Budidaya Tanaman Wortel

Persyaratan Benih dan Penyiapan Benih.

Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus memenuhi syarat sebagai berikut:
  • Tanaman tumbuh subur dan kuat.
  • Bebas hama dan penyakit/sehat.
  • Bentuknya seragam.
  • Dari jenis yang berumurpendek.
  • Berproduksi tinggi.
Duryatmo, 2006 dalam (Keliat, 2008), mengatakan bahwa Wortel dikembangkan dengan bijinya. Biji ini disemaikan ditanah yang subur dan genbur. Bila tanahnya tidak gembur akan terbentuk umbi yang tidak sempurna. Zacky dan Zhif (2010), menambahakan cara penyemaian benih yang baik yaitu Biji wortel yang ditaburkan langsung ditempat penanaman, dapat disebarkan merata di bedengan atau dicicir memanjang dalam barisan. Jarak barisan paling tidak 15 cm, kemudian kalau sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lain. Kebutuhan benih untuk penanaman setiap area antara 1500-200 gram. Para petani sayuran jarang menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel akan berkecambah setelah 8-12 hari.

Penyiapan Lahan

Lokasi untuk kebun wortel sebaiknya sebaiknya dipilih lahan bukan bekas tanaman sefamili, seperti Petroseli ataupun Seledri. Paling baik adalah lahan bekas tanaman kubis, kentang dan sayuran lain agar tanahnya masih subur, sehingga tidak mutlak perlu menambahkan lagi pupuk organik (anonim).

a. Persiapan Lahan
  • Mula – mula tanah di cangkul sedalam 40cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos sebnayak 15 ton setiap hektarnya. tanah yang telah diratakan dan dibuat alur sedlam 1 cm dan jarak antara alur 15-20 cm.
  • Areal yang akan di jadikan kebun wortel, tanahnya diolah cukup dalam dn sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 20 ton/ha, baik dicampur maupun menurut larikan sambil meratkan tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk bedengan – bedengan selebar 100cm dan langsung dibuat alur – alur/ larikan jarak 20 cm, hingga siap ditanam.
b. Pembukaan Lahan.
  • Membuka Lahan. Babat pohon – pohon atau semak – semak maupun tanaman lain yang tidak berguna. Bersihkan lahan dari rumput – rumput liar (gulma), batu kerikil dan sisa tanaman lain.
  • Mengolah Tanah. Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan alat bantu cangkul, bajak traktor. Biarkan tanah di kering anginkan selama minimal 15 hari, agar keadaan tanah benar – benar matang.
c. Pembentukan Bedengan .

Olah Tanah untuk kedua kalinya dengan cangkul hingga struktur tanah bertambah gembur. Buat bedengan – bedengan dengan ukura lebar 120 – 150 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antara bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.

Penanaman.

Benih wortel langsung di tanam (disebar) di kebun tanpa melalui persemaian terlebih dahulu. Waktu tanam wortel yang paling baik adalah pada awal musim hujan. Meskipun demikian, dapat saja wortel di tanam sepanjang musim atau tahun asalkan keadaan airnya memadai.

Untuk memudahkan penaburan benih, sebaiknya di lakukan pencampuran benih wortel dengan pasir (1:1). Tatacara penanaman (penaburan) benih wortel sebagai berikut:
  • Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur – alur atau garitan – garitan yang tersedia.
  • Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5 – 1 cm.
  • Buat alur – alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang) untuk meletakan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran TSP ± 400 kg (± 200 kg P2 O5 /ha) dengan KCL 150 kg (± 75 kg K2 O/ha).
d. Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.

e. Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran) air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di permukaaan tanah, penutup tadi segera dibuka kembali.

Pertumbuhan awal tanaman wortel berlangsung lambat karena kemunculan kecambah dapat beragam dari 7 sampai lebih 20 hari, dan daun sejati pertama tidak berkembang hingga 3-4 minggu setelah tanam. Pertumbuhan yang lamabat ini akan menyebabkan tanaman wortel tidak dapat bersing dengan gulma yang tidak dikendalikan, dapat dengan mudah mengalahkan kecambah wortel. Akar tunggang, awalnya panjang, ramping, tumbuh vertikal, mulai memanjang dengan cepat dan mencapai panjang potensialnya dalam 12-24 hari setelah berkecambah (Rubatzky et.al, 1998).

Pemiliharaan Tanaman

a. Penyiraman

Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secara kontinu 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar, maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus di perhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.

Cara pengairan (penyiraman) adalah dengan di-leb atau disiram menggunakan alat bantu gembor (embrat). Waktu penyiraman sebaiknya pada pagi atau sore hari, saat suhu udara dan terik matahari tidak terlalu tinggi.

b. Penjarangan Tanaman.

Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Tujuan penjarangan adalah untuk memperoleh tanaman wirtel cepat tumbuh dan subur, sehingga hasil produksinya dapat tinggi.

c. Penyiangan

Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing tanaman wortel dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain – lain, sehingga harus disiangi. Waktu penyiangan biasanya saat tanaman wortel berumur 1 bulan, bersamaan dengan penjarangan tanaman dan pemupukan susulan. Cara menyiangi yang baik adalah membersihkan rumput liar dengan alat bantu kored/cangkul. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Tanah di sekitar digemburkan, kemudian ditimbunkan ke bagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya tertutup oleh tanah.

Pemupukan susulan

Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah Urea atau ZA. Dosis pupuk yang dianjurkan adalah Urea 100 kg/hektar atau ZA 200 kg/hektar.

Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan.

Cara pemupukan yang baik adalah degan menyebarkan secara merata dalam alur – alur atau garitan – garitan dangkal atau dimasukkan ke dalam lubang pupuk (tugal) sejauh 5-10 cm dari batang wortel, kemudian segera ditutup dengan tanah dan disiram atau diairi hingga cukup basah.

Pengairan dan Penyiraman.

Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secra kontinue 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus diperhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.

Waktu Penyemprotan Pestisida

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunkan inteksida Furadan 3 G atau Indofuran 3G pada saat tanam atau di semprot Hostathion 40 EC dan lain – lain pada konsentrasi yang dianjurkan.

Hama dan Penyakit Tanaman Wortel.

a. Hama

1. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)

Hama ini sering disebut uler lutung (Jawa) atau hileud taneuh (Sunda) dan “Cutworms” (Inggris). Serangga dewasa berupa kupu – kupu berwarna coklat tua, bagian sayap depannya bergaris – garis dan terdapat titik putih.

Stadium hama yang merugikan tanaman adalah ulat atau larva. Ciri ulat tanah adalah bewarna coklat sampai hitam, panjangnya antara 4-5 cm, dan bersembunyi didalam tanah.

Ulat tanah menyerang bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman yang masih muda. Akibat serangan, tanaman layu atau terkulai, terutama pada bagian tanaman yang dirusak hama.

Pengendalian hama secara non kimiawi dapat dilakukan dengan mengumpulkan ulat pada pagi atau siang hari, dari tempat yang dicurigai bekas serangannya untuk segera dibunuh, menjaga kebersihan kebun, dan pergiliran tanaman.

Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektida Furadan 3 G atau Indofuran 3 G pada saat tanam atau di semprot Hostthion 40 EC dan lain – lain pada konsentrasi yang dianjurkan.

2. Kutu Daun (Aphid, Aphis spp.)

Kutu daun dewasa bewarna hijau sampai hitam, hidup berkelompok di bawah daun atau pada pucuk tanaman. Hama ini menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun keriting atau abnormal.

Kutu daun bersifat polifag, artinya dapat menyerang berbagai jenis tanaman. Serangan paling berat terjadi pada musim kemarau.

Pengendalian kutu di antara lain dengan mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan lahan untuk memutuskan siklus hidupnya atau disemprotkan dengan inteksida yang mangkus seperti Decis 2,5 EC dan lain – lain yang teteran di labelnya.

3. Lalat atau magot (Psila rosae)

Stadium hama yang sering merusak tanaman wortel adalah larvanya. Larva masuk ke dalam umbi dengan cara menggerek atau melubanginya.

Pengendalian hama lalat antara lain dengan cara pergiliran tanaman dengan jenis yang tidak sefamili atau disemprot inteksida Decis 2,5 EC dan lain – lain

b. Penyakit Tanaman Wortel.

1. Bercak daun Cercospora.

Penyebabnya : cendawan (jamur) Cercospors carotae (Pass.) Solheim.

Gejala : pada daun – daun yang sudah tua timbul bercak – bercak berwarna coklat muda atau putih dengan pinggiran bewarna coklat tua sampai hitam.

Pengendalian : untuk mengendalikan penyakit ini dapat dilakukan cara – cara sebagai berikut : Disinfeksi benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil selama 5 menit, pegiliran tanaman dengan jenis lain yang ridak sefamili, pembersih sisa- sisa tanaman dari sekitar kebun, penyemprotan fungisida yang mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2%.

2. Nematoda bintil akar.

Penyebab : penyebabnya adalah mikroorganisme nemtoda Sista (Heterodera carotae).

Gejala serangan : umbi dan akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, yakni berbenjol – benjol abnormal.

Pengendalian : pengendalian nematoda antar lain dengan cara pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili, pemberaan lahan dan penggunaan nematisida seperti Rugby 10 G atau Rhocap 10 G.

3. Busuk Alternaria

Penyebab : cendawa Alternaria dauci Kuhn.

Gejala serangan : pada daun terjadi bercak – bercak, bewarna coklat tua sampai hitam yang di kelilingi oleh jaringan berwarna hijau – kuning (klorotik), pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya, kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam

Pengendalian : cendawan ini dapat bertahan hidup pada biji dan sisa-sisa tanaman yang sakit, sehingga cara pengendaliannya sama dengan cara yang dilakukan pada Cercospora.