Budidaya Tanaman Temu Hitam (Curcuma aeruginosa Roxb)

1. Persiapan lahan :

  • Bersihkan lahan dari gulma dan cangkul hingga kedalaman 20 – 30 cm untuk memperbaiki struktur tanah.
  • Biarkan lahan selama satu minggu setelah pengolahan.
  • Lakukan pemupukan dengan pupuk kandang atau kompos sebanyak 15 – 20 ton per hektar (tabur merata di lahan).
  • Buatlah bedengan dengan ukuran lebar 2 m dan sesuaikan panjangnya dengan kondisi lahan. Tinggi bedengan biasanya sekitar 25-45 cm dan jarak antar bedengan 30-50 cm.

2. Pembibitan :

Tanaman temu hitam dapat diperbanyak dengan rimpang ataupun memisahkan anakan dari rumpun.

A. Dengan rimpang :

  • Semai rimpang temu hitam dengan ditutupi tanah sedalam 10 – 15 cm pada tempat teduh dan lembab.
  • Siram persemaian pada saat pagi dan sore dan jaga agar tetap lembab.
  • Saat tunas muncul, potong-potong rimpang dengan ukuran cukup besar. Tiap rimpang sebaiknya terdiri dari 2-3 mata tunas.
  • Angin-anginkan rimpang di tempat teduh selama kurang lebih 2 hari sebelum ditanam.

B. Dengan anakan

  • Pisahkan anakan dengan menggali tanah disekitar anakan.
  • Potong rimpang yang menghubungkan anakan dengan induk.Anakan yang telah dipisahkan dapat langsung ditanam.

3. Penanaman :

  • Buatlah lubang tanam dengan jarak tanam 25 cm x 45 cm (dalam satu barisan 25 cm, dan antar barisan 45 cm). Kedalaman lubang tanam dibuat sekitar 20 cm.
  • Biarkan lubang terbuka selama 1 minggu.
  • Masukkan bibit dengan posisi tunas tegak, kemudian bumbun sampai rata dengan tanah.

4. Pemeliharaan :

  • Lakukan penyulaman 2 minggu setelah penanaman bila ada tanaman yang mati.
  • Apabila akar atau rimpang terlihat muncul di permukaan, lakukan pembumbunan.
  • Lakukan penyiangan dengan hati-hati secara manual.
  • Berikan pupuk susulan setelah tanaman berumur 6 bulan. Lakukan pemupukan setelah penyiangan.
  • Apabila tidak hujan, lakukan sistem leb untuk pengairan (genangi bedengan dengan air).

5. Pengendalian hama penyakit :

  • Musnahkan tanaman dengan cara memotong dan membakarnya agar tidak menular (biasanya hama berupa ulat Kerana diocles).
  • Kendalikan secara manual apabila hama masih sedikit.
  • Lakukan penyemprotan hanya apabila serangan sudah meluas. Sedapat mungkin gunakan pestisida nabati. (Bisa membuatnya dengan mengekstrak daun sirsak serbuk biji mimba yang dicampur dengan ekstrak brotowali).
  • Lakukan penyemprotan saat pagi (sebelum matahari terbit) atau sore hari. Atau bisa juga membuatnya dengan cara mengambil bahan dari rimpangnya, yang kemudian ditumbuk halus dengan dicampur air kencing sapi. Campuran ini diencerkan dengan air dengan perbandingan 1 : 2 – 6 liter. Gunakan untuk mengendalikan berbagai jenis serangga penyerang tanaman.

6. Pemanenan :

Temu-temuan merupakan tanaman semusim dengan umur rata-rata sembilan bulan. Di Jawa, temu-temuan selalu tumbuh pada awal musim penghujan, yang biasanya jatuh pada bulan Oktober. Tanaman ini sudah akan menghasilkan umbi yang bisa dipanen pada bulan Mei atau Juni. Namun, kualitas umbi yang benar-benar baik hanya bisa diperoleh dari panen umbi yang dilakukan pada bulan Juli.

Ketika itu daun dan batang semu tanaman sudah mongering, ketuaan umbi juga bisa dilihat dari penampilan rimpangnya sendiri. Rimpang yang telah tua berpenampilan gemuk, padat dengan sisik-sisik yang melingkarinya telah mengering. Dari satu rumpun tanaman, akan bisa dipanen bongkahan rimpang yang bisa langsung dipecah-pecah menjadi 4-5 bagian. Para petani biasanya menyeleksi rimpang yang cukup baik untuk benih. Ciri rimpang yang baik tersebut, selain ditentukan oleh diameter dan panjang, juga tingkat ketuaan dan ada tidaknya cacat.

Cara memanen :

  • Lakukan pemanenan saat bagian tanaman diatas permukaan tanah tampak mengering. Umur tanaman 10 bulan bila bibit berasal dari rimpang induk, atau 2 tahun bila bibit berasal dari rimpang anakan.
  • Gali tanah dengan garpu secara hati-hati.
  • Bersihkan rimpang dari tanah dan kotoran kemudian cuci dengan air hingga bersih.
  • Angin-anginkan rimpang hingga kering dari air.
  • Simpan rimpang di tempat yang bersih dan kering. 
Penjemuran hasil irisan rimpang empon-empon, paling baik dilakukan di atas anyaman bambu (widig) yang ditaruh di atas rak setinggi 1 m. Ukuran widig, lebar 1,5 m. dengan panjang sekitar 6 m. Penjemuran dengan wadah demikian akan menghasilkan kualitas rimpang kering paling baik. Setiap 2-3 jam, harus dilakukan pembalikan (pengadukan), agar proses pengeringan berlangsung lebih cepat dan kualitas umbi kering lebih baik. Untuk memperoleh irisan rimpang kering dengan kadar air 15%, diperlukan waktu pengeringan sekitar tiga hari dalam cuaca terik. Namun, agar kadar air mencapai 10%, rimpang kering tersebut perlu dikeringkan lagi dengan dryer. Baik dryer dengan sumber panas matahari, kayu, minyak bakar maupun listrik. Rimpang kering ini bisa langsung dipasarkan,

Pasca panen dan Prospek :

Rimpang yang telah bersih itu selanjutnya ditiriskan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-angin. Caranya dengan menghamparkannya di atas lantai yang bersih dan teduh. Tahap berikutnya, rimpang yang masih berkulit itu diiris dengan alat perajang. Alat ini berupa tempat untuk memasukkan rimpang, pisau perajang dan wadah penampung irisan.

Alat perajang ini bisa digerakkan secara manual dengan tangan, pedal sepeda (kaki) atau dengan mesin. Mesin perajang bisa bertenaga disel, bensin, dan tenaga listrik. Pilihan mesin perajang ini sangat ditentukan oleh volume rimpang temu-temuan yang akan dirajang. Semakin banyak volume temu-temuan yang akan dirajang, semakin diperlukan alat perajang yang lebih besar dengan mesin berpenggerak disel, bensin maupun listrik. Industri perajang komoditas pertanian umumnya menggunakan mesin berpenggerak listrik.

Mesin portable dengan penggerak disel atau bensin, sebenarnya juga akan menjadi sangat ekonomis. Syaratnya, volume rimpang yang akan dirajang cukup besar, sementara jarak areal penanaman dengan lokasi pengolahan cukup jauh. Dalam kondisi demikian, pembersihan rimpang, pencucian dan pengeringanginan, seluruhnya dilakukan di lokasi panen. Setelah itu mesin perajang bertenaga BBM diangkut ke lokasi. Demikian pula dengan widig dan rak untuk menjemur. Di lokasi lahan inilah dilakukan perajangan rimpang. Hasil irisan langsung dijemur di lokasi.

Ada dua kualitas irisan rimpang kering. Pertama, rimpang diiris langsung tanpa dikupas. Kedua, rimpang dikupas dan dicuci baru kemudian diiris. Irisan rimpang yang dikupas ini, langsung dijemur sampai kering. Harga irisan rimpang kering kupasan, lebih tinggi dibanding dengan yang tidak dikupas. Pengupasan rimpang temu-temuan, paling tepat dilakukan dengan pisau yang terbuat dari bambu. Tujuannya, agar diperoleh kupasan yang relatif bersih, namun daging umbi tidak ikut terpotong. Sebab yang akan dibuang dari permukaan rimpang hanyalah kulit ari tipis. Pengupasan dengan pisau akan potensial membuang daging umbi cukup banyak.

Temu hitam banyak dipasarkan dalam bentuk umbi utuh yang telah besar dan tua dalam kondisi masih segar. Akhir-akhir ini, industri farmasi modern juga sudah mulai membutuhkan ekstrak rimpang temu-temuan dalam volume yang juga cukup besar. Untuk bisnis dengan skala yang besar, lebih baik memasarkan dalam bentuk simplisia, yang umum digunakan sebagai bahan obat atau industri jamu.

Cara membuat simplisia temu hitam, seperti juga jenis tanaman obat tradisional lainnya. Rimpang temu hitam yang telah dipanen, dibersihkan dan dirajang, serta dikeringkan atau dijemur secara tidak langsung. Simplisia temu hitam dilingkungan industri jamu dikenal sebagai Curcumae aeruginosae Rhizome dengan beragam kandungan didalamnya seperti minyak atsiri, zat pati, dammar, lemak, tanin dan zat warna biru.

Dilingkungan pedesaan, temu hitam banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional yang cukup familiar ditelinga masyarakat. Generasi pendahulu banyak memanfaatkan temu hitam sebagai jamu penambah nafsu makan untuk anak-anak. Caranya rimpang temu hitam yang telah dicuci, diparut dan diperas dalam bungkusan kain yang bersih dan steril, sehingga keluar airnya dan minum secukupnya.

Banyak masyarakat Indonesia yang memanfaatkan temu hitam sebagai obat tradisional, diantaranya sebagai obat kudis, ruam dan borok. Untuk jenis penyakit ini, biasanya digunakan dalam bentuk tapal, caranya rimpang temu hitam ditumbuk dan dicampur minyak kelapa. Banyak juga jamu temu hitam yang digunakan sebagai zat penambah darah bagi ibu yang baru melahirkan. (Widyani, 2009).

Budidaya Secara In Vitro

Temu hitam dibudidayakan dengan cara perbanyakan tanaman (tunas) melalui kultur jaringan. Tanaman temu hitam ditanam didalam botol berisi media aseptik dan diperbanyak melalui subkultur secara berkala. Secara garis besar, perbanyakan melalui subkultur plantlet ini cukup mudah (plantlet : tanaman utuh dalam kultur in vitro). Tanaman ini dapat diperbanyak dengan memisahkan anakan dari rumpun induknya. Hanya saja kesulitan yang akan ditemukan ketika melakukan aklimatisasi (memindahkan tanaman dari dalam botol ke luar).

Pada beberapa spesies tanaman (temu-temuan) yang dipindahkan dari kulturin vitro menuju ex vitro, banyak yang belum mampu menghasilkan rimpang pada generasi pertama. Rimpang baru dapat diproduksi pada generasi kedua atau ketiga setelah efek dari media tanam in vitro dapat dinetralisir oleh tanaman.