Prospek, Peluang dan Potensi Wijen

Prospek, Peluang dan Potensi Wijen

Prospek ekonomi wijen

Tanaman wijen merupakan komodiiitas yang bernilai ekonomi tinggi, dan dibutuhkan sebagai bahan baku aneka industri di berbagai negara di dunia, terutama industri makanan dan minyak goreng. Prospek ekonomi wijen cenderung makin baik dan cerah sebagai komoditas perdagangan antar negara di dunia. Pasar potensial berdaya serap tinggi terhadap produk wijen adalah Jepang, Malaysia dan Singapura. Penyebab utama peningkatan kebutuhan produk wijen di Jepang adalah kecenderungan konsumen menyukai makanan sehat, adanya pola penganekaragaman (diversifikasi) pangan , dan permintaan industri minyak nabati yang terus meningkat. Di Jepang, wijen biasa digunakan sebagai variasi menu pangan, misalnya wijen dicampur saus untuk shabu-shabu, hotdog, dan humberger. Di Amerika dan |Eropa, minyak wijen dipakai sebagai pengganti minyak zaitun atau minyak salad. Disamping itu wijen banyak digunakan untuk isi burger, berbagai cake dan biskuit. Penggunaan produk wijen ini sudah meluas ke berbagai negara di Timur Tengah dan Afrika. 

Kebutuhan produk wijen dunia cenderung meningkat, terutama berupa minyak wijen. Minyak wijen makin digemari masyarakat karena mempunyai kadar asam lemak jenuh rendah sehingga pemakaiannya tidak mengganggu kesehatan penderita kolesterol tinggi. Di negara-negara yang pendapatan perkapita relatif tinggi, konsumsi munyak wijen cenderung makin tinggi pula, hal ini ditandai oleh adanya kecenderungan masyarakat maju untuk makin banyak mengkonsumsi minyak makan yang tidak mengandung kolesterol tinggi. Oleh karena itu wijen merupakan komoditas pertanian yang mempunyai peluang agribisnis atau agroindustri yang sangat prospektif sehingga layak dikembangkan di negara-negara atau daerah yang mempunyai keunggulan komparatif sumberdaya dan kompetitif pemasarannya.

Peluang dan potensi wijen

Pola pangan harapan (PPH) tahun 2000 yang mengacu kepada anjuran (rekomendasi) FAO menunjukkan bahwa konsumsi minyak dan lemak untuk penduduk Indonesia adalah 16,63 gram/kapita/hari. Hasil kajian Unit Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR) Departemen Pertanian menunjukkan tingkat konsumsi minyak dan lemak di Indonesia yang umumnya berupa minyak goreng masih di bawah standar, yakni baru 3,3%-8,3% dari proporsi yang dianjurkan sebesar 10%. Oleh karena itu peluang permintaan minyak goreng, khususnya minyak wijen diperkirakan terus meningkat pada masa yang akan datang. 

Peluang Pengembangan wijen di Indonesia amat memungkinkan karena daya dukungnya mamadai. Faktor pendukung pengembangan wijen di Indonesia adalah potensi sumberdaya lahan yang mamadai, prospek pasar yang cerah, produksi wijen yang cukup tinggi, dan produksi wijen yang bernilai ekonomi tinggi. 

Sumber daya lahan: Tanaman wijen mempunyai daya adaptasi yang luas terhadap lingkungan (agroekosistem) tropis, termasuk lahan-lahan kering dan kritis yang sudah tidak cocok untuk tanaman lain. Dalam rangka pengembangan lahan kering di Indonesia, maka pemanfaatan lahan kering dengan tanaman wijen di berbagai provinsi di wilayah Indonesia sangat mendukung program ini.

Prospek pasar : 

Prospek wijen sebagai komoditas ekspor cukup cerah karena kebutuhan produksi wijen dunia cenderung menikat seiring dengan kemajuan industri dan kepedulian masyarakat terhadap kecukupan gizi ataupun kesehatan. Disamping sasaran ekspor, kebutuhan wijen di dalam negeri selalu lebih besar daripada produksi.

Potensi produksi wijen : 

Kepastian hasil komoditas wijen relatif lebih stabil daripada tanaman lain, sehingga mempunyai peluang dibudidayakan secara monokultur berpola agribisnis dan agroindustri. Namun demikian pola tumpangsari wijen dengan kacang hijau dan jagung dapat menambah pendapatan bersih, masing-masing sebesar 33% dan 78%. 

Produksi wijen : 

Produksi utama wijen adalah biji. Biji wijen bernilai ekonomi tinggi karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai bahan industri. Di pasar dalam negeri harga produk wijen bervariasi tergantung pada jenis (macam)produknya. Harga produk wijen makin meningkat lagi setelah biji disosoh, bahkan bila diproses menjadi minyak wijen harganya semakin meningkat. Pengembangan wijen ini dapat meningkatkan pendapatan petani dan mendorong berkembangnya agroindustri, serta pemerataan pembangunan di daerah-daerah berlahan dan beriklim kering seperti di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Tanaman wijen amat cocok dikembangkan di lahan kering yang beriklim jering pula. Potensi yang dimiliki tanaman wijen adalah: Toleran terhadap kekeringan, resiko kegagalan usaha relatif kecil, input usaha rendah, tanaman pendek (genjah) ± 3 bulan, produksi tidak mudah rusak, mudah dikemas dan didistribusikan, mempunyai nilai ekonomi tinggi, mempunyai keunggulan komparatif tinggi untuk dibudidayakan di agroekosistem lahan kering, dan dapat ditanam secara monokultur ataupun tumpang sari dengan palawija atau tanaman industri.

Sumber : Rahmat Rukmana, Ir.1998. Budidaya Wijen. Penerbit Kanisius. Jakarta.