Penataan Varietas Tebu

Penataan varietas tebu merupakan salah satu langkah penting yang harus dilakukan di masing-masing wilayah pengembangan tebu agar rendemengula yang diperolehdapat optimal. Tujuan penataan varietas tebu adalah untuk mendapatkan komposisi varietas tebu unggul pada wilayah tertentu secara proporsional berdasarkan tingkat kemasakan sehingga masa giling optimal dapat dicapai dan pada gilirannya akan dapat meningkatkan rendemen minimal 10%. Permasalahan yang ada pada saat ini adalah penggunaan varietas-varietas tebu yang belum didasarkan pada tipologi wilayah dan komposisi kemasakan yang seimbang antara masak awal, masak tengah dan masak akhir sehingga rendemen tidak optimal.

Penataan varietas tebu meliputi :
  1. Penentuan varietas unggul yang akan ditanam sesuai dengan tipologi lahan pengembangan; 
  2. Penetapan komposisi kemasakan yang seimbang antara tebang awal, tengah dan akhir pada suatu wilayah; 
  3. Kesesuaian varietas unggul dengan rencana tebang dan masa tanam; 
  4. Ketersediaan bahan tanam yang sehat, murni dan tepat waktu pada saat dibutuhkan.
Penetapan varietas unggul tebu yang dikembangkan

Untuk memperoleh varietas unggul di setiap pabrik gula perlu dilaksanakan tahapan sebagaiberikut :

1. Koleksivarietas: Semua benih sumber yang diperoleh dari manapun dalam jumlah terbatas segera dilakukan penangkaran bibit hingga mencukupi untuk kegiatan Orientasi varietas (ORVAR). Koleksi varietas ini apabila dalam adaptasinya tidak cocok, maka verietas tersebut dapat dihapuskan dari koleksi.

2. OrientasiVarietas: Orientasi varietas ini dilakukan pada varietas-varietas bina yang baru, untuk melihat potensi daya adaptasinya, kemampuan produksi, kesehatan tanaman dan daya keprasnya. Disamping itu juga untuk mengidentifikasi tipologi lokasi spesifik yang sesuai untuk keragaan produktivitas, serta mempelajari perilaku dan kebutuhan teknis yang harus dipenuhi suatu varietas agar berproduksi tinggi. Pada tebu rakyat, pengadaan sumber bahan tanam harus dilakukan koordinasi dengan P3GI. Rekomendasi terhadap varietas bina yang akan diadaptasikan semaksimal mungkin berasal dari kelas benih penjenis atau KBP, yaitu bibit yang berasal dari kultur jaringan dan atau dirawat air panas. Secara simultan kegiatan ORVAR juga diikuti dengan penangkaran bibit varietas bina tersebut untuk penjenjangan pada kelas benih dasar (KBN) yang selanjutnya akan diteruskan tahapannya menjadi kelas benih pokok KBI dan kelas benih sebar (KBD).

3. Rating varietas: Rating varietas untuk menetapkan maksimal 9 varietas yang cocok dikembangkan pada setiap wilayah kerja pabrik gula dengan memperhatikan keseimbangan komposisi kemasakan dan kesesuaian tipologi lahan.

4. Rating dilaksanakan oleh petugas pabrik gula (sinder, mandor kebun), anggota kelompoktani dan petugas Dinas (Mantri perkebunan). Pelaksanaan rating dilakukan menjelang musim giling dan pada menjelang akhir musim giling, dengan langkah-langkah sebagai berikut: 
  • Identifikasi kebun-kebun tebu giling yang mempunyai produktivitas tinggi, identifikasi tipologi lahan, identifikasi kebenaran nama varietas, identifikasi keunggulan dan kelemahan hama varietas atau dari tanaman ORVAR; 
  • Lakukan penilaian terhadap keragaan tanaman berdasarkan habitus, kesehatan tanaman, kerapatan batang, ketegakan, serta komponen produksi yang telah dihimpun oleh petugas Riset dan Pengembangan Pabrik Gula;
  • Lakukan urutan rangking pilihan varietas atas dasar total nilai dari sejumlah peserta rating; 
  • Data teknis keunggulan dan kelemahan varietas yang dikembangkan segera disusun agar penempatan varietas sesuai dengan perilaku varietas; 
  • Tetapkan kesepakatan, varietas yang dikembangkan dengan mempertimbangkan komposisi kemasakan yang seimbang. Setiap PG menetapkan paling banyak Sembilan varietas.
Untuk memberikan pilihan varietas pada setiap tipologi lahan, dilakukan identifikasi berdasarkan tekstur tanah, status pengairan dan status drainase. Tekstur berat bila tanah menunjukkan kandungan lempung/liat yang tinggi, serta terjadi keretakan tanah lebih dari 5 cm pada musim kemarau. Tekstur ringan bila kandungan pasir tinggi hingga jenis tanah geluhan(foamy). Status pengairan yaitu berpengairan bila mendapatkan siraman dari irigasi atau pompa 3 kali atau lebih pada musim kemarau, tadah hujan bila hanya dapat diairi kurang dari 3 kali dan sepenuhnya mengandalkan tadah hujan. 

Sumber: Pedoman Penataan Varietas Tebu, Direktorat Jenderal Perkebunan, Direktorat Perbenihan dan Sarana Produksi. Jakarta. 2009