Penunjang Rehabilitasi Tanaman Kakao

Penunjang Rehabilitasi Tanaman Kakao

Rehabilitasi Naungan

Kakao dapat tumbuh baik apabila mendapat penyinaran matahari dan kecepatan angin yang tepat, untuk itu diperlukan naungan. Naungan dibedakan menjadi dua macam, yaitu naungan tetap dan naungan sementara. Naungan ini sangat mempengaruhi pencahayaan pada kakao sedangkan pencahayaan sangat berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas tanaman kakao. Oleh karena itu maka naungan perlu diatur percabangannya melalui pemangkasan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kondisi naungan adalah : 
  • Tingkat kesuburan tanah, dimana tanah yang subur sedikit membutuhkan naungan, sebaliknya lahan yang kurang subur memerlukan banyak naungan; 
  • Kondisi iklim, dimana tempat yang iklimnya kering lebih banyak membutuhkan naungan; 
  • Tinggi tempat tanam, dimana lokasi kebun di dataran yang relatif lebih rendah lebih banyak membutuhkan naungan; 
  • Kondisi tanaman, dimana tanaman kakao yang lemah dan tanaman kakao yang muda lebih banyak memerlukan naungan; 
  • Jenis naungan, dimana pohon naungan yang dipilih adalah yang berakar dalam bila dibandingkan dengan akar kakao, mudah dipangkas dan cepat menumbuhkan tunas baru, diupayakan tanaman jenis Leguminose atau tanaman yang mudah mengikat nitrogen, menghasilkan banyak bahan organik dan dapat digunakan sebagai bahan bakar; 
  • Tata tanam naungan, yaitu menanam penaung diantara barisan kakao pada pertemuan garis diagonal antara pohon kakao, dan 
  • Intensitas naungan, yang dapat diatur melalui pemangkasan secara berkala tergantung dengan kondisi dan situas ikebun. Idealnya tinggi naungan tetap adalah 2x tinggi tanaman kakao, sehingga ada ruang untuk angin berembus.

Rehabilitasi Tanah / Lahan

Rehabilitasi tanah/lahan perlu dilakukan untuk mengurangi pencucian unsur hara dan erosi. Rehabilitasi tanah dapat dilakukan sebagai berikut: 
  • Pengawetan lahan dengan perbaikan pada teras-teras individu maupun teras bersambung (sabuk gunung); 
  • Pada lahan datar lebih diutamakan pembuatan selokan/saluran drainase agar tidak terjadi genangan air yang merusak perakaran kakao; 
  • Bila memungkinkan dapat dibuat rorak yaitu lubang dengan ukuran panjang 100 cm, lebar 30 cm dan dalam 40 cm. Rorak dibuat diantara dua barisan tanaman kakao. Rorak ini dapat diisi bahan organik dari sisa pangkasan, yang nantinya untuk dijadikan kompos dalam upaya memperbaiki struktur tanah; 
  • Pada upaya perbaikan tanah dan penambahan unsur hara tanah, dianjurkan lebih banyak menggunakan pupuk organic disamping pupuk buatan. 

Bilamana menggunakan pupuk an organik/pupuk buatan, maka dosis umum yang dianjurkan per pohon per tahun adalah sebagai berikut: 
  • Untuk tanaman berumur 1 tahun, pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 25 gram, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 20 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 20 gram; 
  • Untuk tanaman kakao berumur 2 tahun, pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 50 kg, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 40 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 40 gram;
  • Untuk tanaman berumur 3 tahun pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 75 gram, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 40 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 60 gram; 
  • Untuk tanaman kakao berumur 4 tahun, pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 100 kg, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 40 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 80 gram; 
  • Untuk tanaman berumur 5-10 tahun pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 150 gram, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 60 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 120 gram; 
  • Untuk tanaman kakao berumur lebih dari 10 tahun, pupuk yang diberikan adalah urea diberikan dua kali masing-masing 200 kg, SP-36 diberikan dua kali masing-masing 80 gram, dan KCl diberikan dua kali masing-masing 160 gram.
Pemberian pupuk dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan, masing-masing ½ dosis. Namun demikian dosis tersebut dapat berubah sesuai dengan tingkat kesuburan tanah setempat.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang sering dijumpai pada pertanaman kakao adalah Hama Helopeltis sp. ,kutu putih, Ulat kilan dsb. Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman kakao ini lebih diutamakan pada pencegahan secara dini. Pencegahan dan pengendaliannya dilaksanakan melalui penyemprotan pestisida secara teratur. Disamping itu pengaturan naungan dalam upaya mengurangi kelembaban kebun, pangkasan pemeliharaan dilaksanakan secara rutin misalnya wiwil dan kegiatan sanitasi kebun. Pencegahan secara kimiawi bila memungkinkan dihindari.

Rehabiitasi tanaman kakao ini harus dilaksanakan secara terpadu, saling berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan dan kegiatan perlindungan tanaman serta harus didukung dengan kegiatan rehablitasi naungan dan rehabilitasi lahan. 

Sumber: Petunjuk Teknis Rehabilitasi Tanaman Kakao (Sambung Samping). Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. 2000.