Ramuan Herbal Untuk Ayam Organik

Ternyata bukan hanya beras organik yang dapat kita hasilkan, ayam pedaging pun dapat kita jadikan sebagai ayam organik melalui teknologi pakan tertentu. Dalam pemeliharaan ayam pedaging, peternak sudah terbiasa memberikan antibiotik kepada ternaknya sebagai suatu upaya untuk mencegah ayam terserang penyakit tertentu. Namun cara ini memberikan efek samping berupa adanya residu antibiotik pada tubuh ayam, sehingga seringkali mengurangi preferensi konsumen untuk mengkonsumsi daging ayam. Untuk mengatasinya, sebenarnya kita bisa mengganti antibiotik tersebut dengan probiotik yang berasal dari ramuan herbal (bahan tanaman).

Di Cina, para peternak ayamnya sudah lama menggunakan ramuan herbal sebagai pakan tambahan ternak (feed additive). Pada ramuan herbal tersebut terdapat Polisakarida yang merupakan komponen penting sebagai modulator kekebalan tubuh atau "immuno modulator". Para peternak ayam di Indonesia pun sudah mulai banyak yang menerapkan pemberian makanan tambahan berupa ramuan herbal tersebut. Praktek ini selain didorong oleh makin maraknya penggunaan ramuan herbal di bidang peternakan, juga karena negeri kita tercinta ini memiliki kekayaan hayati tumbuhan obat yang tinggi, sehingga menyediakan alternatif yang luas bagi para peternak untuk melakukan berbagai eksperimen dalam bidang pakan dan pakan tambahan ternak. Bahkan Balai Penelitian Ternak telah melakukan pengujian terhadap bahan-bahan tanaman pilihan yang dibuat jamu melalui proses fermentasi dan memberikannya kepada ayam pedaging sebagai probiotik, pengganti antibiotik yang selama ini biasanya diberikan kepada ternak ayam melalui air minum. Dengan pemberian probiotik melalui ramuan herbal ini diperoleh daging ayam organik yang aman dan sehat karena bebas dari residu antibiotik.

Manfaat dan keunggulan ramuan herbal

Hasil pengujian Balai Penelitian Ternak terhadap ramuan herbal yang terdiri atas Kencur, Temulawak, Temuireng, Lempuyang, Lengkuas, Kunyit, Sambiloto, Daun Sirih, Buah Mojopahit, Cabe Jawa, Jahe merah dan Bawang putih, menunjukkan bahwa ramuan herbal memiliki sejumlah keunggulan. Ayam yang mendapat ramuan herbal lebih tahan terhadap stress dan serangan penyakit. Kejadian ayam mati berkurang 3 kali lipat dengan pemberian ramuan herbal tersebut. Selain itu, mutu daging yang dihasilkan lebih baik. Hal ini antara lain dicirikan dengan karkas yang berwarna putih segar mengkilap, karkas terasa agak kencang bila diraba, serat irisan dagingnya rapat, dan aroma karkasnya segar (tidak anyir). Keunggulan lainnya, kotoran ayam lebih kering dan bau amonia dari kotoran/kandang berkurang, sehingga penggunaan ramuan herbal ini ramah lingkungan. Dengan aplikasi ramuan herbal ini, peternak tidak perlu lagi memberikan antibiotik dan antistress dalam air minum ternak.

Cara membuat dan aplikasi ramuan herbal

Anda bisa membuat ramuan herbal sendiri, karena bahan-bahan tanaman untuk ramuannya mudah didapat setempat, demikian juga bahan-bahan untuk proses fermentasinya. Selebihnya, cara pembuatannya pun tergolong mudah. 

Siapkan bahan-bahan tanaman obat untuk ramuan herbal yang terdiri atas Kencur, Temulawak, Temuireng, Lempuyang, Lengkuas, Kunyit, Sambiloto, Daun Sirih, Buah Mojopahit, Cabe Jawa, Jahe merah dan Bawang putih. Untuk setiap 1 kg bahan-bahan ramuan herbal tersebut, tambahkan molase atau gula merah sebanyak 125 ml, mikroba starter 125 ml, dan tambahkan air sampai volumenya mencapai 10 liter. Simpan bahan-bahan ramuan herbal tersebut dalam wadah yang kedap udara selama 6 hari, sehingga terjadi proses fermentasi anaerob secara optimal.

Setelah proses fermentasi anaerob selama enam hari, larutan ramuan herbal sudah dapat anda berikan kepada ternak ayam dengan dosis 5 ml yang dicampur dengan 1 liter air minum. Larutan ramuan herbal hasil fermentasi anaerob ini dapat disimpan selama 6 bulan pada suhu ruang.