Sejarah Penyebaran Tanaman Coklat

Sejarah Penyebaran Tanaman Coklat

Tanaman Coklat adalah tanaman pohon yang termasuk jenis tanaman daerah panas, tinggi pohonnya antara 5 - 6 meter, berbunga dan berbuah sepanjang tahun. Buahnya berwarna ungu atau kuning yang bergantungan pada batang-batang yang besar. Bentuk buahnya lonjong dengan panjang antara 12 - 20 cm, mengandung biji-biji seperti kacang-kacangan antara 50 - 100 biji. Biji-biji inilah yang biasanya diolah menjadi bubuk atau kristal untuk dibuat minuman atau makanan lezat lainnya.

Tanaman cokelat pada awalnya merupakan tanaman liar di hutan-hutan tropis di Amerika Tengah dan Amerika Selatan bagian utara. Untuk pertama kali diketahui tumbuhan ini dibudidayakan dan digunakan sebagai bahan makanan dan minuman oleh suku Indian Maya dan kemudian suku Aztec.

Biji coklat yang kemudian diperkenalkan kepada bangsa Spanyol sebagai pencampur minuman, selanjutnya bertindak sebagai bangsa yang pertama kali merintis untuk melakukan usaha perkrmbangan pertanaman coklat di benua Afrika dan Asia. Penanaman coklat yang dirintis oleh bangsa Spanyol pada abad ke-15 di Afrika terdapat di Negeria, Kongo, dan Pantai Gading, sedangkan di benua Asia terdapat di daerah-daerah yang berdekatan dengan kawasan Pasifik.

Tanaman cokelat yang diperkenalkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1560 oleh bangsa Spanyol, tepatnya di Sulawesi Utara, dan tanaman cokelat tersebut berasal dari Filipina. Pada tahun sekitar 1860 sudah terdapat ribuan tanaman coklat di Ambon yang hasilnya kemudian diekspor melalui Filipina. Pada tahun yang sama perluasan penanaman coklat dimulai di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Penanaman coklat itu dilakukan di sela-sela areal pertanaman kopi.

Pengembangan pertanaman cokelat di Indonesia, khususnya pulau Jawa, berjalan dengan pesat. Pada tahun 1938 telah terdapat puluhan perkebunan cokelat yang menyebar di pulau Jawa. Perkembangan produksi cokelat di Indonesia periode 1990-2002 menunjukkan bahwa perkebunan rakyat pada tahun-tahun terakhir ini paling dominan, dengan andil produksi sekitar 50,50%. Peningkatan produksi oleh perkebunan negara relatif stabil.

Berdasarkan status pengusahannnya, perkebunan cokelat di Indonesia dapat dibagi menjadi tiga, yaitu: usaha perkebunan rakyat dengan luas areal 86%, perkebunan besar swasta dengan luas areal 7%, dan perkebunan besar negara dengan luas areal 7%.

Pada periode 1987/1988, menurut Gill dan Duffus Cocoa Statistics, produksi coklat dunia mencapai 2.o61 ribu ton. Produksi tertinggi berasal dari kebun cokelat Afrika (sebanyak 17 negara) yakni sebanyak 1.089,1 ribu ton, menyusul Amerika Selatan (7 negara) yakni sebanyak 588,1 ribu ton, kemudian dari Asia dan Oseania ( 12 negara termasuk Indonesia) yakni sebanyak 288 ribu ton, dan terkecil dari Amerika Utara (12 negara) yakni sebanyak 96 ribu ton. Pada periode ini Indonesia hanya mampu memproduksi 45 ribu ton, atau kalah jauh dari Malaysia yang pada periode yang sama menghasilkan biji coklat sebanyak 150 ribu ton. 

Program perluasan areal pertanaman coklat yang dimotori oleh pemerintah berjalan gencar karena diharapkan masa depan coklat di Indonesia masih cukup cerah. Hal ini terbukti dari kian meningkatnya permintaan dari negara-negara pengimpor. Untuk memenuhi permintaan itu, kita memiliki keunggulan komparatif dari negara lain. Lahan pengembangan masih terbuka lebar, tenaga kerja melimpah, dan secara geografis Indonesia terletak di tempat yang strategis, sehingga dekat ke banyak negara dan biaya transportasi jauh lebih murah.

Program perluasan tanaman coklat di Indonesia yang diarahkan terutama ke perkebunan rakyat berjalan mulus. Areal tanaman coklat di Indonesia sudah meluas dan menyebar hampir di semua provinsi. Dalam hal produksi dan perolehan devisa juga cukup nik tajam.

Untuk jangka panjang, produksi coklat dunia diramalkan akan terus meningkat karena negara-negara produsen utama coklat cenderung terus memperluas areal bertanam coklatnya. Dalam kondisi seperti diatas, konsumen sebagai penentu harga akan memilih coklat bermutu tinggi dengan harga murah.