Ulasan Seputar Tanaman Purwoceng

Purwoceng merupakan tanaman herba parennial. Tanaman Purwoceng berakar tunggang. Akar bagian pangkal semakin lama akan bertambah ukurannya seolah membentuk umbi seperti gingseng, tetapi tidak sebesar umbi gingseng. Habitus tanaman membentuk rosset dan tangkai daun berada di atas permukaan tanah. Tajuk tanaman menutupi permukan tanah hampir membentuk bulatan dengan diameter tajuk berkisar 36-45 cm setiap tanaman. Tangkai daun tumbuh rapat menutupi batang tanaman. Batang tanaman tidak terlihat seolah tidak ada. Jumlah tangkai berkisar 22-27 buah / tanaman. Pangkal tangkai biasanya berwarna kecoklatan, sebagian kecil saja yang berwarna merah kehijauan. Panjang tangkai daun berkisar 18-26 cm.Daun tanaman majemuk menyirip ganjil. Anak daun tumbuh di di sepanjang tangkai daun dengan kedudukan saling berhadapan. Bentuk anak daun membulat dengan pinggir bergerigi. Warna permukaan daun hijau dan permukaan bawah hijau keputihan.

Bunganya majemuk membentuk payung. Setiap tanaman mempunyai sekitar 4-9 tangkai bunga primer. Setiap tangkai primer rata-rata memiliki 4-5 tangkai sekunder. Sementara setiap tangkai sekunder mempunyai rata-rata 4-10 tangkai tersierdan tangkai tersier mempunyai 8-10 tandan bunga. Setiap tandan bunga yang berbentuk payung tersebut terdapat 8-15 bunga yang akan membentuk biji. Dengan demikian satu tanaman menghasilkan 1.500-2.500 biji. Biji yang telah masak berwarna hitam, ukurannya kecil. Termasuk tanaman berumah satu dan dapat menyerbuk silang.

Purwoceng merupakan tanaman afrodisiak asli Indonesia. Purwoceng hidup sebagai tanaman liar yang tumbuh di bawah tegakan hutan। Tanaman ini banyak diburu orang termasuk industri jamu dan obat sebagai bahan baku untuk meningkatkan vitalitas pria। Harga herbanya sangat mahal karena keberadaannya dahulunya termasuk langka. Namun, sekarang tanaman ini telah dibudidayakan dan sangat mudah di dapatkan. Tanaman Purwoceng telah banyak dibudidayakan di Dieng, Desa Sikunang, Kabupaten Wonosobo. Namun, kini telah mampu tumbuh di luar habitat aslinya yang mempunyai kemiripan dengan habitat asli Purwoceng di Dieng. Di daerah Sunda, Purwoceng disebut juga antanan gunung. Sementara di daerah lain dikenal dengan sebutan suripandak abang, gebangan depok, Purwoceng, dan rumput dempo ( Jawa ). Purwoceng merupakan tanaman endemik asli Indonesia. Di daerah Jawa Tengah terdapat di pegunungan Dieng, sedangkan di Jawa Barat ditemukan banyak tumbuh di Gunung Galunggung dan Gunung Gede Pangrango.

Purwoceng merupakan tanaman daerah dataran tinggi, yaitu tumbuh pada ketingian 1।800 – 3.300 diatas permukaan air laut (dpl). Tanaman tumbuh subur pada ketinggian sekitar 2.000 m dpl dengan kondisi tanah yang subur dan gembur, suhu udara berkisar 60 – 70 %, serta curah hujan diatas 4.000 mm/tahun. Untuk pertumbuhannya, selain memerlukan tanah yang gembur dan subur tetapi juga diperlukan tanah yang kaya organik dengan pH tanah 5,7 – 6,0. tanaman tidak tumbuh baik pada tanah dengan struktur liat. Untuk tanah yang kurang subur memerlukan pemupukan, terutama pupuk oraganik.

Populasi tanaman Purwoceng di Indonesia sangat sedikit sekali. Karena tanaman ini tergolong kedalam tanaman yang dikategorikan hampir punah (endangered). Semula Purwoceng diperkirakan hanya dapat tumbuh di daerah habitat aslinya di Pegunugan dataran tinggi Dieng. Berdasarkan hasil survei pada awal tahun 2003, Purwoceng Hanya ditemukan di Dieng, Desa Sikunang, Kabupaten wonosobo (Rahardjo 2005). Di sana hanya beberapa petani yang membudidayakan dan peduli terhadap tanaman ini. Mereka menanamnya ditepi-tepi rumah dengan skala yan sangat sempit. Hal tersebut disebabkan keterbatasan bibit dan harga herbal sangat mahal. Namun kini Purwoceng kini sudah dapat dikembangbiakkan di daerah lain yang memiliki tempat yang mirip habitat aslinya, dan sudah dikembangkan oleh petani-petani di luar habitat aslinya.

Sumber : Berbagai Sumber