Syarat Tumbuh Tanaman Purwoceng

Purwoceng (Pimpinella pruatjan) merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia, tanaman purwoceng dapat tumbuh dengan baik di dataran tinggi. Habitat alami purwoceng berada pada ketinggian 1.800 - 3.500 m dpl. (HEYNE,1987). Purwoceng tercatat sebagai tumbuhan langka, sehingga tidak dapat digunakan dalam produksi obat, kecuali sudah dibudidayakan. 

Daerah pengembangan budidaya purwoceng saat ini hanya di Dataran Tinggi Dieng dengan luasan terbatas, pada ketinggian 1.850 -2.050 m dpl., dan suhu antara 15 -21°C (RAHARDJOet al.,2006). Sampai saat ini purwoceng dibudidayakan secara terbatas di habitat aslinya di Gunung Dieng di Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara (Rahardjo2005). 

Pertumbuhan tanaman purwaceng dapat tumbuh dengan baik dan optimal bila kandungan hara P tinggi. Pada umumnya di dataran tinggi mempunyai kandungan hara P rendah, rendahnya kandungan hara P yang tersedia pada tanah kemungkinan disebabkan oleh tingginya daya serap P tanah tersebut.

Untuk mengkaji dan mengatasi masalah unsur P yang susah tersedia bagi tanaman khususnya purwoceng pada tanah Andosol dan potensi pemanfaatan mikoriza bagi pertumbuhan purwoceng, maka pada penelitian ini dipelajari pengaruh kombinasi aplikasi mikoriza dan pupuk P terhadap pertumbuhan purwoceng sekaligus untuk mendapatkan dosis kombinasi aplikasi P dan mikoriza yang optimal bagi produksi dan mutu simplisia purwoceng.

Sebagai contoh penelitian budidaya purwoceng dalam usaha meningkatkan ketersediaan hara P, produktivitas, dan mutu tanaman purwoceng, diperlukan teknologi pemupukan yang tepat. Untuk mencapai tujuan tersebut sebuah penelitian yang mengaplikasikan pemupukan P dan mikoriza yang dilaksanakan di KP. Gunung Putri, Cianjur dengan ketinggian tempat (1.500 m dpl) yang menggunakan pot berisi 10 kg tanah Andosol dan pupuk kandang. Penelitian pemberian pupuk P dan mikoriza pada dosis 30 g mikoriza/pot mampu meningkatkan produktivitas tanaman purwoceng dan mampu meningkatkan kadar bahan aktif masing-masing sitosterol 22, stigmasterol 44, saponin 8,2 dan bergapten 19% simplisia purwoceng. 

Tanaman purwoceng merupakan tanaman obat yang berkhasiat afrodisiak, bagian tanaman yang paling berkhasiat adalah akarnya yang mengandung senyawa turunan sterol, saponin dan alkaloida (Rifai 1990). Sidik et al. (1975) menambahkan bahwa akar purwoceng juga mengandung turunan senyawa kumarin yaitu senyawa bergapten, isobergapten dan saponin. Senyawa tersebut banyak digunakan dalam industri obat modern sebagai obat analgetika, anti piretika, sedativa, anthelmitika, anti fungi, anti bakteri dan anti kanker. Selain jaringan akar, Rostiana et al.(2003) melaporkan bahwa daun purwoceng juga mengandung beberapa komponen bahan aktif yang tidak berbeda dengan akarnya terutama senyawa alkaloid, kumarin dan saponin. Bahkan beberapa senyawa dari golongan glikosida dan triterpenoid-steroid pada jaringan daun lebih tinggi dibandingkan di dalam akar. Lebih lanjut Djazuli dan Pitono (2009) menyampaikan bahwa kadar sitosterol di dalam daun lebih besar dibanding akarya. 

Purwoceng dikenal memiliki khasiat afrodisiak (meningkatkan kemampuan seksual) pada pria dan telah lama digunakan di dalam ramuan obat tradisional. Seduhan purwoceng juga digunakan sebagai tonik untuk meningkatkan stamina tubuh (HEYNE,1987). Dengan khasiat yang dimilikinya, purwoceng berpotensi untuk dikembangkan