Cara Unik Menangkar Burung Pleci

Burung Pleci makin populer seiring dengan melonjaknya peminat di tanah air. Bak gayung bersambut, meroketnya popularitas burung “kaca mata” itu kian meramaikan lomba-lomba di negeri ini.
Hampir di setiap lomba burung, kelas pleci dibuka secara khusus beriringan dengan kelas prenjak, cendet, dan lainnya. Sebab itu, pleci kini menjadi gacoan baru yang sedang diburu meski banderolnya tinggi.

Di habitat alamnya burung pleci sudah tidak sebanyak dahulu ketika burung kacamata ini belum sepopuler sekarang. Dahulu saat saya masih sekitar SD-SMP sering berburu burung prenjak atau ciblek dengan cara memakai jebakan, pulut, atau pikat. Burung prenjak dan ciblek sebelumnya sudah cukup populer sejak saya masih kecil sehingga banyak orang ingin mengambil langsung dari alam termasuk saya yang memang menggemari dunia burung sejak kecil. Pada saat menjebak burung ciblek atau prenjak saat itu, tidak jarang saya malah mendapatkan burung pleci. Namun karena burung pleci ini belum populer seperti sekarang maka seringkali saya lepaskan kembali saat masuk dalam jebakan saya. Pada saat sekarang ini, ketika burung pleci naik daun, jangan harap kita bisa mendapatkan burung pleci di alam dengan mudah, oleh karena sudah seringnya diburu orang.

Dari kondisi tersebut, tidakkah terlintas dalam benak kita mengapa kita tidak mencoba menangkar burung pleci sendiri??.

Breeding Burung Pleci ternyata mudah dilakukan asal kandang dan segala sesuatunya mirip habitat aslinya. Hal itu setidaknya sudah dibuktikan oleh penangkar pleci asal Sidoarjo yaitu Anton Supriadi. Dulu sebelum beternak pleci ia adalah peternak love bird, kini melangkah beternak pleci yang kabarnya gampang-gampang sulit. Setelah dijajal, ternyata seluruhnya mudah dilakukan.

Menurut Anton, pleci termasuk burung yang suka hidup berkoloni seperti parkit sehingga beternaknya bisa dilakukan secara massal dalam satu kandang. Dalam kandang tersebut bisa diisi beberapa pasang pleci seraya akan melakukan perkawinan sesuai dengan pasangannya masing-masing.

Namun menurutnya hasil akan lebih baik jikalau breedingnya dilakukan dalam bentuk sepasang. Artinya, dalam satu kandang breeding, cukup diisi sepasang burung pleci yang siap kawin (matang kelamin). Dikatakan, pleci jantan dan pleci betina yang akan ditangkar harus memenuhi kualifikasi umur. Untuk yang jantan minimal harus berumur 1,5 – 2 tahun dan betina berumur 1 tahunan.


Sebelum sepasang pleci dijodohkan, kita harus menyiapkan kandang breeding dengan kondisi yang sesuai dengan habitat burung pleci tersebut. Bahan kandang bisa menggunakan kawat kasa, kayu, tembok atau paduan dari ketiganya. Anton sendiri membuat kandang breeding pleci mirip kandang murai batu, kacer, atau anis kembang, yakni dinding samping dan belakang berupa tembok dan depan berupa kawat kasa sehingga kondisi dalam kandang bisa dilihat dari luar. Sementara atapnya terbuat dari asbes. Pintu keluar masuk diletakkkan di sisi depan atau menempel pada dinding kawat kasa. Sedang dasar kandang tetap berupa tanah agar kondisi kandang bersifat alami. Kandang breeding tersebut dibuat dengan ukuran 1 m X 2 m dan tinggi 2 m.

Di dalam masih harus diberi tanaman dalam pot agar kelihatan alami sehingga pleci akan merasa nyaman berada di dalamnya dan seakan berada di alam tebuka. Tanaman itu diupayakan penuh percabangan dan berdaun rimbun. Dalam kandang juga harus disediakan tempat mandi seperti bak kecil yang selalu diisi air sepanjang waktu, mengingat pleci memang suka mandi. Bak ini cukup diletakkan di alas kandang.

Kotak tempat sarang juga disediakan dan diletakkan di salah satu sudut atas kandang. Kotak dibikin dari triplek dengan ukuran 40 cm x 30 cm dan tinggi 30 cm. Pada kotak tersebut diberi lubang untuk keluar masuk pleci. Di bagian dasar kandang perlu disediakan daun pinus kering sebagai bahan sarang. Nanti kalau pleci betina tersebut sudah mendekati masa bertelur akan mengambili daun-daun kering tersebut untuk dibikin sarang dalam kotak. Di dalam kandang breeding juga perlu disediakan beberapa cepuk untuk tempat pakan.

Penjodohan Burung Pleci

Pleci jantan dan betina tidak langsung dimasukkan ke dalam kandang breeding untuk menjodohkannya. Anton memulainya dengan mengenalkan dua induk pleci tersebut dalam sangkar tersendiri. “ Awalnya pleci jantan dan betina dimasukkan ke dalam sangkar senndiri-sendiri. Kemudian kedua sangkar itu saya dekatkan agar kedua burung di dalamnya saling mengenal dan terpikat. Kedua sangkar tersebut dibiarkan berdekatan (merapat) hingga seminggu lamanya. Rentang waktu dua minggu itu, pleci jantan dan betina mengalami puncak birahi. “ Terhitung setelah 1 minggu itu, pleci jantan dan betina dimasukkan ke dalam kandang breeding secara bersama-sama,” terangnya.

Mengingat keduanya sudah mengenal dan mengalami masa birahi, maka sejoli itu itu langsung berdekatan hingga melangsungkan perkawinan secara alami. Kalau sudah demikian, pleci sudah dipastikan berjodoh dan siap-siap memasuki masa bertelur.

Untuk menunjang perjodohan itu, dalam kandang breeding harus selalu disediakan pakan berupa Voer yang dilengkapi buah dan ulat hongkong. Anton juga menyiapkan vitamin, air minum dan air mandi yang diletakkan dalam wadah cepuk yang terpisah.


Mendekati masa bertelur, pleci jantan dan betina mulai sibuk membuat sarangnya. Daun-daun pinus yang disiapkan di dasar kandang diangkut ke dalam kotak untuk kemudian dibuat sarang. Berikutnya pleci betina bertelur dalam sarang tersebut. Dalam setiap perkawinan, pleci betina bertelur sebanyak 3-4 butir. Telur-telur itu kemudian dierami selama 12-14 hari. Terhitung waktu demikian, telur-telur tersebut akan menetas. Setelah menetas, pleci akan memberikan makanan pada anak-anaknya berupa ulat kecil, jangkrik kecil dan lain-lain. Sebab itu, dalam wadah pakan harus selalu disediakan pakan yang sudah ditentukan karena selain untuk dimakan sendiri oleh sang induk, juga untuk menyuapi anak-anaknya.

Sepertinya Anton melarang sang induk untuk berlama-lama mengasuh anak-anaknya. Anakan umur 6-10 hari didekapan induknya, sudah dipisah seraya dipindah ke sangkar tersendiri. Hal ini dimaksudkan agar induk bisa melakukan perkawinan lagi seraya berproduksi. Sementara anak-anaknya diasuh sendiri oleh sang peternak dan diberi pakan dengan cara dilolohkan.

Sumber : hamikron.com