Hama Tanaman Kencur dan Pengendalianya

Tanaman kencur dibudidayakan untuk diambil hasil rimpangnya dan akan digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu), fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan campuran saus, rokok pada industri rokok kretek. Oleh karena itu, tanaman kencur harus tumbuh normal dan sehat, agar menghasilkan rimpang yang bermutu. Tanaman yang tumbuhnya tidak normal dapat disebabkan karena terserang hama tanaman. Lalat Rimpang Mimegralla coeruleifrons

Hama tanaman yang sering menyerang tanaman kencur dan cara pengendaliannya dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Hama Lalat Rimpang Mimegralla coeruleifrons Macquart

Lalat ini termasuk ordo Diptera dan family Micropezidae. Tanaman inangnya selain kencur adalah jahe, kunyit, temulawak, dan temu ireng. Gejala serangan ditunjukkan adanya lalat rimpang dewasa yang terbang di sekitar pertanaman kencur. Setelah 8 - 10 hari tanam, terlihat menguning dan mongering yang dimulai dari daun sebelah bawah kemudian diikuti seluruh daun. Serangan berat mengakibatkan tanaman kencur layu dan kering, sedangkan rimpangnya keropos. Cara pengendaliannya dapat dengan kultur teknis, biologis, dan kimiawi.

Pengendalian dengan cara kultur teknis, sebagai berikut: 1) Tidak menanam kencur bercampur dengan tanaman rimpang lainnya; 2) Menggunakan benih rimpang yang sehat; 3) Mengupayakan pertumbuhan tanaman kencur sehat, bebas dari serangan penyakit layu atau penyakit lainnya; 4) Meminimalkan pelukaan pada akar dan rimpang, karena lalat dewasa tertarik pada bau busuk akibat luka atau terserang penyakit; 5) Tanaman kencur ditumpangsari dengan tanaman nilam dapat menekan populasi lalat rimpang. Penggunaan tanaman nilam sebagai barier/pencegah; dan 6) Sanitasi dengan membersihkan sisa-sisa tanaman dan memusnahkannya.

Pengendalian dengan cara biologis dengan memanfaatkan musuh alami parasitoid larva-pupa Trichopria sp. (Diapriidae, Hymenopreta), dan cendawan Beauveria bassiana yang menginfeksi larva.

Pengendalian secara kimiawi dengan menggunakan insektisida sintetik dan nabati untuk mengendalikan lalat dewasa. Insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian untuk OPT kencur belum ada.

2. Hama Kutu Perisai Aspidiella hartii Gr.

Hama ini termasuk ordo Homoptera dan family Diaspididae. Adapun tanaman inangnya selain kencur adalah jahe, kunyit, temulawak, gadung, dan suweg.
Gejala serangan terlihat adanya kutu-kutu berbentuk perisai menempel pada permukaan rimpang dan dibawah sisik rimpang, sehingga mampak tidak rata dan kusam. Serangan hama ini dari segi produksi tidak berkurang, namun dari segi mutu terutama untuk rimpang segar yang akan diekspor dapat ditolak. Hal ini akan mengakibatkan kerugian yang besar. Selain gejala tersebut, umumnya menyerang dipertanaman kencur dan berlanjut berkembang baik di tempat penyimpanan. Cara pengendaliannya dapat dengan kultur teknis, biologis, fisik/mekanis, dan kimiawi.

Pengendalian secara kultur teknis, antara lai: 1) Penggunaan benih tanaman kencur yang bersih dan sehat; 2) Memutuskan siklus hidup OPT dengan pergiliran tanaman bukan tanaman inang; 3) Penggunaan varietas tahan; 4) Memutuskan siklus hidup OPT dengan pergiliran tanaman bukan tanaman inang; 5) Sortasi hasil panen yang sehat; 6) Menyimpan hasil panen di tempat yang memenuhi syarat, yaitu bersih dan tidak lembab.

Sedangkan pengendalian secara biologis dapat memanfaatkan musuh alami parasitoid Phycus sp. (Adhelinidae, Hymenoptera) dan Adhelencyrtus moderatus Howard (Encyrtidae, Hymenoptera) serta dua jenis tungau pemakan kutu.

Kemudian pengendalian cara fisik/mekanis, antara lain: 1) Menaburi rimpang dengan abu untuk rimpang yang akan disimpan/ditanam; dan 2) Menyikat permukaan rimpang dengan sikat halus untuk menghilangkan kutu yang menempel di permukaan rimpang, terutama untuk rimpang yang diekspor.

Cara kimiawi dapat dilakukan dengan perlakuan benih dan meredam hasil panen dengan larutan insektisida yang terdaftar dan diizinkan Menteri Pertanian.