Budidaya Tanaman Purwaceng

Purwaceng (Pimpinella pruatjan Molkenb.) Merupakan salah satu tumbuhan obat langka asli Indonesia yang bersifat endemik. Sebagian besar masyarakat Banjarnegara belum mengetahui besarnya manfaat tumbuhan ini.

Derap Serayu~Purwaceng di Kabupaten Banjarnegara hanya ditemukandi Dataran Tinggi Dieng dengan ketinggian 2000 – 3000 meter dari permukaan air laut, namun populasinya sangat sedikit dan dikategorikan penting sehingga perlu perlindungan yang ketat. Selain ditemukan diDataran Tinggi Dieng, Purwaceng juga ditemukan di sekitar Gunung Gede Pangrango (Jawa Barat) namun keadaannya sekarang tidak diketahui, di Jawa Timur ditemukan di pegunungan Anjasmoro dalam keadaan genting. Dewasa ini purwaceng sedang mengalami erosi genetik yang cukup tinggi, hal ini disebabkan oleh eksploitasi secara besar-besaran dan liar, adanya penjarahan hutan, konversi hutan dan pemanfaatan lahan hutan untuk kegiatan pertanian tanaman semusim sehingga mengancam kelestarian habbitat purwaceng. Eksploitasi secara besar-besaran dan liar.

Tumbuhan ini disebabkan karena masyarakat meyakini bahwa purwaceng memiliki nilai guna yang tinggi. Oleh karena itumasyarakat sekitar habitat berusaha untuk mengambil secara besarbesaran tanpa upaya pelestarian. Purwaceng merupakan tumbuhan obat yang mempunyai daya kerja seperti mempertinggi aktifitas motorik, mempertinggi tonus pada otot-otot lurik. Diyakini tumbuhan ini memiliki kegunaan untuk mengobati beberapa macam penyakit, sedang akarnya mempunyai efek tonik.


Mengingat laju kepunahan purwaceng cukup tinggi dan tumbuhan ini merupakan sumber plasma nutfah maka perlu diupayakan cara pelestariannya. Usaha-usaha untuk melestarikan telah dilaksanakan di Kabupaten Banjarnegara, namun hasilnya belum memenuhi harapan. Usaha-usaha pelestarian yang dilakukan yaitu dengan mengembangkan di habitat asalnya (in situ). Pemkab Banjarnegara telah melakukan kerja sama dengan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO) Bogor, dalam hal pengembangan purwaceng. Pada 2004 Dishutbun mengembangkan tanaman purwaceng di Desa Batur, hasilnya cukup baik dan telah berproduksi serta petani mampu menangkar serta menjual hasil panen. Upaya ini diharapkan dapat menambah dan mengembangkan populasi purwaceng yang ada di Banjarnegara. Namun perlu diupayakan untuk jangka panjang, karena kini harga bibitnya mahal, sulit diperoleh dan sangat tergantung dari luar Banjarnegara.

Upaya budidaya secara in situ ini belum banyak dilaksanakan secara luas oleh masyarakat, karena masih kurangnya informasi dan langkanya bibit, padahal dilihat dari manfaatnya mempunyai nilai ekonomi tinggi. 

Upaya pelestarian secara eks situ tanaman

Purwaceng sedang dicoba dilaksanakan yaitu di Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa. Pada Tahun Anggaran 2007 ini Dinas Kehutanan dan Perkebunan mempunyai program pelestarian dengan mencoba mengembangkan di luar Kecamatan Batur yaitu di Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa melalui kegiatan Pengembangan Tanaman Purwaceng. 

Upaya pelestarian secara konvensional baik eks situ maupun in situ memiliki beberapa kelemahan yitu memerlukan waktu yang cukup panjang, memerlukan lahan yang cukup luas, memerlukan tenaga yang cukup besar, diperlukan biaya yang tidak sedikit dan diperlukan lingkungan dengan persyaratan tertentu seperti habitat aslinya, namun hasil yang diperoleh belum memenuhi harapan. Untuk itu diperlukan terobosan baru yang mampu mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Penerapan bioteknologi kultur jaringan untuk upaya pelestarian tumbuhan purwaceng merupakan suatu alternatif yang diharapkan dapat mengatasi kelemahan-kelemahan upaya pelestarian secara konvensional. Dengan teknik kultur jaringan ini memiliki beberapa kelebihan antara lain waktu yang cukup singkat, tidak memerlukan lahan yang luas dan efisien bail tenaga maupun biaya, dapat dihasilkan bibit tanaman setiap saat diperlukan karena faktor

lingkungan sepenuhnya dapat dikontrol. Disamping itu teknik ini juga dapat digunakan untuk upaya untuk penyimpanan jangka panjang plasma nutfah. Namun demikian upaya bioteknologi kultur jaringan memerlukan biaya awal yang tinggi dan SDM yang handal. Harapan kita Kabupaten Banjarnegara untuk tahun mendatang dapat memiliki Laboratorium Kultur Jaringan sehingga disamping bisa digunakan untuk pengembangan khususnya perbanyakan tanaman purwaceng juga tanaman langka lain yang ada di Kabupaten Banjarnegara.