Tanaman Tuba (Derris elliptica benth)

Tanaman Tuba (Derris elliptica benth) yang berpotensi sebagai biopestisida ini selain dijumpai hampir di seluruh wilayah di Indonesia juga terdapat di Bangladesh, Asia Tenggara, dan beberapa kepulauan di Pasifik. Tuba merupakan tumbuhan berkayu memanjat (liana) 7 - 15 pasang daun pada tiap rantingnya. Daun muda berambut kaku pada kedua permukaannya. Di bahagian bawah daun diliputi oleh bulu lembut berwarna perang. Batangnya merambat dengan ketinggian hingga 10 meter. Ranting-ranting Tuba tua berwarna kecoklatan.


Mahkota bunga tumbuhan Tuba berwarna merah muda serta sedikit berbulu. Tumbuhan beracun ini juga mempunyai buah berbentuk lonjong (oval), dengan sayap yang tipis di sepanjang kedua sisi. kekacang nipis dan rata berukuran 9 cm, lebar 0.6 - 2.5 cm. dan terdapat 1 - 4 biji dalam satu kekacang. Tumbuhan peracun ikan ini tumbuh terpencar-pencar, di tempat yang tidak begitu kering, di tepi hutan, di pinggir sungai atau dalam hutan belukar yang masih liar dan kadang-kadang ditanam di kebun atau pekarangan. Di Jawa tanaman Tuba didapati mulai dari dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1500 m dpl.

Salah satu sumber pestisida organik yang potensial untuk dibudidayakan secara massal adalah tuba (jenu, Derris elliptica). Sekarang ini, kita sudah melupakan tanaman tuba. Jarang sekali orang yang mengenal sosok tumbuhan ini, meskipun peribahasa "Air susu dibalas dengan air tuba." masih tetap diajarkan di sekolah. Masyarakat pedesaan, hanya mengenal tuba sebagai racun untuk menangkap ikan di sungai. Tuba adalah tumbuhan liana, yakni batangnya berkayu, tetapi memanjat dengan cara membelit. Hingga budidaya tuba memerlukan tiang atau tumbuhan lain sebagai panjatan.


Sebenarnya ada sekitar 204 spesies, sub spesies, varietas, dan kultivar Derris., tetapi yang paling banyak dibudidayakan masyarakat hanyalah Derris elliptica. Tuba bisa diperbanyak dengan cara generatif (melalui biji), maupun vegetatif (stek batang/cabang). Perbanyakan dengan stek batang/cabang, akan lebih cepat menghasilkan individu tanaman baru. Meskipun perbanyakan secara massal, akan lebih ekonomis menggunakan biji yang disemai. Pertumbuhan tuba agak lamban. Diperlukan umur di atas 5 tahun, agar tanaman mampu menghasilkan bunga dan buah (biji).

Bunga tuba berbentuk malai dengan warna pink cerah. Masing-masing kuntum bunga akan menghasilkan polong, yang hanya berisi satu biji, dengan bentuk dan ukuran sebesar biji buncis. Polong tuba akan berjatuhan di sekitar tajuk tanaman. Masa dorman biji tuba sangat singkat, kurang dari satu bulan. Hingga biji yang terkumpul harus segera disemai. Penyemaian dilakukan dalam wadah pot yang cukup besar (tinggi), dengan media pasir campur humus atau kompos. Wadah semai harus cukup tinggi, sebab akar tuba akan tumbuh terlebih dahulu, dengan ukuran cukup panjang.

Penyemaian biji tuba memerlukan waktu sekitar dua bulan, baru akan menumbuhkan tunas. Keping biji tuba akan tetap berada dalam media, hingga yang keluar hanyalah tunas bakal batang. Setelah tunas keluar, wadah semai dibongkar, dan kecambah tuba dengan akarnya yang sangat panjang itu dipindah satu-satu ke pot paling kecil, atau gelas plastik yang telah dilubangi bagian bawahnya. Semaian tuba dari biji baru bisa ditanam di lapangan pada umur di atas satu tahun. Beda dengan benih stek yang pada umur tiga sampai empat bulan sudah bisa dipindah ke lapangan.

Bahan stek tuba berupa cabang atau ranting berdiameter sebesar pensil atau jari tangan orang dewasa, dengan panjang potongan 30 cm. Bagian pangkal potongan stek, diolesi Rootone atau Bioroota (zat perangsang pertumbuhan akar). Kalau tidak tersedia dua bahan ini, bisa diganti dengan cairan umbi bawang merah yang dipotong. Penyemaian bisa dilakukan dalam pot dengan merdia pasir dan humus, atau di dalam lubang semai. Pot dan lubang semai harus disungkup dengan plastik bening, sampai tunas stek tumbuh. Pembukaan sungkup dilakukan secara bertahap, hingga semai tidak stres.

Budi daya tuba secara massal untuk tujuan komersial, tidak memerlukan tiang panjatan. Benih hasil semaian biji maupun setek, ditanam dengan jarak rapat pada bedengan, seperti halnya budidaya kentang atau ubijalar. Setelah satu tahun, bedengan dibongkar, akar tuba dipanen. Sebagian tajuk tananan dibuang, atau dijadikan bahan stek baru. Tanaman yang sudah dipanen akarnya, bisa ditanam kembali, untuk dipanen tahun depan, dengan hasil yang akan semakin tinggi. Hasil panen akar tuba, bisa langsung digunakan sebagai pestisida, bisa dikeringkan dan disimpan.

Akar tuba mengandung Rotenone, Tubatoxin, atau Paraderil (C23H22O6), yag merupakan racun kontak sangat kuat. Rotenone dari akar tuba, diambil dengan cara ditumbuk, kemudian dicampur air. Air tumbukan akar tuba akan berwarna putih susu, dan berbau sangat keras khas Rotenone. Aplikasi dalam pemberantasan hama di lahan pertanian, dilakukan seperti biasa, dengan cara penyemprotan menggunakan sprayer. Warna air tuba yang putih seperti susu inilah yang telah mengilhami nenek moyang kita menciptakan kiasan: "Air susu dibalas dengan air tuba!"