Teknologi Panen Air Hujan untuk Adaptasi Perubahan Iklim pada Lahan Kering

Teknologi Panen Air Hujan untuk Adaptasi Perubahan Iklim pada Lahan Kering

Pemanenan air hujan dengan kolam pemanen air adalah teknologi penyimpanan (konservasi) air hujan yang diperkenalkan oleh Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Lampung untuk meningkatkan ketersediaan air bagi usahatani lahan kering, disamping juga sebagai teknologi konservasi air untuk mensiasati perubahan iklim. Pemanenan air hujan dilakukan dengan pembuatan rorak besar (embung mikro) di lahan olah dan penampungan air dengan bangunan cekdam di saluran drainase. 

Dikaji dari efektivitas penggunaan, embung mikro (volume <100 m3) dan cekdam bila difungsikan sebagai sumber irigasi suplemen, dinilai lebih praktis dan lebih efektif, dibanding embung besar, demikian pula kalau dikaji dari biaya pembuatan juga lebih murah. Manfaat lain dari pembuatan embung mikro di lahan olah adalah untuk pengendalian erosi karena dimensi panjang embung dibuat menyilang arah lereng sehingga memperlambat laju dan mengurangi volume aliran permukaan.

Keberadaan embung mikro dan cekdam telah meningkatkan luasan penanaman sayuran (kacang panjang, mentimun, dan terong) sampai 650%. Beberapa petani juga memanfaatkan air embung mikro dan cekdam untuk penyiraman tanaman tembakau. Sebelum adanya embung mikro dan cekdam, pendapatan petani lokasi pengkajian dari lahan kering marginal seluas 0.5 ha, hanya sekitar 1,5 juta sampai 2 juta rupiah per tahun. Setelah area penanaman sayuran meningkat dan petani dapat menanam tembakau, pendapatan petani dari lahan kering marginal seluas 0,5 ha meningkat 25- 40% atau sebesar Rp. 400.000,- s/d Rp. 700.000,- pertahun.

Sumber: Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian,2011