Cara Perbanyakan Tanaman Jahe

Cara Perbanyakan Tanaman Jahe

Menurut para ahli, jahe (zingiber officinale, Rosc.) berasala dari Asia tropik yang tersebar dari India sampai Cina. Oleh karena itu, ke-dua bangsa ini disebut-sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat-obat tradisional. 

Cara Perbanyakan Tanaman Jahe
Cara Perbanyakan Tanaman Jahe
Bagian terpenting yang mempunyai nilai ekonomi pada tanaman jahe, adalah akar tongkatnya yang lebih dikenal dengan sebutan rimpang. Jika rimpang tersebut dipotong, nampak warna daging rimpang yang bervariasi, mulai putih kekuningan, kuning atau jingga tergantung pada klonnya. Pada umumnya rasa jahe pedas, karena mengandung senyawa gingerol. Kandungan gingerol dipengaruhi oleh umur tanaman dan agroklimat setempat di mana tanaman jahe tumbuh, sedangkan aroma jahe disebabkan oleh adanya minyak atsiri yang umumnya berwarna kuning dan sedikit kental. 

Rimpang jahe mengandung 0,8-3,3 % minyak atsiri dan + 3 % oleoresin, tergantung kepada jahe yang bersangkutan. 

Adapun zat-zat yang tergantung di dalam rimpangnya antara lain vitamin A, B dan C, lemak, protein, pati, damar, asam organik, oleoresin, gingerin, zingerol, zingiberin dan feladren. 

Salah satu upaya untuk memperoleh rimpang jahe yang tinggi dalam kuantitas dan kualitas adalah dengan pengadaan benih jahe yang tepat, baik dan sehat. 

Perbanyakan benih jahe dari keluarga zingiberaceae pada umumnya diperbanyak secara vegetatif, dengan memakai potongan-potongan rimpangnya. Secara sepintas cukup mudah mendapatkan bibit jahe, karena di Pasar kecil pun bisa diperoleh. Meskipun demikian, mengingat nilai ekonomis jahe terletak pada rimpang-rimpangnya, maka tidak boleh gegabah dalam memilih bibit. Persyaratan penting yang perlu dipenuhi oleh setiap Penangkar/ Petugas Benih/ Petani jika hasil rimpangnya akan dijadikan benih diantaranya sebagai berikut : 

1. Varietas jelas ;
Varietas jahe yang akan diperbanyak terlebih dahulu ditetapkan sesuai tujuan produksi. Tanaman jahe yang bertujuan untuk memproduksi rimpang segar, maka varietas jahe besar lebih sesuai dibandingkan dua varietas lainnya, sedangkan untuk membuat rempah-rempah dan minyak atsiri diutamakan varietas jahe merah. 

2. Umur cukup ; 

a. Bahan bibit diambil langsung dari Kebun (bukan dari Pasar jahe konsumsi) 

b. Dipilih bahan bibit dari tanaman yang sudah tua (berumur 9-10 tahun). 

Kandungan seratnya tinggi dan kasar, warna kulit mengkilap, menampakkan tanda bertunas serta dipilih pula dari tanaman yang sehat, tidak terluka atau lecet. 

3. Bebas Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) ;
Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus bebas dari OPT, seperti : 

a. Bakteri pseudimonas solanacearum, menyebabkan penyakit layu karena menyerang rimpang dan titik tumbuh. Untuk memusnahkan bakteri yang masih berada di luar kulit, digunakan bakterisida sebelum rimpang di tanam; 

b. Jamur rhizoctonia solani, menyebabkan penyakit layu, menyerang tanaman di lapangan terutama pada musim penghujan. Untuk mengatasi serangan jamur dapat dilakukan penyemprotan secara rutin dengan fungisida seperti cobox dan difolatan; 

c. Hama lalat rimpang mimegralla coerukitrons dan eumerus figurans, tanaman jahe mulai diserang hama ini setelah berumur 5 bulan. Serangan berat mengakibatkan tanaman layu dan kering, bibit rimpang rusak, sehingga rimpang terlihat utuh tetapi didalamnya lapuk seperti gumpalan tanah. 

4. Ukuran bersyarat dan kebutuhan benih ;
Ukuran bibit stek rimpang sedikitnya memiliki 3 mata tunas, panjang 3-7 Cm dan berat 25-80 Gram tiap potongnya. Sedangkan, kebutuhan bibit per hektar antara 1-3 Ton jahe segar dan kebutuhan tersebut tergantung pada ukuran bibit klon yang dipakai dan jarak tanam yang dipergunakan. 

5. Sortasi, penyimpanan dan pengujian ;
Untuk mendapatkan benih yang baik diperlukan beberapa tahap perlakukan pada rimpang yang baru di panen, yaitu sebagai berikut : 

a. Sortasi ;
Setelah tanaman jahe di panen, segera rimpangnya dibersihkan dari tanah maupun kotoran lainnya yang melekat, lalu rimpang-rimpang yang sudah bersih itu ditebar dan dikeringanginkan pada lantai jemur selama 4-6 hari, minimal 4 jam per hari dan setelah itu baru dilakukan sortasi.
Dasar sortasi adalah penampilan atau bentuk serta ukuran dan warna bibit. Ketika tahap ini dilakukan tidak satu pun rimpang yang tunasnya telah tumbuh. Setelah sortasi didapatkan tiga ukuran rimpang yaitu besar, sedang dan kecil. Juga kondisi rimpang tidak lecet atau memar, bersih dan bebas dari hama dan penyakit. Tujuan sortasi di samping mendapatkan jaminan kepastian mutu bibit juga keaslian maupun keseragaman. 

b. Penyimpanan ;
Setelah bibit di sortasi, selanjutnya dilakukan penyimpanan. Sebaliknya di cari tempat yang teduh namun kering dan tidak langsung kena sinar matahari guna menyimpan bibit tadi. Cara penyimpanan cukup dengan ditumpuk tapi tetap memperhatikan sirkulasi udara. Penumpukan yang terlalu tebal justru akan merangsang tumbuhnya cendawan. 

c. Pengujian ;
Perlakuan terakhir adalah pengujian, yang pada umumnya jarang atau tidak pernah dilaksanakan padahal sangat menentukan. Dasar pengujian memperhatikan dua hal yaitu kesehatan bibit dan daya tumbuhnya.
Bibit yang sehat adalah bibit yang tidak menunjukkan gejala berlendir atau membusuk dan tidak pula terdapat bercak-bercak baik pada kulit rimpang maupun pada bagian dalamnya.
Pengujian daya tumbuh dilaksanakan dengan pengambilan sampling bibit, kemudian di tanam pada media yang telah disiapkan.Apabila daya tumbuhnya minimal 85 % di mana tunas telah mengeluarkan daun pertama, berarti telah lolos dari tahap pengujian. 

6. Penanaman untuk benih ;
Untuk memproduksi benih yang bermutu diusahakan di suatu tempat yang memiliki keadaan lingkungan (air, tanah dan keamanan) yang mendukung keberhasilan perbenihan. Pertanaman tersebut memerlukan : 

a. Pengolahan tanah dan pemupukan yang tepat, pupuk kandang 20-25 Ton/ Ha + TSP 200 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha; 

b. Pupuk susulan pertama dilakukan pada umur 40-60 HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha + KCL 60-100 Kg/ Ha; 

c. Pupuk susulan ke-dua dilakukan pada umur 3 bulan HST, di mana diberikan Urea 65-100 Kg/ Ha; 

d. Penyiraman dilaksanakan pada waktu air tidak mencukupi (tidak turun hujan); 

e. Pemeliharaan dari gangguan OPT; 

f. Penggunaan bahan tanaman yang tidak tercampur kotoran/ varietas lain. 

7. Persemaian sementara ;
Kegiatan terakhir dalam penanganan benih jahe adalah seleksi benih di persemaian. Semua rimpang benih ditunaskan dahulu dalam persemaian atau tempat yang memenuhi persyaratan untuk memacu pertumbuhan mata tunas. Tempat penunasan harus bersih dan sehat kondisinya dan selalu tersedia air setiap saat untuk penyiraman.
Salah satu cara menunaskan rimpang adalah menggunakan alang-alang dan jerami kering, dengan cara : 

a. Rimpang disusun berlapis-lapis di antara jerami maksimal 5 lapis; 

b. Penyiraman menurut kebutuhan serta dijaga agar persemaian tetap basah; 

c. Penunasan dianggap cukup bila semua/ sebagian besar tunas sudah tumbuh 1-2 cm; 

d. Rimpang dipotong-potong dengan pisau sesuai ukuran dengan jumlah mata tunas paling sedikit dua; 

e. Benih terpilih direndam dalam larutan agrymicin 0,1 % selama + 10 jam dan dikeringanginkan + 6-10 jam, kemudian ditaburi abu dapur untuk melindungi bekas sayatan pisau dari cuaca dan Organisme Penggangu Tanaman.