Pola Tanam Tumpangsari

Tumpangsari merupakan salah satu jenis pola tanam yang termasuk jenis polikultur. Polikultur karena pada suatu lahan ditanami lebih dari satu jenis tanaman. Lebih detail, tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam yang sama. Pada awalnya, tumpang sari merupakan pola tanam yang banyak digunakan oleh petani-petani yang melakukan usaha tani guna mencukupi kebutuhan sendiri dan keluarga (subsisten). Resiko kegagalan yang tinggi dalam usaha pertanian membuat petani menanam lebih dari satu jenis tanaman sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih dapat memanen komoditas yang lain. Tumpangsari pada awalnya juga lebih dilakukan untuk tanah marginal modal petani yang kecil. 

Dalam perkembangan yang lebih lanjut, tumpangsari bukan hanya milik petani subsisten yang hanya melakukan usaha tani pada lahan yang dapat dikatakan marginal dengan modal yang seadanya. Tumpangsari sudah banyak diterapkan petani baik semi-komersial maupun komersial dan juga diterpakan pada lahan-lahan yang subur yang memang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan berbagai macam tanaman. Ini tidak terlepas dari beberapa kelebihan yang dimiliki oleh pola tanam tumpangsari. 

1. Efisien penggunaan ruang dan waktu 

Seperti talah dijelaskan sebelumnya, tumpangsari merupakan penanaman lebih dari satu jenis tanaman pada satu lahan dalam periode waktu yang sama. Dengan pola tanam ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Lebih dari satu hasil panen yang dihasilkan dalam satu waktu merupakan alah satu efisiensi produksi dalam kaitannya dengan waktu. Dalam kaitannya dengan ruang, pada pola tanam tumpang sari, masih ada space yang kosong pada jarak tanam tanaman dengan habitus tinggi seperti jagung atau tanaman tahunan yang lainnya. Ruang kosong itu yang dimanfaatkan untuk pertanaman tanaman yang lain sehingga penggunaan lahan lebih efisien. 

Dalam beberapa penelitian, tumpangsari diketahui mampu meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari memang menurunkan hasil untuk masing-masing komoditas yang ditumpangsarikan karena adanya pengaruh kompetisi, tetapi, berdasarkan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL), berkurangnya hasil tiap-tiap komoditas masih berada di dalam kondisi yang menguntungkan. Contoh tumpangsari yang mampu meningkatkan produktivitas lahan adalah tumpangsari antara jagung dengan ubi kayu dan juga tumpangsari antara jagung dengan kacang hijau. 

Berdasarkan fakta tersebut, tumpangsari kemudian disebut sebagai pola tanam yang intensif. 

2. Mencegah dan mengurangi pengangguran musim 

Pada beberapa jenis tanaman, tanaga kerja banyak dibutuhkan pada musim tanam dan musim panen saja. Akibatnya, banyak pengangguran di sela-sela musim tanam dengan musim panen. Pada tumpangsari, tanaman yang diusahakan lebih beragam. Perawatan yang dilakukan untuk setiap jenis tanaman kebanyakan juga tidak dalam waktu yang sama. Dengan demikian, petani akan selalu memiliki pekerjaan selama siklus hidup tanaman. 

3. Pengolaahan tanah menjadi minimal 

Pengolahan tanah minimal lebih terlihat pada pola tanam tumpang gilir. Pada tumpang gilir, segera setelah suatu tanaman hampir menyelesaikan siklus hidupnya, buru-buru ditanami tanaman yang lain. Akibatnya, tidak ada waktu lebih untuk melakukan pengolahan tanah. Salah satu kelebihan tanpa pengolahan tanah atau dengan pengolahan tanah minimal adalah tidak terjadinya kerusakan struktur tanah karena terlalu intensif diolah. Selain itu, pada pengolahan tanah minimal atau tanpa oleh tanah resiko erosi akan lebih kecil daripada yang diolah secara sempurna. 

4. Meragamkan gizi masyarakat 

Hasil tanaman yang lebih dari satu jenis tentunya akan memberikan nilai gizi yang beragam. Setiap tanaman pada dasarnya memiliki kandungan gizi yang berbeda-beda. Ada sebagian yang mengandung karbohidrat, ada juga yang mengandung protein, lemak, ataupun vitamin-vitamin. Penganekaragaman jenis tanaman juga akan memberikan keanekaragaman jenis gizi kepada masyarakat. 

5. Menekan serangan hama dan patogen 

Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman hanya satu jenis tanaman talah mengurangi keberagaman makhluk hidup penyusun ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan patogen penyebab penyakit tanaman. Pola tanam dengan sistem tumpangsari sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan pengendalian OPT memberikan keuntungan (1) penjagaan fase musuh alami yang tidak aktif (2) penjagaan keanekaragaman komunitas (3) penyediaan inang alternative (4)penyediaan makanan alami (5) pembuatan tempat berlindung musuh alami, dan (6) penggunaan insektisida yang selektif. 

Penanaman kentang yang ditumpangsarikan dengan kacang jogo seledri dan brokoli memberikan kemampuan parasitoid Hemiptarsenus varicornis untuk memparasit Liriomyza huidobrensis. Tumpang sari kentang dengan bawang daun dapat menekan populasi Myzus persicae. Dari sini kemudian dapat disebutkan bahwa sistem tumpangsari merupakan salah sistem pertanian yang berkelanjutan. 

Ketika suatu lahan pertanian ditanami denga lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi dapat saling menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling menghambat (competition). Dengan demikian, kultur teknis yang harus diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah jarak tanam, populasi tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman. Morfologi dan fisiologi tanaman juga harus diperhatikan. Kesemuanya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil untuk masing-masing tanaman yang akan ditumpangsarikan. Dalam pola tanam tumpangsari, diusahakan untuk menanam jenis tanaman yang tidak satu family. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata rantai pertumbuhan dan ledakan populasi hama dan patogen karena untuk jenis tanaman yang satu family memiliki kecenderungan untuk diserang oleh hama dan patogen yang sama. Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan kerjasama dan meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang dibudidayakan. 

Kesalahan dalam menentukan jenis tanaman yang akan ditumpangsarikan dapar membuat yang sebenarnya menjadi kelebihan pola tanam tumpangsari menjadi kelemahan tumpang sari. Kompetisi antar tanaman yang terlalu tinggi membuat hasil untuk tiap tanaman menjadi sangat kecil yang berakibat pada nilai kesetaraan lahan yang kurang dari 1. Selain itu, dapat juga terjadi kesulitan pengendalian hama dan patogen karena tanaman yang ditumpangsarikan memungkinkan hama dan patogen menjadi inang untuk keduanya. Tidak jarang, biaya untuk perawatan tanaman tumpang sari juga lebih mahal karena harus merawat lebih dari satu jenis tanaman. 

Berdasaran hasil penelitian-penelitian dan pengembangan-pengembangan, bukan tidak mungkin jika pola tanam tumpangsari pada waktu yang akan datang menjadi pilihan utama suatu pola pertanaman dan bukan lagi hanya menjadi alternative. 

Refferensi: 

Syaiful A.S., A.Yassi, N. Rezkiani. 2011. Respon tumpangsari tanaman jagung dan kacang hijau terhadap sistem olah tanah dan pemberian pupuk organik. Jurnal Agronomika 1: 13-18. 

Setyawati W, dan A.A Asandhi. 2003. Pengaruh sistem pertanaman monokultur dan tumpangsari sayuran crucifera dan solanaceae terhadap hasil da struktur dan fungsi komunitas artropoda. Jurnal Hortikultura 13: 41-57. 

Suwarto, S. Yahya, Handoko, dan M.A. Coizin. 2005. Kompetisi tanaman jagung dan ubi kayu dalam sistem tumpangsari. Bulletin Agron 33:1-7