang komoditi ini harus mengacu pada kondisi eksisting daerah, sebagai bahan analisa untuk membuat “platform” pengembangan yang terintegras, diantaranya:

Ketersediaan benih, dari analisa usaha lebih dari 50% biaya produksi diperuntukkan bagi benih, oleh karenanya diperlukan produksi dan pengolahan benih sumber sendiri untuk mengurangi ketergantungan benih dari P. Jawa. Jenis yang dipilih harus selektif, pemilihan lahan mendekati dengan kondisi dari daerah varietas asal.

Alih teknologi produksi.budidaya, Teknik dan teknologi budidaya serta pasca panen bawang merah belum familiar bagi petani di Kalsel.

Kondisi agroklimat dari segi morfologi dan fisiologi hasil panen kemungkinan bisa terjadi sedikit perbedaan dari deskripsi uji observasi, karena perbedaan mikroklimat.

Agro-ekologis. Suatu komodias tentunya mempunyai hama/OPT spesifik, tentunya mempunyai dampak pada ekologi lingkungan. Hama baru akan muncul dan kemungkinan bisa merubah tatanan/komposisi serangan hama yang sudah periodik diketahui petani lokal serta berpengaruh pada komoditas sayuran lain.


Teknologi Budidaya

Syarat Tumbuh

Tanaman bawang merah tumbuh optimal dengan ketinggian 0-400 m dpl, tempat terbuka tanpa naungan dengan pencahayaan kurang lebih 70%, bawang merah memerlukan sinar matahari cukup panjang, tiupan angin sepor-sepoi berpengaruh baik bagi tanaman terhadap laju fotosintesis dan pembentunkan umbi, bawang merah tumbuh baik pada tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik, jenis tanah lempung berpasir, pH 5,5-6,5, drainasi dan serasi dengan baik.

Bawang merah dapat ditanam di lahan pasang surut dengna membuat parit dengna ketinggian befengan atau diatas rata-rata air tanah, bawang merah memerlukan banyak air untuk pertumbuhan tapi tidak suka lahan yang becek atau tergenang.

Untuk lahan darat atau tegalan perlu disipakan sumur mata air dangkal (beje/tabukan) disekitar areal pertanaman untuk penyiraman.

Sesuai kondisi iklim di Kalsel pertanaman dapat dilaksanakan pada akhir musim hujan bulan April – Juni dan pada saat musim kemarau bulan Juli – Agustus.

Pengolahan Lahan

Lahan Pasang Surut/Sekitar Rawa

Dibuat bendungan arah Timur-Barat dengan lebar 100-175 cm dan panjang sesuai kondisi lahan, jarak antar bedengan 40 – 50 cm, kedalaman parit 50 – 60 cm. Tanah yang telah dicangkul kasar dilakukan pengeringan lebih dulu, untuk meningkatkan kesuburan, pengolahan lahan dilakukan 2-3 kali sehingga gembur dan struktur tanah di bedengan menjadi remah, untuk menaikkan pH dilakukan pengapuran dengan dolomit/kapatan ukuran 1 – 1,5 ton/ha diberikan pada olah tanah pertama.

Lahan Darat

Tanah dibajak/traktor atau dicangkul sedalam 20 -30 cm, kemudian dibuat bedengan setinggi 25-35 cm, lebar 100-150 cm, jarak antar bedengan 40-50 cm. Tanah diolah sampai gembur dan dilakukan pengapuran dengan takaran 0,5 – 1 ton/ha.

Persiapan Benih

Benih yang siap tanam ialah yang telah di simpan selama 2-3 bulan, umbi mempunyai titik-titik tumbuh akar atau telah muncul tunas-tunasnya. Selain itu umbi juga harus berasal dari tanaman yang sehat dan dipanen pada usia tua, yang ditandai dengan warna merah terang dan pada berisi (tidak kisut). Jika umbi terasa lunak atau kurang padat pada saat di pegang, berarti umbi tersebut berasal dari tanaman yang belum terlalu tuda saat dipanen.

Keperluan benih berkisar 0,8 – 1,2 ton/ha tergantung ukuran benih dan jarak tanam. Berat umbi dibedakan menjadi 3 kategori, yaitu: umbi ukuran kecil 2,5 – 5 g, sedang 5 – 7,5 g dan besar > 7,5 g. Untuk benih sebaiknya yang tidak terlalu besar (ukuran sedang). Umbi yang terlalu kecil akan mudah busuk jika ditanam, selain itu bibit yang berukuran kecil akan menghasilkan tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dan hasilnya sedikit. Umbi yang besar akan menghasilkan pertumbuhan yang cepat dan sehat namun harganya jauh lebih mahal.

Penanaman

Sebelum ditanam, kulit luar benih yang mengering dan sisa-sisa akarnya harus dibuang. Untuk umbi yang belum bertunas bagian ujung umbi dipotong dengan pisau kuran lebih 1/3 – 1/4 bagian dari panjang umbi. Saat memotong haruslah hati-hati agar tunasnya tidak ikut terpoton. Tujuan dilakukan pemotongan adalah agar umbi tumbuh merata, merangsang tumbuhnya tunas, mempercepat tumbuhnya tanaman, merangsang tumbuhnya umbi samping dan mendorong terbentuknya anakan. Sebelum umbi ditanam, luka bekas pemotongan harus dikeringkan terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya pembusukan.

Dibuat lubang-lubang menggunakan penugal kecil jarak tanam 15 x 15 cm atau 15 x 20 cm. Bibit dibenamkan 2/3, pabila terlalu dalam akan mudah mengalami pembusukan. Ujung umbi sedikit ditutup dengan tanah, jika terlalu tebal tanah yang menutupinya akan menghambat pertumbuhan tanaman. Setelah penanaman selesai, bedengan disiram dengan air, umbi akan terus tumbuh setelah 5-7 hari.

Pemupukan

Pupuk Dasar

Pupuk dasar diberikan 3-4 hari sebelum yakni pada olah tanah terakhir, komposisi pupuk berupa: pupuk organik (kotoran ayam) 5 ton/ha, SP-36 300 kg/ha, KCL 100 kg/ha dan Urea 50 kg/ha. Pemberian Ternik atau Furadan 3G sebanyak 20 – 5- kg/ha untuk nematisida dan hama dalam tanah.

Pupuk Susulan

Pemupukan dilakukan setelah pendangiran atau pembersihan gulma, pemberian pupuk diberikan disela tanaman dengan membuat larikan, pupuk dicampur dan aduk merata.
  • Pemupukan I (15 hari setalah tanam), Komposisi pupuk: Urea 50 kg/ha, KCL sebanyak 100 kg/ha dan ZA 100 kg/ha.
  • Pemupukan II (25 hari setelah tanam), komposisi pupuk: KCL 100 kg/ha dan ZA 300 kg/ha.
Pemeliharaan
  • Penyiangan dan pembersihan gulma dilakukan 3 kali yakni 2 minggu, 4 mnggu dan 6 minggu setelah tanam.
  • Penyiraman dilakukan 1-2 hari sekali atau apabila bedengan terlihat kering, penyiraman dilakukan pada bedengan langsung atau sistem leb atau penggenangan parit untuk lahan kering.
  • Penyiraman dihentikan 10 hari sebelum panen.
Hama dan Penyakit 

Hama
  • Lalat Pengorok Daun (Liriomyza chinencis) penyemprotan pestisida berbahan aktif bensultap, klofenapir dan siromazin
  • Ulat Bawang (Spodoptera exigua Hubn) penyemprotan dengan insektisida berbahan aktif pfofenofos, betasiflutrin, tiodikarb, karbofuran.
  • Trips (Thrips tabaci Lind dan Thrips pasvisipunus Karny) pengendalian dengan insektisida efektif yang berbahan aktif betaslifturin, piraklos.
Penyakit
  • Layu Fusarium (Fusarium oxysporum Hanz)
  • Bercak Ungu/Trotol (Alternaria porri)
  • Antraknosa (Collectrotichum gloeospoiroides)
  • Penyemprotan dengan fungisida: Dithane M45, Benelate, Antracol dan lainnya.
Panen dan Pascapanen

Panen ditandai dengan 70% daun menguning dan tanaman rebah, daun menguning serta leher umbi telah kosong, umbi tersembul keluar, dan kulit umbi sudah terbentuk (berwarna merah). Umur panen untuk setiap varietas berbeda berkisar antra 60-70 hst.

Panen diusahakan dilakukan saat udara cerah, cara panen dengan mencabut keseluruhan tanaman dan umbi secara hati-hati. Hasil panen diikat 1 – 1,5 kg setiap ikatan, pelayuan atau curing sebelum bawang merah dikeringkan di lahan dengan menjemur 2 -3 hari di bawah terik sinar matahari dengan posisi daun di atas.

Sebelum benih disimpan dilakukan pengeringan 7 – 14 hari di tempat pengeringan hingga sampai kering askip, dengna posisi umbi dan daun dibolak-balik. Untuk mengetahui kesiapan umbi kering askip yaitu menyimpan sedikit contoh dalam kantong plastik putih selama 24 jam, bila sudah tidak ada titik air dalam kantong, berarti sudah mencapai kering askip. Benih disimpan dengan cara menggantungkan ikatan-ikatan bawang merah pada para-para di gudang pada suhu 25-30 derajat celcius dan kelembapan 60 -80 %.

Budidaya Tanaman Sayuran Secara Hidroponik

Saat ini sudah banyak sekali bermunculan teknik-teknik penanaman yang inovatif dan modern dengan memanfaatkan teknologi. Salah satunya adalah dalam penanaman sayuran. Saat ini sudah banyak dikembangkan cara menanam sayuran hidroponik, yang ternyata juga bisa dilakukan di rumah-rumah. Apa itu hidroponik? Secara sederhananya, hidroponik dijelaskan sebagai cara menanam tanaman dengan air tanpa media tanah. Lalu bagaimana cara menanam sayur kalau tidak ada tanahnya?


Sangat bisa dinalar, karena selama ini tanah berfungsi sebagai penyangga tanaman dan sebagai pelarut unsur hara atau nutrisi dari air yang ada di dalam tanah dan nantinya akan diserap oleh tanaman. Dengan dmeikian, fungsi tanah bisa diganti dengan benda lain. Penemuan tersebut dinamakan sebagai hidroponik dan pertama kali ditemukan oleh W. A. Setchell dan W.F. Gericke dari University of California.

Cara Menanam Sayuran Secara Hidroponik

Jika tidak ditanam di ntanah, lalu sayurannya ditanam dimana? Jika dikategorikan berdasarkan dimana media tumbuh atau dimana sayurannya akan tumbuh, teknik hidroponik dibedakan menjadi tiga, yaitu:

Kultur Air

Teknik kultur air ini justru sudah ratusan tahun digunakan, yaitu dimulai pada abad ke-15 oleh bangsa Aztec. Mereka menggunakan sebuah metode dimana tanaman ditanam pada media tertentu selain tanah.

Akan tetapi media tempat mereka menanam tanah tersebut juga mengandung unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman sehingga tanaman juga bisa menyerap unsur hara tersebut meskipun tanpa media tanah.

Kultur Agregat

Media tanam yang satu ini berupa batu kerikil, pasir, dan sebagainya. Akan tetapi media tanam tersebut haruslah disterilkan dahulu sebelum digunakan sebagai media tanam.

Cara memberikan nutrisi kepada tanamannya adalah dengan mengalirinya menggunakan air yang mengandung nutrisi yang sudah ditempatkan dalam wadah.

NFT (Nutrient Film Technique)

Media cara menanam sayuran hidroponik yang digunakan dalam teknik NFT ini adalah sebuah “selokan” yang terbuat dari logam tipis yang tahan karat.

Kemudian pada selokan tersebut akan dialiri air yang sudah mengandung nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman.

Nah, diantara ketiga teknik menanam hidroponik tanpa menggunakan media tanah yang barusan sudah dijelaskan, pilihlah satu teknik yang menurut Anda paling efisien untuk menanam sayuran. Akan tetapi setelah itu sering muncul pertanyaan tentang apakah unsur hara atau nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman tercukupi jika menggunakan sistem hidroponik?

Perlu Anda ketahui bahwa ada beberapa faktor penting yang akan mempengaruhi tercukupi atau tidaknya nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman yang ditanam dengan sistem hidroponik, diantaranya:

Unsur Hara atau Nutrisi

Cara menanam sayuran hidroponik agar hasilnya maksimal jelas harus memperhatikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman. Nutrisi jelas sangat penting bagi tanaman yang ditanam secara hidroponik agar tanaman bisa tetap hidup dan tumbuh.

Untuk membuat larutan unsur hara atau nutrisi ini, Anda bisa membuatnya dengan cara melarutkan garam pupuk ke dalam air.

Media Tanam

Seperti yang tadi sudah dibahas di paragraf-paragraf selanjutnya, bahwa ada 3 teknik hidroponik yang menggunakan media tanam yang berbeda. Pilihlah media yang bisa membuat jumlah unsur hara atau nutrisi tetap cukup untuk tanaman dan tentu tidak berbahaya untuk tanaman.

Nah, selain dua hal tersebut, Anda juga harus memperhatikan pasokan air dan oksigen dalam sistem hidroponik yang Anda lakukan agar tanamannya bisa tumbuh secara maksimal. Demikian penjelasan tentang cara menanam sayuran hidroponik. Semoga informasi tadi bermanfaat untuk Anda.