Teknologi Pengolahan dan Produk Olahan Minyak Pala



Minyak atsiri merupakan produk yang cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia dan telah menjadi andalan ekspor non migas Indonesia untuk mendapatkan devisa Negara. Perolehan devisa dari ekspor minyak atsiri telah memberikan kontribusi yang cukup berarti bagi perekonomian Indonesia, sehingga produksi minyak atsiri perlu dikembangkan di Indonesia.

Pala merupakan salah satu bahan baku pembuatan minyak atsiri.Dengan proses penyulingan, biji dan fuli pala dapat dibuat menjadi minyak atsiri. Pala yang dipanen pada umur 22 minggu akan menghasikan kadar minyak atsiri yang optimal baik dari biji maupun fulinya. Kadar minyak atsiri dari biji sekitar 10,72%, sedangkan dari fuli 12,20%. Penyulingan biji dan fuli yang terbaik dilakukan dengan metode uap pada tekanan rendah atau dikukus selama 10 jam. Penyulingan pada suhu dan tekanan tinggi akan menurunkan mutu minyak karena akan terkontaminasi dengan asam miristik (myristic acid) yang berasal dari lemak pala. Unsur kimia yang terkandung dalam minyak pala adalah fatty acid yang komposisi kimianya terdiri dari myristic (95%), Oleic (4,0%) dan linolenic(1%). 

Selain biji dan fuli pala, daun dan daging pala juga mengandung minyak atsiri. Daun tanaman pala ada 2 tipe yaitu East Indian (termasuk Indonesia) dan West Indian. Apabila dikukus selama 3-9 jam, kandungan minyak atsiri dari daun pala berkisar 1,5-2 % dengan rendemen 1,32-1,43 %. Sifat fisika dan kimia daun pala tidak jauh berbeda dengan minyak dari biji dan fuli pala.

Daging pala juga dapat menghasilkan minyak atsiri, akan tetapi kandungannya sangat kecil. Komponen yang terkandung di dalamnya terdiri dari alfa-terpinol, kamfenhidrat, myristicin, isoeugenoldansafrole. Akan tetapi kandungan unsur trymyristin cukup besar pada buah pala, yaitu sekitar 73%. Trymyristin dapat diolah lebih lanjut menjadi myristic acid seperti yang terdpat pada minyak pala, bahkan dapat menghasilkan myristic acid yang jauh lebih banyak, sehingga untuk menghasilkan myristic dapat dilakukan dengan mengisolasi trimyristin yang ada pada buah pala.


Minyak pala banyak dipakai dalam industri farmasi, seperti mentega pala dan balsam gosok, dan digunakan pula sebagai komponen flafor pada industri permen

Mentega Pala (nutmeg butter)

Mentega pala atau dalam dunia farmasi dikenal dengan nama Oleum Myristicae Expressum merupakan minyak atsiri yang berasal dari pala, banyak dipakai dalam farmasi. Mentega pala ini mempunyai sifat aromatic yang kuat, digunakan sebagai bahan pembuatan shampoo, balsam cair (ointment) untuk mengobati iritasi dan luka. Cara sederhana pembuatan mentega pala adalah dengan cara mengukus serbuk pala hingga cukup panas kemudian dilanjutkan dengan pengempaan.

Balsam Gosok.

Dalam pembuatan balsam gosok, minyak pala dapat digunakan sebagai bahan flavor ,sedangkan minyak cengkeh digunakan sebagai bahanaktif. Proses pembuatan balsam gosok adalah sebagai berikut: (1)Bahan pengikat/basis seperti vaselin atau paraffin dipanaskan; (2) Tambahkan bahan aktif (minyak pala) dan bahan flavor lainnya sambal diaduk sampai tercampur homogen; (3) Tuang dalam kemasan dan ditutup rapat; (4) Lakukan pendinginan hingga menghasilkan balsam pala. 

Permenpala (hard candy)

Permenpala (hard candy)merupakan salah satu jenis permen yang banyak beredar saatini. Hard candy ini merupakan salah satu permen non kristalin yang dimasak dengan suhu tinggi (140-150oC), yang memiliki tekstur keras, penampakan mengkilat dan bening. Bahan utama dalam pembuatan permen jenis ini adalah sukrosa, air dan sirup glukosa atau gula inversi. Sedangkan bahan-bahan lainnya adalah flavor, pewarna dan zat pengasam. Selain berbahan dasar gula, komponen flavor juga sangat penting dalam permen sebagai salah satu bahan pangan. 

Permen pala dibuat dengan menggunakan bahan sukrosa, air dan sirup glucose atau gula inversi dan minyak pala sebagai flavor. Perbandingan sukrosa: sirup glucose dan penambahan minyak pala sebanyak 1,5%. Hard candy dengan perlakuan ini akan menghasilkan permen dengan kadar air 2,44%, kadar abu 0,07 %, kekerasan 27,08 kg/mm, kadar gula pereduksi 7,68%, kadar sukrosa 79,12%. Pembuatan hard candy dengan menggunakan sukrosa, sirup glucose dan daging buah pala akan menghasilkan permen yang kurang jernih dan kadar air yang cukup tinggi sehingga kurang disukai konsumen.