Budidaya Jamur Tiram Skala Rumah Tangga

Jamur tiram merupakan salah satu jenis jamur yang cukup mudah dibudidayakan. Penyesuaian terhadap kondisi tidaklah terlalu sulit. Usaha jamur tiram mudah dijumpai di mana-mana dan telah banyak diusahakan dalam skala kecil/rumah tangga, baik hanya mengusahakan pembiakan bibitnya dan kemudian menjualnya atau mulai membibitkan hingga membudidayakannya. Beberapa jenis jamur tiram yang dapat dibudidayakan terlampir.

1. Persiapan bibit

Untuk mendapatkan produk panen yang baik diperlukan bibit yang baik, dan perlakuan selama masa pemeliharaan. Ada dua cara untuk memperoleh bibit jamur tiram, yakni dengan membuat sendiri melalui pembiakan bibit murni untuk mendapatkan bibit F1 atau dengan membeli bibit F2, F3, atau F4 dari pembudidaya atau instansi penyedia bibit.

2. Tahap budidaya

Untuk budidaya digunakan Bibit generasi ke 4 atau F4. Tahapan dalam budidaya jamur tiram di antaranya adalah sebagai berikut.
  • Menyiapkan media tanam. Media tanam yang bisa digunakan sebagai media tumbuh jamur tiram adalah kombinasi dari serbuk gergaji kayu (80%), bekatul (10-15%), kapur CaCO3 (3%), dan air secukupnya (kandungan 40-60%).
  • Fermentasi media tanam. Kegiatan ini penting dilakukan sebelum media digunakan untuk menanam jamur. Caranya media tersebut didiamkan selama 5-10 hari atau disesuaikan dengan kondisi bahan. Tujuannya adalah agar terjadi proses pelapukan/pengomposan pada media.
Selama proses fermentasi, suhu media akan meningkat hingga mencapai 70oC, dan selama itu pula dilakukan pembalikan media setiap harinya agar proses pelapukan bisa merata di semua bagian media. Selain mempercepat pelapukan, fermentasi juga bertujuan untuk mematikan jamur liar yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur tiram. Media yang siap digunakan ditandai dengan berubahnya warna media menjadi cokelat atau kehitaman.

3. Sterilisasi

Media tanam yang telah difermentasi dapat dimasukkan ke dalam kantong plastik jenis polipropilen. Media tersebut kemudian dipadatkan hingga berbentuk seperti botol (baglog). Selanjutnya, pada bagian atas plastik (leher kantong plastik) dipasang ring, disumbat menggunakan kapas, dan dipasang penutup baglog agar air tidak masuk ke dalam kantong pada saat pengukusan.

Setelah baglog siap, proses sterilisasi dapat dilakukan, yakni dengan cara mengukusnya. Wadah pengukus paling sederhana yang dapat digunakan adalah drum. Satu drum dapat memuat sekitar 60 baglog. Prinsip kerja sterilisasi adalah memanfaatkan panas uap air pada suhu 95o-110oC dalam waktu 8-10 jam. Ketika suhu pengukusan telah mencapai 100oC, pertahankan selama 5 jam. Biasanya waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu 100oC adalah 3 jam, tergantung dari kestabilan api di tungku. Selanjutnya, wadah pengukus dibuka dan didiamkan selama 5 jam agar suhu media tanam dalam baglog kembali normal.

4. Inokulasi

Baglog yang telah disterilisasi sebaiknya dipindahkan ke tempat inokulasi dan didiamkan selama 24 jam untuk mengembalikannya ke suhu normal. Ruangan inokulasi harus dalam keadaan steril dan memiliki sirkulasi udara yang baik. Hal ini penting untuk meminimalisir tercemarnya baglog dari spora patogen atau bakteri. Berikut tahap-tahap pengisian bibit ke dalam baglog:
  • Ambil botol bibit F3, lalu semprotkan alkohol ke botol tersebut. Panaskan sebentar mulut botol di atas api spiritus hingga sebagian kapas terbakar, lalu matikan api.
  • Setelah kapas penyumbat botol bibit dibuka, aduk-aduk menggunakan kawat yang sudah disterilkan di atas api.
  • Masukkan bibit dari botol ke baglog hingga leher baglog penuh, lalu tutup kembali dengan kapas. Setiap baglog diisi sekitar 10 g bibit.
5. Inkubasi

Inkubasi atau pemeraman bertujuan agar bibit yang telah diinokulasi segera ditumbuhi miselium. Untuk menunjang pertumbuhan miselium pada jamur tiram, idealnya ruang inkubasi memiliki suhu 24o-29oC, kelembapan 90-100%, cahaya 500-1000 lux, dan sirkulasi udara 1-2 jam. Setelah 15-30 hari masa inkubasi, biasanya miselium sudah tumbuh hingga separuh bagian baglog. Bila miselium telah memenuhi baglog, pertanda baglog siap dipindahkan ke rumah kumbung untuk dibudidayakan hingga proses pemanenan. Namun, bila dalam waktu 1 bulan dari masa inkubasi baglog tidak ditumbuhi miselium, berarti proses inokulasi yang dilakukan tidak berhasil.