Budidaya Tanaman Cabe (Capsium annum L)

Cabai merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang umumnya digunakan sebagai bumbu masakan dan dikonsumsi dalam bentuk segar. Penggunaan cabai merah dalam bentuk olahan masih terbatas sebagai saus sambal, tepung dan acar. Cabai merah dapat dibudidayakan baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Sebagai famiiia Solanaceae cabai merah umumnya lebih potensial untuk dikembangkan di daerah dataran rendah.

Tanaman cabai merah tidak memerlukan persyaratan hidup yang khusus sehingga dapat dibudidayakan diberbagai daerah, dan biasanya dilakukan oleh petani secara sederhana pada lahan sawah atau lahan kering dengan pemilikan yang terbatas. Pengembangan cabai merah dalam skala komersial' atau agribisnis baru dilakukan secara terbatas oleh perusahaan-perusahaan swasta untuk memenuhi kebutuhan pasar khusus seperti pasar swalayan, hotel-hotel, restoran atau untuk industri.

Cabai merah dapat tumbuh baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi (0-1300 m dpl), cabai merah membutuhkan keadaan udara yang kering, sedangkan cabai rawit dapat ditanam baik pada musim kemarau maupun musim hujan. Curah hujan optimal yang dibutuhkan oleh cabai merah adalah 100-200 mm/bulan. Tanah yang baik untuk penanaman cabai merah adalah tanah yang kaya humus, gembur, keasaman tanah 5-7. Sedangkan suhu yang baik untuk pertumbuhan cabai merah adalah 18-27°C.

TEKNOLOGI BUDIDAYA CABAI MERAH

Benih

Buah yang akan digunakan sebagai benih sebaiknya buah yang masak pohon, sehat dan sesuai dengan jenis yang diinginkan. Buah-buah terpilih langsung dijemur tanpa dikupas. Setelah cukup kering dikupas dan langsung ditanam atau disimpan untuk musim tanam berikutnya. Cara lain adalah dengan mengupas buah yang masih segar lalu bijinya dikeringkan. Setelah kering biji dapat langsung ditanam atau disimpan untuk penanaman selanjutnya. Beberapa syarat benih yang harus diperhatikan adalah:
Keperluan benih untuk satu hektar pertanaman tergantung pada jarak tanam yang digunakan. 

Penyiapan Lahan

Pengolahan tanah untuk budidaya cabai merah ditujukan untuk memperbaiki drainase dan aerasi tanah, meratakan permukaan tanah dan mengendalikan gulma. Pada lahan pekarangan tahapan pengolahan adalah lahan dicangkul sedalam 30 - 40 cm sampai gembur, kemudian dibuat bedengan dengan lebar 1-1,2 m, tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30 cm. Setelah itu dibuat guludan dan lubang tanam dengan jarak tanam (50 - 60 cm) x (40 -50 cm), dengan demikian pada tiap bedengan akan terdapat 2 baris tanaman.

Apabila kondisi pH tanah kurang dari 5,5 maka perlu dilakukan pengapuran dengan kaptan/dolomit sebanyak 1,5 ton/ha atau 1,5 kg/10 m2 yang diberikan pada 3 - 4 minggu sebelum tanam, dan jika akan diberikan soil treatment atau pemberian nematisida harus dilakukan 3-4 minggu sebelum tanam.

Penanaman

Pada keadaan tanah yang bertekstur Mat, sistem penanaman dalam bedengan 2-4 baris tanaman tiap bedengan lebih efisien, sedangkan pada tanah bertekstur sedang - ringan lebih cocok menggunakan sistem penanaman dengan barisan tunggai. Cara ini biasanya dilakukan petani di dataran medium dan dataran tinggi. Pada saat penanaman, tanah harus lembab tapi tidak becek dengan tujuan agar bibit cabai tumbuh lebih cepat.

Pemupukan

Jumlah pupuk yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi lahan atau anjuran setempat. Dosis pupuk organik/pupuk kandang/kompos adalah sekitar 1500 kg/m2.

  • Pemeliharaan Penyulaman
Seringkali benih yang telah ditanam tidak tumbuh 100% di lapangan. Untuk mempertahankan agar populasi tanaman optimal perlu dilakukan penyulaman. Penyulaman ini hendaknya dilakukan paling lambat 2 minggu setelah tanam. Penyulaman juga dilakukan terhadap pertanaman yang pertumbuhannya tidak bagus atau sakit.
  • Pengairan
Cabai merah termasuk tanaman yang tidak tahan kekeringan, tetapi juga tidak tahan terhadap genangan air. Air tanah dalam keadaan kapasitas lapang (lembab tapi tidak becek) sangat mendukung pertumbuhan. Masa kritis tanaman cabai merah adalah pada saat pertumbuhan vegetatif yang cepat, pembentukan bunga dan buah.
  • Pengendalian gulma
Periode kritis tanaman cabai karena adanya persaingan dengan gulma terjadi pada umur 30 - 60 hari setelah tanam. Gulma yang tumbuh selama periode tersebut dapat mengakibatkan menurunnya bobot kering tanaman. Penyiangan yang dilakukan pada umur 30 - 60 hari setelah tanam dapat meningkatkan hasil cabai merah.
  • Perompesan tunas-tunas
Perompesan tunas-tunas di ketiak daun bertujuan agar pertumbuhan vegetatif tanaman dapat diatur. Sehingga suplai makanan dialirkan untuk membentuk pertumbuhan tanaman yang tegak dan kekar sampai tumbuh percabangan utama 10-12 hari setelah tanam (HST) untuk dataran rendah, 15 - 20 HST untuk dataran tinggi. Selain tunas-tunas di ketiak daun, bunga pertama yang tumbuh di percabangan utama juga dirompes. Perompesan bunga ini untuk menunda pembentukan bunga dan buah karena kondisi tanaman belum kuat. 

Daun-daun di bawah cabang utama sebaiknya dirompes pada saat tajuk tanaman telah optimal karena sudah tidak berfungsi sebagai penyedian makanan. Perompesan ini dilakukan pada saat tanaman minimal sudah berumur 75 - 80 HST untuk dataran rendah dan 90 - 100 HST untuk dataran tinggi tergantung varietas yang ditanam.

Sumber : cybex.deptan.go.id