Budidaya Tanaman Jamur Shitake Dalam Kantong Plastik

Jamur shitake (Lentinus edodes (Berk) Sing) mempunyai potensi ekonomi tinggi karena harga, nilai gizi, dan khasiatnya baik sekali. Rasa jamur ini lezat, baunya harum, dan memiliki khasiat obat. Jepang adalah produsen terbesar dan sekaligus eksportir, walaupun jamur ini pertama kali ditemukan di Cina. Budidaya jamur shitake dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu secara alami, tradisIonal, dalam kantong plastik, dan hidroponik.

Kelebihan dari cara budidaya menggunakan kantong plastik

Petani jamur dan juga pengusaha jamur selalu berupaya meningkatkan teknologi budidaya melalui berbagai cara dengan tujuan untuk menghemat tempat, menghemat bahan, dan meningkatkan produksi. Upaya itu ternyata berhasil. Budidaya jamur shitake menggunakan media tanam dalam kantong plastik telah sukses mencapai tujuan tersebut. 

Beberapa kelebihan cara budidaya shitake dalam kantong plastik adalah: 
  1. Bahan media tanam seperti serbuk gergaji, ampas tebu, tepung biji kapas, dan bahan pembantunya banyak tersedia dalam jumlah yang cukup. 
  2. Masa pertumbuhan dan masa produksi lebih singkat, dengan kuantitas dan kualitas hasil lebih tinggi. Jamur segar telah bisa dipetik 90 - 150 hari setelah inokulasi bibit/spawning, tergantung jenis jamurn dan kondisi pertumbuhannya. Dengan masa pemeliharaan yang lebih singkat dan masa produksi juga singkat, maka energi untuk pemeliharaan menurun menjadi 80%, dibanding dengan cara budidaya tradisional. 
  3. Kantong plastik dan media tanam mudah dikelola, mudah dipindah, mudah untuk memasukkan bahan-bahan ke dalamnya, dan cara inokulasi bibit jamur mudah. 
  4. Tempat meletakkan kantong plastik media tanam lebih hemat. 
  5. Pemeliharaan tanaman, pengawasan, dan teknik mengendalikan jamur liar pesaing juga lebih mudah dibandingkan dengan budidaya shitake secara tradisional.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan

Alat dan Bahan 

Alat yang dipakai adalah kantong plastik berukuran 15 x 30 cm jenis polypropylene yang tebal dan tahan terhadap air dan uap panas bertekanan 1,5 atmosfir pada suhu 121o C. Bahan sebagai media tanamnya adalah serbuk gergaji dari berbagai jenis kayu, bekatul, dedak jagung, CaCo3/kapur, ampas batang jagung, ampas tebu, air, dan berbagai bahan yang mengandung cellulose, hemi cellulose, lignin. Bahan baku media tanam haruslah memenuhi syarat kuantitas dan berkualitas baik. Gunakan serbuk gergaji yang masih baru, dari kayu yang keras, dikeringkan dan diayak lebih dahulu, dan belum ditumbuhi jamur liar jenis lain. Komposisi jumlah bahan media tanam disesuaikan dengan formula yang dipilih. Pencampurannya sebaik mungkin agar campuran media benar-benar merata.

Inokulasi dan Inkubasi

Setelah kantong plastik yang berisi media tanam disterilisasi menggunakan alat autoclave, selama 2-4 jam pada suhu 121o C dan kemudian ditiriskan, selanjutnya bibit jamur diinokulasi pada media tanam dalam ruangan yang bersih dan steril. Gunakan bibit yang baru agar produksinya tinggi. Kemudian media tanam disimpan pada ruangan gelap, bersuhu kamar 20o C - 25o C. Lama penyimpanan di ruang gelap tergantung pada jenis formula dari media tanam dan kualitas bibit jamur yang digunakan.

Inkubasi dan Pengaturan Ruangan

Dalam masa inkubasi atau perawatan mycelium di ruang gelap, akan terjadi berbagai perubahan fisik, kimiawi, dan bentuk luar. Perubahan fisik ditunjukkan adanya perubahan kadar air di dalam media, termasuk adanya perubahan warna. Perubahan bentuk luar yang tampak nyata adalah adanya tonnjolan-tonjolan ketika akan terbentuk primordia. Perubahan tersebut dapat dikelompokkan dalam berbagai stadia tumbuh sbb:
  • Stadia awal mycelia. Beberapa hari setelah inokulasi media, mycelium mulai menjalar dan meyelimuti permukaan media tanam. Pada stadia awal, mycelium mengeluarkan enzim yang dapat mengubah senyawa-senyawa kompleks seperti cellulose, hemi cellulose, dan lignine menjadi senyawa yang lebih sederhana sehingga dapat diabsorbsi untuk pertumbuhan mycelium selanjutnya.
  • Stadia pertumbuhan mycelium hingga terbentuknya primordia (pinhead). Pada stadia ini terbentuk selimut mycelia, yaitu penyebaran mycelium ke seluruh permukaan media sehingga tampak berwarna putih. Selanjutnya selimut akan menebal dan keras, dan ini terjadi 20 - 30 hari setelah inokulasi.
  • Stadia perubahan warna. Dalam waktu 30 - 60 hari setelah inokulasi akan terjadi perubahan warna mycelium dari putih menjadi kuning sampai cokelat gelap.
  • Stadia pembentukan benjolan. Benjolan-benjolan akan terbentuk apabila suhu berubah dari suhu kamar 25o C menjadi 15o C dalam waktu 5 - 10 hari. Benjolan ini adalah penebalan di berbagai bagian permukaan yang akan membentuk primordia atau pinhead, terjadi 60 -75 hari setelah inokulasi. Apabila sudah terbentuk primordia, kantong plastik perlu dipindah ke ruang pertumbuhan jamur.
  • Stadia perubahan kandungan air. Pada stadia ini kandungan air pada media tanam akan meningkat, dari awalnya berkisar 60% - 65% berubah menjadi sekitar 70% - 80%. Perubahan kadar air berlangsung sejak pertumbuhan mycelium hingga pembentukan benjolan.
Pemeliharaan

Pemeliharaan dilakukan pada ruang pertumbuhan dan perkembangan yang dapat berupa bangunan permanen atau semi permanen. Kantong plastik disusun rapih pada rak-rak untuk memudahkan pemeliharaan. Kegiatan yang dilakukan adalah mengontrol: 
  • suhu agar berkisar antara 20o C - 25o C; 
  • kelembapan media tanam agar berkisar 70% - 80%; 
  • menjaga suhu ruangan 15o C dimalam hari, 25o C di siang hari, kelembapan ruangan diatur kurang dari 70% pada awal pertumbuhan, dan 85% - 90% jika pinhead sudah muncul, 
  • menjaga kebersihan ruangan, dan 
  • dikontrol agar tidak ada pertumbuhan jamur liar atau mikroorganisma pesaing.
Panen

Tergantung pada jenis strain jamur shitake yang ditanam, dan kondisi pertumbuhan jamur selama masa pemeliharaan, maka dalam kondisi normal jamur shitake dapat dipanen sekitar 90 - 115 hari setelah inokulasi bibit. Jamur ini bisa dikonsumsi segar atau dikeringkan dahulu. 

Sumber : deptan.go.id