Wafer Dari Limbah Sayuran

Mendengar kata wafer, ingatan kita tertuju pada sejenis makanan ringan semacam biskuit yang sering disajikan para keluarga di tanah air, terutama pada momen lebaran. Kata wafer mengingatkan kita juga pada sejenis makanan ringan yang banyak digemari anak-anak karena banyak yang di bagian luarnya dilumuri coklat kering.

Namun wafer yang akan diterangkan dalam tulisan ini bukanlah wafer semacam itu, melainkan suatu bentuk alternatif pakan ternak yang terbuat dari limbah sayuran. Disebut wafer karena memang bentuknya berdimensi panjang, lebar dan tinggi/tebal, mirip dengan wafer yang kita kenal sebagai makanan ringan kesukaan anak-anak.

Potensi besar limbah sayuran sebagai sumber pakan ternak

Setiap tahun para peternak kerap kali menghadapi dua situasi yang memerlukan penanganan yang cermat. Pada musim kemarau mereka sulit memperoleh hijauan pakan ternak dengan jumlah dan mutu yang memadai. Sementara pada hari-hari biasa mereka kerap menyaksikan begitu banyak limbah sayuran, terutama dari kegiatan pasar, namun sulit dimanfaatkan untuk pakan ternak, karena adanya beberapa kelemahan. Limbah sayuran amat mudah busuk, memerlukan tempat penyimpanan yang luas (bulky), dan ketersediaannya berfluktuasi.

Namun selain beberapa kelemahan tadi, limbah sayuran sesungguhnya mempunyai potensi yang baik untuk dijadikan sebagai pakan alternatif. Limbah sayuran banyak mengandung bahan organik. Jenisnya pun beragam, antara lain wortel, kubis, kentang, klobot jagung, daun bawang, daun seledri, sawi daun, kecambah kacang hijau, daun kembang kol, daun singkong, kangkung, bayam, dan lain sebagainya. Di Pasar Induk Kramat Jati Jakarta saja, ribuan ton limbah sayuran menggunung setiap minggunya.

Karena itu, diperlukan teknologi yang mampu mengolah limbah sayuran yang pada suatu saat melimpah menjadi pakan ternak yang bermutu gizi baik, tahan untuk disimpan dalam kurun waktu yang lama, dan mudah menyajikannya pada ternak. Salah satu teknologi yang sesuai untuk kondisi dan maksud tersebut ialah teknologi pengolahan limbah sayuran menjadi pakan ternak berbentuk wafer atau sering juga disebut wafer pakan.

Cara membuat wafer pakan dari limbah sayuran

Teknologi pembuatan wafer pakan dari limbah sayuran sebenarnya sederhana, karena proses pengerjaannya bisa dilakukan di rumah untuk skala kecil. Mula-mula siapkan bahan-bahan pembuat wafer pakan dari limbah sayuran. Untuk contoh kali ini, kita akan membuat wafer pakan dari limbah sayuran berupa klobot jagung (65%), kecambah toge (25%), dan daun brokoli (10%). Lakukan pencacahan terhadap limbah-limbah sayuran tadi dengan ukuran 2-3 cm. Selanjutnya keringkan di bawah terik matahari selama 5-10 hari sampai kadar airnya tinggal 15-17%. Selama proses pengeringan, sebaiknya lakukan pembalikan secara teratur agar bahan-bahan menjadi kering secara merata. Pengeringan dapat dilakukan juga dengan menggunakan dryer.

Setelah bahan-bahan dari limbah sayuran menjadi kering, selanjutnya giling secara kasar (tidak perlu terlalu halus). Campurkan ketiga bahan-bahan tadi dan tambahkan molase sebanyak 5% dari total berat bahan. Aduk sampai ketiga bahan dan molase bercampur secara merata. Masukkan sekitar 400 gram campuran bahan dan molase ke dalam cetakan dengan ukuran 20 cm x 20 cm x 1,5 cm. Tekan atau pres campuran bahan dan molase tadi selama 10 menit pada suhu 120 derajat Celsius. Setelah itu, biarkan wafer pakan pada suhu kamar selama 24 jam sebelum wafer pakan tersebut diberikan kepada ternak.

Pemberian wafer pakan kepada ternak

Wafer pakan sebagai sumber hijauan pakan dapat diberikan kepada ternak yang dikombinasikan dengan pemberian konsentrat. Bila kita memberikan pakan kepada ternak 2 kali sehari, maka berikanlah wafer pakan pada pagi hari, sekitar pukul 06.00. Pada siang hari, sekitar pukul 12.00, berikan konsentrat. Perbandingan antara wafer pakan dan konsentrat adalah 50% : 50%.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan pernah membandingkan antara kambing yang diberikan rumput+konsentrat dengan kambing yang diberikan wafer pakan+konsentrat selama 75 hari pemeliharaan. Hasilnya menunjukkan bahwa kambing yang diberi wafer pakan+konsentrat mempunyai rataan bobot badan lebih tinggi, yakni 24,62 kg; sedangkan yang diberi rumput+konsentrat bobot badannya 19,14 kg. Keuntungan yang diperoleh juga lebih tinggi pada pemeliharaan kambing dengan pemberian wafer pakan+konsentrat, yakni Rp 455.500. Sementara pada pemeliharaan kambing dengan pemberian rumput+konsentrat keuntungannya hanya sebesar Rp 130.250. 

Berminat? 
Silakan mencoba!

Sumber : cybex.deptan.go.id