Teknologi Perbaikan Kualitas Air Buangan untuk Lahan Pasang Surut

Teknologi Perbaikan Kualitas Air Buangan untuk Lahan Pasang Surut

Dampak dari reklamasi lahan atau budidaya di lahan pasang surut terhadap lingkungan terutama kualitas air buangan lebih bersifat negatif karena dari kegiatan tersebut akan diusahakan mencuci unsur-unsur yang dapat meracun seperti besi dan sulfat. Akibatnya terjadi pemasaman lingkungan dan matinya atau kurang berkembangnya biota-biota air di sekitarnya. Untuk mendapatkan teknologi yang ramah lingkungan, BALITTRA telah mendapatkan gulma lokal purun tikus yang digunakan sebagai bioilter yang dapat mengurangi konsentrasi besi dan sulfat serta meningkatkan pH air.

Purun tikus mampu menyerap besi yang sangat tinggi (1500 ppm), sedangkan batas kritis konsentrasi besi pada hanya 250 ppm. Diduga dari aktivitas pengolahan lahan menebas gulma purun tikus , unsur besi ikut terangkut dan dapat meracuni tanaman sehingga mengurangi konsentrasi besi dalam tanah ditambah lagi pengurangan konsentrasi besi karena pencucian oleh air hujan.

Hasil penelitian Alwi (2011) menunjukkan bahwa peningkatan tumbuhan purun tikus dan bulu babi akan meningkatkan kemampuan tumbuhan tersebut menurunkan rata-rata konsentrasi Fe, Fe total dan SO4. Air gambut dan tumbuhan purun tikus mampu menurunkan konsentrasi Fe dan Fe total pada air hasil lindian terbesar sedangkan air payau dan tumbuhan purun tikus mampu menurunkan konsesntrasi SO4 pada air hasil lindian. Penelitian sebelumnya menunjukkan biofilter purun tikus mampu menurunkan konsentrasi Fe antara 6 ppm sampai 27 ppm san SO4 antara 30 ppm sampai 75 ppm pada air buangan.

Kemampuan adaptasi gulma ini pada kadar Fe dalam jumlah besar sehingga dapat dimanfaatkan sebagai biofilter untuk menekan keberadaan unsur toksik pada saluran air. Kadar besi yang dapat diserap purun tikus muda lebih besar dibanding yang dewasa atau yang tua.