Pemeliharaan Kebun Teh Organik

Pemeliharaan Kebun Teh Organik

Pemupukan

Dalam budidaya teh organik, pemupukan merupakan pemberian makanan pada tanah dengan bahan organik sehingga tanah menjadi sehat dan subur dan selanjutnya tanah dapat menyediakan makanan yang cukup untuk tanaman teh. 

Pupuk organik dapat berupa : 
  • Sampah pangkasan, 
  • Sisa tumbuhan dan hewan dari lahan yang sama atau lahan yang lain; 
  • Kompos atau bokashi.
  • Sampah organik rumah tangga, kota dan pasar; 
  • Limbah sampah organik pabrik ; 
  • Limbah sampah peternakan; 
  • Tanaman khusus penghasil bahan organik (pupukhijau, pohon pelindung dan lain-lain). 
Pemanfaatan pupuk hijau : 
  • Pupuk hijau dapat diperoleh dari daun, cabang, ranting dan rumput yang diangkut ke lapangan untuk disebarkan sebagai mulsa di atas tanah atau dibenamkan ke dalam tanah; 
  • Pupuk hijau juga berguna untuk mempertahankan dan meningkatkan bahan organic tanah dan dapat meningkatkan nitrogen; 
  • Pupuk hijau dapat ditanam di lapangan dan dibenam selama bera atau sebelum penanaman tanaman utama; 
  • Pupuk hijau dapat ditanam secara tumpangsari (intercrop)) sebagai mulsa hidup untuk tanaman utama; 
  • Pupuk hijau dapat ditanam sebagai alley cropping, pohon atau perdu pupuk hijau, ditanam sebagai pagar berjarak beberapa meter dan diantaranya (alley) dapat ditanami tanaman utama.
Pembentukan bidang petik

Cara pemenggalan (centering) : dilakukan pada tanaman asal setek yang ditanam dalam bekong, dilakukan sebagai berikut: 
  • Setelah benih ditanam dan berumur 4-6 bulan, batang utama di centering setinggi 15-20 cm dengan meninggalkan minimal 5 lembar daun. Apabila pada ketinggian tersebut tidak ada daun maka centering dilakukan lebih tinggil agi; 
  • Setelah cabang baru tumbuh setinggi 50-60 cm, (kira-kira 6-9 bulan) setelah centering dan terdapat cabang yang tumbuh kuat ke atas, maka perlu dipotong (decentering) pada ketinggian 30 cm untuk memacu pertumbuhan ke samping; 
  • Tiga sampai enam bulan kemudian (percabangan baru sudah mencapai 60-70 cm), dilakukan pemangkasan selektif bagi cabang, selanjutnya dibiarkan selama 3-6 bulan, kemudian dijendang (tipping) pada ketinggian 60-65 cm atau 15-20 cm dari bidang pangkas.
Cara perundukan (bending) : dilakukan dengan cara melengkungkan batang utama dan cabang-cabang sekunder tanpa mengurangi bagian-bagian tanaman agar merangsang pertumbuhan tunas pada bagian tersebut, dengan cara : 
  • Setelah benih ditanam di lapangan 4-6 bulan, batang utama dilengkungkan (dirundukkan) menggunakan tali bambu atau cagak kayu sehingga membentuk sudut 45Odari permukaan tanah; 
  • Enam bulan setelah bending I , tunas-tunas sekunder telah mencapai panjang 40-50 cm kemudian dilakukan bending II dengan arah menyebar ke segala arah. Bending dilakukan 2-3 kali sampai cabang menutup kesegala arah; 
  • Cabang yang tumbuh kuat ke atas setelah bending II dipotong setinggi 30 cm; 
  • Tunas-tunas yang tumbuh setelah bending II (kecuali yang tumbuh kuat keatas) dibiarkan sampai mencapai ketinggian 60-70 cm (6-9 bulan setelah bending II), kemudian di pangkas setinggi 4 cm.
Pemangkasan

Pemangkasan dilakukan sebagai berikut :

  1. Pangkasan pada daerah dataran sedang (800-1200 m dpl) , tinggi pangkasan 50-60 cm dengan membersihkan cabang-cabang kecil dan daun-daun serta membiarkan 1-2 cabang berdaun (pangkasan jambul); 
  2. Pangkasan pada daerah datarantinggi (> 1200 m dpl), tinggi pangkasan 50-60 cm dengan membersihkan cabang-cabang kecil dan daun (pangkasan bersih), serta membiarkan1-2 cabang berdaun (pangkasan jambul) terutama pada tanaman muda yang berumur kurang dari 10 tahun. 
Bagi kebun produktif, pangkasan berkisar antara 40-70 cm. Tinggi pangkasan yang lebih rendah dari 40 cm akan membentuk percabangan yang terlalu rendah, sehingga menyulitkan dalam pemetikan. Sebaliknya jika lebih tinggi dari 70 cm juga akan terlalu tinggi sehingga menyulitkan dalam pelaksanaan. Setelah pemangkasan perlu diikuti dengan perlakuan gosok lumut dan pengolahan tanah dengan cara garpu rengat. 

Sumber: Pedoman Teknis Pengembangan Budidaya Teh Organik. Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan. Jakarta. 2009.