Panen Pada Perkebunan Teh Organik

Pada budidaya teh organik, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu daur petik, pengaturan areal petikan, pengaturan tenaga pemetik, jenis petikan, dan pelaksanaan pemetikan. 

Kecepatan pertumbuhan pucuk sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain umur pangkasan, ketinggian tempat, iklim, dan kesehatan tanaman. Semakin tua umur pangkas semakin lambat pertumbuhan tunas sehingga semakin panjang daur petik. Semakin tinggi letak kebun dari permukaan laut semakin lambat pertumbuhan tunas sehingga semakin panjang daur petik. Musim kemarau pertumbuhan tunas makin lambat sehingga daur petik lebih panjang daripada musim penghujan. Makin sehat tanaman makin cepat pertumbuhan pucuk dan makin pendek daur petik bila dibandingkan dengan tanaman yang kurang sehat.

Pengaturan areal/hanca petik harus mempertimbangkan keseragaman pucuk yang dihasilkan setiap hari dengan komposisi pucuk dari umur pangkas yang seimbang baik umur pangkasan tahun pertama, kedua, ketiga maupun keempat.

Pemetik ditempatkan berdasarkan keterampilan umur pangkas. Pemetik yang keterampilannya rendah ditempatkan di kebun tinggi (umur pangkasan 4 tahun). Pemetik yang keterampilannya cukup/sedang ditempatkan di kebun rendah (umur pangkasan 2-3 tahun). Pemetik yang keterampilannya tinggi ditempatkan di kebun jendanan dan kebun pendek (umur pangkas 1-2 tahun). Kebutuhan tenaga pemetik dapat dihitung berdasarkan rata-rata kapasitas petik/HK dalam setahun, jumlah hari kerja setahun, % absensi pemetik dalam setahun (A), dan rata-rata produksi pucuk/ha/tahun. 

Jenis Petikan dapat dibedakan menjadi petikan halus, petikan medium dan petikan kasar. Petikan halus yaitu apabila pucuk yang dihasilkan terdiri atas pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b) dengan satu daun yang muda (m), biasa ditulis dengan rumus p+1 atau b+1 m. Petikan medium yaitu apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan dua daun , tiga daun muda serta pucuk burung dengan satu, dua atau tiga daun muda (p+2, p+3 b+1 m, b+2m, b+3m). Petikan kasar yaitu apabila pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan empat daun atau lebih, dan pucuk burung dengan beberapa daun tua (p+4 atau lebih, b+(1-4t).

Panen Budidaya Teh Organik dilakukan dengan pemetikan, pemberian label dan pengangkutan. Pemetikan dapat dilakukan dengan gunting petik atau mesin petik. Setelah memetik, pucuk hasil pemetikan dimasukkan ke dalam wadah pucuk atau waring yang berbeda dengan waring pucuk lain atau atau diberi label bertuliskan "organik". Dalam pengangkutan diberi surat pengantar yang bertuliskan lokasi/blok, nama kelompok/mandor dan tanggal pemetikan. Pengangkutan dilakukan menggunakan truk yang bersih dari sisa-sisa pucuk sebelumnya.

Ada dua jenis pemetikan, yaitu pemetikan jendangan dan pemetikan produksi. Pemetikan jendangan adalah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal, yaitu setelah pemangkasan tanaman dalam upaya pembentukan bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun. Pemetikan produksi adalah pemetikan yang dilakukan menjelang tanaman dipangkas.

Pemetikan jendangan dilaksanakan dua sampai tiga bulan setelah pangkasan, apabila 60% areal telah memenuhi syarat untuk dijendang. Tinggi petikan jendangan berkisar tergantung dari tinggi rendahnya pangkasan, yaitu tinggi jendangan 20-25 cm untuk pangkasan 40 - 45 cm, tinggi jendangan 15 - 20 cm untuk pangkasan 45 - 50 cm atau 50 - 55 cm, dan tinggi jendangan 10 - 15 cm untuk pangkasan 50 - 55 cm dan 60 - 65 cm. Jenis petikan yang dilakukan ialah petikan medium, yaitu pucuk peko dengan dua daun (p+2) atau pucuk burung dengan satu/dua daun muda (b+1m/b+2m). Bidang petik harus rata pada ketinggian yang sama selama masa pemetikan jendangan. Daur petik berkisar 5 - 6 hari. Pemetikan jendangan dianggap cukup atau dihentikan apabila tunas sekunder telah dipetik dan bidang petik telah melebar dengan ketebalan daun pemeliharaan yang cukup. Pemetikan jendangan dilakukan 6 - 10 kali petikan, kemudian diteruskan dengan pemetikan produksi.

Pemetikan produksi dilaksanakan setelah pemetikan jendangan dianggap cukup pada umumnya untuk petikan medium dengan cara pemetikan sedang, daur petik berkisar antara 7-8 hari untuk daerah rendah, 7-9 hari untuk daerah sedang dan daerah tinggi. Pelaksanaan pemetikan dilakukan mengikuti barisan perdu dalam barisan berbanjar. Pemetikan pucuk dilakukan dengan ibu jari dan telunjuk satu per satu (ditaruk) sesuai dengan jenis petikan yang dikehendaki. Bidang petik harus rata antara satu perdu dengan perdu yang lain. Wadah pucuk hasil petikan harus menggunakan keranjang yang digendong di atas panggung. Waring digunakan untuk menampung hasi petikan dengan ukuran waring mnimal 150 x 160 cm dengan daya muat + 20 kg.

Pemetikan produksi dapat dibedakan berdasarkan daun yang ditinggalkan, yaitu pemetikan ringan, pemetikan sedang dan pemetikan berat. Pemetikan ringan yaitu apabila daun yang tertinggal pada perdu satu atau dua daun di atas kepel, biasanya ditulis dengan rumus k+1 atau k+2 yang artinya kepel + satu daun atau kepel + dua daun. Pemetikan sedang yaitu apabila daun yang tertinggal pada bagian tengah perdu tidak ada tetapi pada bagian pinggir perdu ditinggalkan satu daun di atas kepel (bagian tengah k+0), pada bagian pinggir (k+1) dan pemetikan berat, yaitu apabila pemetikan tidak meninggalkan daun sama sekali pada perdu di atas kepel (k+0).

Sumber: Pedoman Teknis Pengembangan Budidaya Teh Organik. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta. 2009.