Budidaya dan Panen Tanaman Abaca (Musa textilis NEE)

Abaca merupakan tanaman penghasil serat dari kelopak daun, termasuk famili Musaceae atau jenis pisang-pisangan. Tumbuh liar di Pulau Mindanao (Filipina) dan Pulau Sangihe (Indonesia), karenanya abaca disebut juga sebagai Pisang Manila Hemp.

Seratnya kuat dan tahan terhadap air, maka serat abaca baik untuk industri tali temali kapal laut dan lain-lain, serat abaca juga merupakan bahan baku pulp kertas berkualitas tinggi seperti kertas uang, kertas dokumen, kertas cheque, kertas plaster, kantong teh, kertas mimeograph, dan untuk tekstil.
Di Indonesia sentra produksi abaca berada di Sumatera Selatan, Jawa, Kepulauan Sangihe dan Kalimantan. Saat ini Indonesia masih merupakan salah satu negara penghasil dan pengekspor serat abaca dan satu-satunya kebun pengembangan abaca yang masih berjalan adalah milik PT. Perkebunan Bayulor, Banyuwangi Jawa Timur.

Dengan semakin meningkatnya permintaan serat abaca dari negara-negara maju seperti Jerman, Belanda, Perancis, Jepang, Spanyol, Denmark, Amerika, Inggris, dan Kanada. Kondisi ini menunjukan adanya peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan areal dan produksi abaca sebagai komoditas non migas. Selama ini Balittas telah memiliki koleksi abaca sebanyak 19 klon, dari jumlah tersebut 7 diantaranya merupakan hasil eksplorasi dari Lampung pada tahun 1993/1994 sedangkan 12 klon lainnya merupakan koleksi lama.
Persyaratan Tumbuh, yang sesuai untuk tanaman abaca yaitu tipe iklim A menurut klasifikasi Schmid dan Ferguson, dengan curah hujan 2000 - 3000 mm/tahun dan jumlah hari hujan antara 150 - 200 hari. Abaca dapat tumbuh baik pada dataran rendah sampai dataran tinggi yang mencapai ketinggian 1000 m dpl, dengan tanah yang baik yaitu tanah gembur seperti lempung berliat atau lempung berpasir dan jangan sampai ada lapisan yang padat. 
Penanaman, bibit yang digunakan untuk penananam yaitu anakan berasal dari tanaman induk berumur 2 - 2,5 tahun, jarak tanam 5 x 3 meter dengan populasi per hektar sebanyak 660 tanaman, lubang tanam dibuat dengan ukuran panjang x lebar x dalam adalah (25-30 cm) x (25-30 cm) x (25-30 cm)

Pemeliharaan, dilakukan pada tanaman muda dengan penggemburan tanah dan panyiangan gulma, secara peiodek pembuangan daun-daun yang telah mengering, pemupukan dilakukan satu kali dalam setahun yaitu pada awal musim penghujan dengan jenis dan dosis pupuk yang diberikan yaitu : 1 kg ZA + 1 Kg dolomit per rumpun yang diberikan dalam alur diantara barisan tanaman.

Peremajaan, dilakukan saat tanaman berumur antara 15 - 20 tahun tergantung juga dengan kondisi tanaman, caranya dengan membongkar seluruh tanaman dan jangan sampai tersisa bonggol atau anakan-anakan yang tertinggal, kemudian dilakukan penanaman dengan tanaman yang baru.
Hama, beberapa hama yang sering dijumpai dilapangan antara lain :

Thosea sinensis walker (ulat siput) merupakan hama utama di Davao Filipina, larvanya memakan daun abaca dengan rakus, menyebabkan kerusakan berat pada daun, cara pengendalian dengan mengumpulkan ulat atau dengan insektisida atau dengan melepaskan parasit kelapangan; Cosmopolites sordidus Ger (penggerek pisang), serangga ini dijumpai di Filipina dan Amerika Tengah, kumbang meletakan telurnya pada helaian daun atau daun tua yang tertinggal di lapangan. Telurnya menetas setelah 5-7 hari dan periode larva 15-21 hari, penggerek ini bertubuh keras dan hidup lama, tetapi agak lamban dan tidak khusus prolific, cara pengendaliannya dengan sanitasi sisa-sisa tanaman yang berfungsi sebagai tempat berbiak bagi penggerek; 

Odoiporus longicollis (Kumbang batang), berkembang didataran tinggi Davo Filipina, cara hidupnya sama dengan penggerek pisang;

Aphis (Kutu daun), beberapa spesies kutu ditemukan menyerang daun abaca, kutu ini sering berfungsi sebagai penular penyakit. Kutu pisang coklat (Pentalonia nigronervosa Coq), merupakan vektor virus penyakit "bunchy-top", Kutu-kutu lainnya yang bertindak sebagai vektor penyakit mosaik yakni kutu kapas (Aphis gossypii Glov; Kutu jagung (H. Maidis Fitch); kutu rumput (Rhopalosiphum nymphaeae Linn) dan (R. Prunifoliae Fitch).

Penyakit, beberapa penyakit yang sering menyerang tanaman antara lain ;

Mosaic abaca, disebabkan oleh virus cucumis virus I, atau Mamor cucumberis Holmes; Bunchi Top, penyebab penyakit ini adalah virus yang ditularkan oleh aphid Pentalonia nigronervosa Coq, selain di Filipina penyakit ini juga menyerang pertanaman abaca di Kalimantan Utara dan New Britania.

Layu vasculer (vasculer wilt), penyebabnya adalah jamur Fusarium cubense (F. Oxysporum f cubense); Busuk batang, penyebabnya jamur Helminthosporium tolulosum Syd Ashby; Kering pangkal akar, penyebabnya jamur Marasmius seminet Berk and Curt; Nematoda Pratilenchus musicola, Meloidogine incognita var.acrita, dan Radopholus similis.

Panen dan Penyeratan, 

Tanaman mulai dipanen setelah berumur 2 - 3 tahun dengan kriteria pohon sudah dapat ditebang yaitu bila sudah keluar bunga (jantung) atau dekat pada waktu tanaman akan mulai berbunga, jantung kelihatan diujung batang, umur panen didataran rendah lebih cepat dibandingkan dengan umur panen di dataran tinggi; cara panen dengan memotong pangkal batang pisang diatas bonggol, pemotongan jangan mendatar agar tidak terjadi akumulasi air hujan tyang menyebabkan busuk; produktivitas abaca per hektar bisa mencapai 3 ton serat kering setiap enam bulan (6 ton/ha/th) ; batang yang telah ditebang dipotong-potong sepanjang 110 cm atau disesuaikan dengan mesin penyerat (dekortikator), potongan batang kemudian dikelupas menjadi lembaran-lembaran pelepah; pelepah daun diangkut ke mesin dekortikator dan dihasilkan serat basah, kemudian diperas dan dijemur; Kapasitas mesin dekortikator bervariasi antara 40 - 100 ton pelepah basah per hari dengan capaian rendemen 1,75 - 2,5 % dari batang basah.