Teknologi Budidaya Tanaman Terung

Teknologi Budidaya Tanaman Terung

A. Pendahuluan

Terung (Solanum melongena) termasuk family Solanaceae dan tergolong dalam tanaman setahun. Batangnya berair dan berbulu dan ada pula yang berduri. Tingginya berkisar antara 60-240 cm.

Berbentuk semak atau perdu. Tunas tumbuh dari ketiak daun sehingga tanaman tetap terlihat tegak. Buah terung umumnya dimanfaatkan sebagai sayuran, tetapi ada pula sebagai obat-obatan dan keperluan kontrasepsi. Bentuk, ukuran dan warna buah bermacam-macam, bergantung pada varietasnya. Oleh karena itu, sebelum menanam terung perlu mengetahui varietas terung yang sesuai dengan kebutuhan konsumen dan cocok dengan persyaratan tumbuh dimana terung dibudidayakan. 

Terung dapat ditanam di dataran rendah sampai dataran tinggi. Tanah yang cocok untuk pertanaman terung adalah tanah yang subur, tidak tergenang air, pH 5-6, dan berdrainase baik. Tanah berpasir atau lempung berpasir merupakan jenis tanah yang cocok untuk usaha terung. Apabila akar tergenang, tanaman terung akan terhambat pertumbuhannya, juga mudah terserang penyakit layu bakteri (Ralstonia Solanacearum) dan layu yang disebabkan oleh jamur verticillium spp. Waktu tanam yang baik yaitu pada awal musim kemarau (Maret/April) atau pada awal musim penghujan (Oktober/November).

B. Pemilihan jenis terung

Jenis terung yang dianjuran adalah terung kopek, terung Craigi, terung Bogor atau terung kelapa, terung gelatik atau terung lalap, dan terung acar. Kebutuhan benih 150-500 gram biji per hektar dengan daya kecambah 75%. Yang beredar dipasaran kebanyakan …..(panah merah). Daya tumbuhnya lebih dari 95 %, vigor murni, bersih dan sehat. 

C. Model budidaya bedengan

Pembibitan

Pembibitan termasuk salah satu kegiatan awal dari kegiatan budidaya terung. Wadah semai yang perlu disediakan adalah kotak kayu, atau polybag berukuran 10 x 12 cm² (berdiameter 5 cm) atau gelas aqua yang sudah dilubangi bagian bawah sisi kiri dan kanan sebanyak 3-4 lubang. Masukan media semai berupa campuran tanah dan pupuk kandang/kompos dengan perbandingan 1:3 kedalam wadah persemaian. Bila tanahnya berliat bisa ditambah pasir. 

Sebelum disemai, biji/benih terung direndam dahulu di dalam air hangat (50°C) selama 1 jam. Kemudian biji/benih yang sudah direndam dibenamkan di dalam media semai kotak kayu dengan jarak 1-3 cm. Bila menggunakan polybag atau gelas aqua biji dibenamkan 1-2 biji per polybag atau per gelas aqua. Tutup biji dengan lapisan tanah tipis atau kompos. Biji yang telah dibenam disiram sampai basah kemudian ditutup dengan daun pisang selama 3-5 hari. Wadah tersebut diteduhkan di rumah persemaian. Penyiraman dilakukan setiap hari. Bila bibit terung sudah berumur 6 minggu (1,5 bulan) atau sudah memiliki daun 4-5 helai, bibit tersebut sudah siap untuk ditanam di bedengan.

Pengolahan tanah.

Lahan pekarangan dibersikan dari gulma. Kemudian tanahnya dicangkul sedalam 30 cm. Setelah itu, bedengan dibuat dengan ketinggian sekitar 30 cm. Lebar bedengan sekitar 1 m, dan panjang tergantung ukuran/bentuk lahan. Jarak antar bedengan sekitar 40 cm atau disesuaikan dengan keadaan tanah. Bila pH tanah kurang dari 5,0 maka perlu ditambahan kapur pertanian/Dolomit sebanyak 100 gram/1m² dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam. Setelah tanah bagian atas bedengan diratakan, dibuat lubang tanam dengan jarak tanam 60 cm x 80 cm atau 60 cm x 90 cm sehingga tiap bedengan terdapat 2 barisan tanaman. Setiap lubang tanam dimasukan 1 kg pupuk kandang ayam atau kotoran sapi atau kompos ke dalam lubang tanam. Semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter air) ke dalam lubang tanam tersebut, kemudian permukaan lubang tanam ditutup dengan tanah. Biarkan selama 3 hari dan bedengan siap untuk ditanami. 

Penanaman

Bibit/anakan terung sudah bisa ditanam ketika anakan berumur 1,5 bulan setelah disemai. Bibit yang disemai di kotak kayu atau di polybag ukuran kecil atau digelas aqua dipindahkan ke bedengan secara hati-hati agar akar tanaman tidak putus. Penanaman dilakukan pada lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 60 cm x 80 cm atau 60 cm x 90 cm.. 

D. Model budidaya pot atau polybag

Pot atau polybag adalah wadah tanam yang digunakan sebagai model budidaya terung pada lahan pekarangan sempit. Pot atau polybag berukuran 40 cm x 40 cm dapat digunakan untuk menanam terung. Pot atau polybag harus dilubangi 4-5 lubang dibagian bawah sisi kiri dan kanan wadah untuk membuang air berkelebihan supaya tidak tergenang. Sebaiknya polybag dibalik sebelum diisi media tanam agar polybag dapat berdiri kokoh dan tidak mudah roboh. 

Media tanam yang digunakan berupa campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos, dengan perbandingan 1:2, atau 1:3, tergantung tingkat kesuburan dan tekstur tanah. Masukan media ke dalam pot atau polybag sampai penuh. Sisakan jarak sekitar 1 cm dari bibir wadah. Semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter air) pada permukaan tanah di pot atau polybag, kemudian pot atau polybag ditutup dengan karung goni selama 3 hari. Pot atau polybag siap untuk ditanami.

Penanaman

Sebelum dilakukan penanaman, pot atau polybag yang sudah terisi dengan media tanam disiram terlebih dahulu untuk memudahkan penanaman. Penanaman di pot atau di polybag dilakukan dengan cara pindah anakan terung dari kotak kayu persemaian atau dari polybag persemaian atau dari gelas aqua ke dalam pot atau polybag berukuran 40 cm x 40 cm dengan jumlah anakan, 1 anakan per pot atau per polybag. 

Benih terung juga bisa ditanam langsung di pot atau di polybag tanpa melalui proses persemaian. Akan tetapi cara tanam seperti ini membutuhkan benih yang banyak dan pemeliharan harus intensif. Anakan harus dikurangi sampai sisa 1 anakan di dalam polybag atau sulam benih yang tidak tumbuh di dalam polybag.

Perawatan

Tanaman terung perlu disiram setiap hari sampai tanaman tumbuh normal, kemudian diulang sesuai kebutuhan. Penyulaman dilakukan terhadap tanam yang sakit atau mati paling lambat 1 -2 minggu setelah tanam. Pengendalian gulma dilakukan bersamaan dengan penggemburan tanah dan pemberian pupuk susulan. Pemberian ajir untuk menopang berdirinya tanaman. Tunas air yang tumbuh di bawah cabang utama sebaiknya dipangkas. Penggemburan tanah atau pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemupukan kedua atau pemupukan susulan. 

Pupuk susulan pertama setelah tanaman berumur 15 hst dengan cara semprot larutan pupuk cair Bioboost/EM4 (10 ml/1 liter air) pada batang tanaman. Pupuk susulan kedua dan ketiga setelah tanaman berumur 30 hst dan 45 hst. Cara memupuk dan dosis pupuk sama seperti pemupukan susulan pertama. Pupuk organic cair Landeto (untuk buah) atau Hantu dapat juga diberikan pada tanaman sebagai pupuk tambahan dengan dosis 2 tutup botol/10 liter air. Larutan pupuk ini disemprot pada tanaman dengan waktu pemberian setelah tanaman berumur 18 hst, 33 hst, dan 48 hst, 60 hst, 75 hst dan 90 hst. 

Jika ada tanaman terserang hama dan penyakit, segera ditanggulangi secara mekanis (dicabut dan dibakar) atau disemprot dengan fungisida dan insektisida nabati. 

Panen

Panen pertama dapat dilakukan setelah tanaman berumur 4 bulan. Pertanaman yang baik dapat menghasilkan 200 kg buah terung per 100 m². Panen dilakukan menggunakan pisau sekali atau dua kali seminggu. Buah terung yang layak dikonsumsi adalah buah yang padat dan permukaan kulitnya mengkilat.