Budidaya Tanaman Sagu

Sagu (Metroxylon sp.) di duga berasal dari Maluku dan Irian. Di wilayah Indonesia bagian Timur, sagu sejak lama dipergunakan sebagai makanan pokok oleh sebagian penduduknya terutama di Maluku dan Irian Jaya.

Sagu dari genus Metroxylon, secara garis besar digolongkan menjadi dua, yaitu : yang berbunga atau berbuah dua kali (Pleonanthic) dan berbunga atau berbuah sekali (Hapaxanthic) yang mempunyai nilai ekonomis penting, karena kandungan karbohidratnya lebih banyak. Golongan ini terdiri dari 5 varietas penting yaitu :a). Metroxylon sagus, Rottbol atau sagu molat; b). Metroxylon rumphii, Martius atau sagu Tuni; c). Metroxylon rumphii, Martius varietas Sylvestre Martius atau sagu ihur; d). Metroxylon rumphii, Martius varietas Longispinum Martius atau sagu Makanaru; e). Metroxylon rumphii, Martius varietas Microcanthum Martius atau sagu Rotan

Perbanyakan pada tanaman sagu adalah: 
  • Dengan metode generatif dan 
  • Vegetatif. Secara generatif yaitu dengan menggunakan biji yang berasal dari buah yang sudah tua dan rontok dari pohonnya. Biji yang digunakan adalah biji yang berasal dari pohon induk yang baik, yang subur dan produksinya tinggi
Jumlah curah hujan yang optimal bagi pertumbuhan sagu antara 2.000 - 4.000 mm/tahun, yang tersebar merata sepanjang tahun. Sagu dapat tumbuh sampai pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut (dpl), namun produksi sagu terbaik ditemukan sampai ketinggian 400 m dpl. Suhu optimal untuk pertumbuhan sagu berkisar antara 24,50 - 29oC dan suhu minimal 15oC, dengan kelembaban nisbi 90%. Sagu dapat tumbuh baik di daerah 100 LS - 150 LU dan 90 - 180 darajat BT, yang menerima energi cahaya matahari sepanjang tahun. Sagu dapat ditanam di daerah dengan kelembaban nisbi udara 40%. Kelembaban yang optimal untuk pertumbuhannya adalah 60%.

Kegiatan persiapan bahan tanam meliputi ; 1) seleksi bibit, 2) perlakuan terhadap bibit, dan 3) persemaian. Tujuan dari seluruh kegiatan tersebut yaitu untuk mendapatkan bibit yang berkualitas baik, bebas hama dan penyakit tanaman sehingga bibit tersebut dapat ditanam di lapangan dengan persentase hidup yang lebih tinggi. Kegiatan budidayanya meliputi :

1) Penanaman di lapangan; Abut untuk pembibitan sebaiknya yang telah matang atau tua (pohon induk sudah dipanen 3-4 kali), bobot abut 2-5 kg, bonggol atau banir bentuk "L". 

2). Pemisahan abut dari pohon induk dilakukan dengan pemotongan pada daerah leher yang berkayu (keras), akar-akar disekitar stolon mirip akar keras dan akar dipangkas hingga 4-5 cm dan pelepah abut dipotong hingga 30-40 cm.. 

3). Abut yang sudah dipisahkan dari induknya harus segera disemai (kurang dari 24 jam) untuk meningkatkan persentase hidup abut. Abut yang sudah dilangsir ke tepi kanal harus lembab dan dinaungi agar tidak terkena sinar matahari secara langsung yang dapat menurunkan kadar air abut. 

4). Sebelum abut disusun dalam rakit persemain harus dilakukan penyeleksian berdasarkan kesegaran bibit yang ditandai oleh pelepah yang segar dan mengkilap, abut tua yang ditandai oleh warna merah muda pada banir, bobot abut 2-5 kg, bonggol atau banir bentuk "L", tinggi pelepah abut dipotong hingga 30-40 cm, sertatidak terserang hama dan penyakit.

5). Setelah abut diseleksi, abut dicelupkan ke dalam larutan fungisida (dithane) untuk menghindari serangan hama atau jamur. Dosis larutan fungisida yang digunakan adalah 2 gram/liter atau 2 cc/liter air. Lama perendaman bibit kedalam larutan tersebut ± 2-5 menit.

6). Sistim pembibitan yang dilakukan adalah pesemaian rakit pada kanal dengan air mengalir. Rakit pelepah tua tanaman sagu dewasa. Rakit berukuran 2,5 x 1 merer yang dapat menampung 70 - 80 abut tergantung ukuran banir.(Gambar 5). 

7). Abut disemai dalam rakit selama 3 bulan. Penyemaian yang terlalu lama akan menyulitkan proses pengangkutan, karena abut terlalu besar. Pertumbuhan abut di pesemaian sering tidak seragam.

8). Sebelum ditanam, abut terlebih dahulu dipangkas pelepah daunnya untuk mengurangi penguapan. Jarak tanam sagu yang digunakan biasanya 8 x 8 m atau 10 x 10 m dan ukuran lubang 30x30x30 cm. Waktu penanaman sebaiknya dilakukan musim hujan.

9) Penanaman di lapangan ; Penanaman bibit tanaman sagu dilakukan setelah bibit disemai tiga bulan dan telah memiliki 2 - 3 helai daun baru serta memiliki perakaran yang baik.

10) Pengendalian gulma ; berfungsi untuk mengurangi persaingan antara tanaman sagu dan gulma di sekitar rumpun sagu dalam pengambilan air, unsur hara, sinar matahari, dan ruang tumbuh dan berkembang

11) Pemupukan; Dosis pemupukan sangat tergantung pada kesuburan tanah tempat sagu tersebut tumbuh dan dosis untuk tanah mineral akan berbeda dengan di tanah gambut

12) Pengendalian hama dan penyakit ; Keberadaan hama dan penyakit tidak terlalu mengganggu pertumbuhan tanaman sagu. Botryonopa grandis Blay yang menyerang daun muda, Coptotermes spp. (rayap) di kawasan gambut dan serangga Rhynchophorus spp. yang menyerang daun sagu. Hama lain yang menyerang adalah tikus, kera dan babi yang sering kali menyerang tanaman sagu muda.

Sumber : 

Haryanto, B. dan P. Pangloli. 1992. Potensi dan Pemanfaatan Sagu. Kanisius, Yogyakarta.140 hlm

Tokede, M.J. dan V.E. Fere. 1997. Tinjauan teknologi budi daya sagu masyarakat asli Papua. Jurnal Hipere, Fakultas Pertanian Universitas Cendrawasih II: 1-10