Budidaya Tanaman Teh Organik

Penggunaan pestisida dan pupuk kimia yang berlebihan dalam jangka panjang akan menimbulkan pencemaran terhadap manusia. Disamping beracun, bahan-bahan tersebut menjadi penyebab timbulnya beberapa penyakit yang ditakuti manusia, diantaranya kanker dan gangguan syaraf. Budidaya Teh Organik merupakan bentuk praktek nyata dalam upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan. 

Persiapan kebun untuk teh organik

Budidaya teh organik perlu pesiapan lahan yang khusus. dan berbeda antara pada areal yang sudah ada dan pada areal baru.

Persiapan lahan pada areal yang sudah ada

Perkebunan teh organik harus terpisah dari perkebunan teh konvensional. Pemisahan dapat berupa jalan, parit, semak, pepohonan, barisan yang kosong, kebun lain, gunung dan lain-lain, untuk mencegah kontaminasi bahan-bahan yang tidak diperbolehkan dalam budidaya organik, baik melalui rembesan air, angin, maupun pelindin. Pada tanah datar, lebar isolasi cukup 25 m. Pada topografi miring, lebar isolasinya adalah sampai kebun organik terhindar dari aliran air lahan yang tidak organik. 

Lokasi kebun teh organik dipilih pada areal yang tidak banyak terserang serangga hama agar tidak banyak menggunakan pestisida nabati/mikroba, tidak banyak pencemaran dari sekitar, banyak sumber bahan organik serta populasi tanaman masih rapat. Kebun teh pada dataran tinggi dan tidak ada masalah ledakan serangga hama sangat baik untuk mengusahakan teh organik Untuk mengusahakan teh organik diperlukan masa transisi atau masa terakhir pemberian bahan yang dilarang sampai mendapat sertifikat organik. Menurut Council Regulation no.2092/91, masa konversi untuk tanaman musiman 2 tahun dan untuk tanaman tahunan 3 tahun. Sedangkan menurut IFOAM 2000, masa konversi untuk tanaman musiman 12 bulan dan tanaman tahunan 18 bulan. Selama periode konversi, pengelolaan harus didasarkan pada prinsip pertanian organik. Standar minimum budidaya teh organik adalah tanpa menggunakan bahan kimia buatan baik pupuk maupun pestisida.

Penanaman baru

Persiapan yang perlu dilakukan pada lahan penanaman baru yaitu melakukan survey dan pemetaan tanah untuk menentukan lahan yang sesuai. Lahan dapat berupa hutan belantara, semak belukar, atau lahan-lahan yang dikonversikan ke tanaman teh. Kedalaman solum 60 cm, lahan harus dalam keadaan gembur, tanah bersih dari sisa-sisa akar dan kayu-kayuan. Jangka waktu persiapan lahan dengan penanaman kurang lebih 2-3 bulan.

Bahan tanaman harus bersertifikat organik , tidak diperlakukan bersama dengan bahan, bahan kimia yang tidak diperbolehkan, tidak termasuk genetik modified organism (GMO) atau tanaman hasil rekayasa genetika (transgenic). Klon tahan terhadap serangan hama penyakit, mampu beradaptasi dengan iklim lokal, tahan terhadap beberapa stress (kekeringan, hara dll), dan berpotensi hasil tinggi. Minimal ada 5 jenis klon yang ditanam , agar keanekaragaman lebih besar sehingga resiko yang akan diperoleh bila terjadi ledakan hama atau penyakit semakin kecil. Semua benih dan bahan tanaman harus bersertifikat organik,bila tidak ada alternatif lain yang tersedia, benih dan bahan tanaman hasil pertanian konvensional dapat digunakan. Klon teh yang diannjurkan oleh PPTK adalah klon teh seri GMB 1, GMB 2 , GMB 3, GMB 4, GMB 5, GMB 6, GMB 7, GMB 8, GMB 9, GMB 10, dan GMB 11, yang mempunyai potensi hasil 4,0-5,8 ton/ha/thn, dan tahan terhadap serangan penyakit cacar teh Untuk jenis sinensis adalah klon GMBS 1, GMBS 2, GMBS 3, GMBS 4 dan GMBS 5, yang mempunyai potensi produksi lebih tinggi dari klon teh Yabukita dari Jepang. Jenis klon ini khusus untuk teh hijau.

Penanaman pohon pelindung

Tanaman pelindung sementara yang digunakan yaitu jenis Clotalaria sp, Tephhrosia sp, Sesbania sesban dan Moghania. Setelah selesai penanaman teh, biji tanaman pelindung ditebarkan diantara barisan tanaman dengan selang 2 baris, sehingga diperlukan kira-kira 8 - 10 kg/ha.

Setelah tanaman pelindung sementara tidak dapat dipertahankan (2-3 tahun) diperlukan tanaman pelindung tetap. Pohon pelindung tetap ditanam 1 tahun atau bersamaan dengan penanaman teh. Jenis tanaman pelindung tetap diantaranya Lamtoro (Leucaena leucichepala), Salamander (Gravillea robusta), Glerisidia (Glericidia maculate), Nimba (Azadirahta indica), Mindi ( Melia azedarah), Sagawe ( Abus pecatorium), Malaktika , Suren (Tona suren), Kayu bogor (Masopsis maniii), Sengon (Albisis siensis), Ramayana, dll).

Pembenihan

Setek diambil dari kebun induk teh organik yang dikekola khusus dan dipangkas ± 4 bulan sebelumnya. Ranting setek dipotong setinggi 15 cm dari bidang pangkas. Setek diambil dari ranting setek sepanjang ± 1 ruas dan 1 helai daun. Setek ditanam dengan menancapkan tangkainya ke dalam tanah di polybag dengan daun menghadap kea rah tangan, arah daun harus condong ke atas dan tidak boleh saling menutupi satu sama lain. 

Sumber: Pedoman Teknis Pengembanan Budidaya Teh Organik. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta, 2009.