Cara Mencegah Kebakaran Hutan

Komoditas perkebunan masih menjadi andalan sumber devisa negara, sehubungan dengan hal tersebut banyak pihak yang berusaha mengembangkan lahan perkebunan dengan membuka lahan baru. Untuk membuka lahan yang akan dipergunakan untuk budidaya perkebunan sebaiknya dilakukan dengan cara olah lahan lahan tanpa membakar. Hal ini telah tersurat dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 pasal 26 tentang Perkebunan, yang telah diamanatkan bahwa "setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan". Untuk itu perlu dilakukan upaya-upaya pencegahannya.

Pencegahan 

Pengendalian kebakaran hutan hendaknya didukung program-program pencegahan dan manajemen bahan bakar tidak berupa upaya pemadaman setelah terjadi kebakaran. Sejalan dengan itu, perlu dikembangkan sistem manajemen kebakaran hutan yang terpadu dan terkoordinasi. Sistem dimaksud harus meliputi komponen-komonen sebagai berikut: 
  • Pencegahan kebakaran yang disebabkan oleh manusia melalui pendidikan dan penyuluhan; 
  • Deteksi kebakaran yang baik melalui sistem deteksi yang mencakup jaringan kerja titik-titik pengamatan, patroli yang efektif dan efisien, penggunaan sistem citra satelit dan GIS serta sistem komunikasi yang baik dan sebagainya; 
  • Tindakan awal penanggulangan yang cepat; dan 
  • Tindakan lanjutan yang mantap dan terarah. 

Pencegahan Kebakaran Hutan dan Lahan, pencegahan lebih baik daripada pengobatan, pernyataan ini juga berlaku untuk kebakaran hutan. Dengan program pencegahan yang baik maka kebakaran tidak perlu terjadi, sehingga biaya pemadaman dapat diperkecil serta kerusakan akibat kebakaran dapat dihindarkan. Hal ini dapat dicapai melalui pendidikan/penyuluhan, praktek silvikultur yang tepat, modifikasi bahan bakar, serta penegakan peraturan perundang-undangan. Pendidikan/penyuluhan.

Sebagian besar kebakaran di Indonesia disebabkan oleh manusia, baik oleh sebab kelalaian maupun kesengajaan, maka dukungan dan kerjasama masyarakat menjadi penting agar program perlindungan dapat berhasil. Untuk itu sangat perlu adanya penyuluhan dan pendidikan yang berulang-ulang untuk menarik minat masyarakat terhadap perlindungan hutan dan membuat mereka peduli terhadap kelestarian hutan. Rencana pendidikan harus mencakup : 
1) Pemanfaatan tokoh-tokoh masyarakat yang terorganisasi untuk pekerjaan pencegahan kebakaran; 
2) publikasi media massa setempat; 
3) Publikasi audio-visual; 
4) surat-surat edaran dan selebaran; dan 
5) penerbitan buku saku yang mudah dibawa-bawa.

Praktek Silvikultur

Dalam suatu kawasan hutan bervegetasi campuran atau suatu tanaman pangan dari berbagai umur, api dari sebuah kebakaran permukaan mungkin dapat merambat dari semak-semak atau tanaman bawah ke arah tajuk. Pohon-pohon mati yang menyandar ke pohon lain juga membantu penyebaran api dari kebakaran permukaan ke kebakaran tajuk. 

Oleh karena itu dapat dilaksanakan dengan praktek silvikultur yang tepat, misalnya pembersihan berkala, pembuangan pohon-pohon atau vegetasi mati, merana, atau yang terserang penyakit, guna memutus rangkaian vertikal bahan bakar. Pembersihan bahan-bahan mudah terbakar sangat perlu untuk mengurangi resiko kebakaran. Akumulasi serasah harus dihindarkan atau dikurangi untuk memotong rangkaian bahan bakar. Limbah pembalakan harus dikurangi dan pemanfaatan limbah tersebut oleh masyarakat harus dikelola dengan baik (tidak dibakar sembarangan) bila layak, bahan-bahan bakar tersebut dapat dimanfaatkan kompos dan lain-lain. Kegiatan reboisasi dan penghijauan harus memperhatikan jenis pohonnya (dipilih jenis tanaman yang tahan api dan tidak menggugurkan daun pada musim kemarau) dan konservasinya harus direncanakan secara mantap untuk mengurangi resiko kebakaran hutan. 

Perbaikan Sistem Penggembalaan

Penggembala seringkali menjadi penyebab kebakaran hutan. Tindakan-tindakan yang diperlukan untuk mencegah kegiatan pembakaran padang pengembalaan, dapat dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: 
1) perbaikan sistem peternakan melalui peningkatan mutu pakan ternak; 
2) pengembangan jenis-jenis pakan dalam kaitannya dengan penyediaan pakan yang bervariasi; 
3) rehabilitasi padang alang-alang.

Pengembangan usahatani konservasi, hutan kemasyarakatan dan hutan rakyat

Menyadari bahaya dari eksploitasi hutan alam yang berlebihan, sebaiknya dalam melaksanakan usaha-usaha pengembangan hutan tanaman dan rehabilitasi lahan serta daerah aliran sungai yang kritis dapat melibatkan masyarakat. Pemerintah telah membuat kebijaksanaan mengenai Usahatani Konservasi, Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Rakyat untuk mendorong masyarakat perdesaan menanam pohon serba guna, baik dalam kawasan maupun di luar kawasan hutan. Dengan adanya ketiga program tersebut, diharapkan masyarakat dapat berperan serta dalam pembangunan kehutanan, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraannya serta terpeliharaanya kelestarian sumber daya hutan.

Penegakan Hukum

Peraturan perundangan sangat penting dalam rangka pencegahan kebakaran hutan. Penegakan disiplin penggunaan api sangat perlu dilakukan, terutama terhadap mereka yang cenderung melanggar. Masyarakat perlu diberi informasi dan dididik mengenai aturan-aturan tersebut. Jika hukum ditegakkan dan hukuman terhadap si pelanggar diumumkan, kemungkinan kejadian kebakaran dapat ditekan. Meski penegakan ketentuan hukum merupakan suatu bagian penting dari pencegahan kebakaran.

Sumber : Pedoman Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta, 2007 dan Dari berbagai sumber.