Getah Gaharu

Indonesia mempunyi keaneka ragaman sumber daya alam yang sangat melimpah ruah, wilayah hutan tropisnya terluas ketiga di dunia, salah satu keanekaragaman suber daya alam hutan yang dimilikin olehIndonesia adalah Tanaman Gaharu. "GARAHU" adalah salah satu komuditas hasil hutan bukan kayu (HHBK) komersial yang bernilai jual tinggi.

Gaharu adalah getah (resin, gubah) dari pohon genus Aquilaria. Sampai saat ini, Indonesia masih merupakan pemasok produk gaharu terbesar di dunia. Meskipun populasi tumbuhan Aquilaria cukup besar, namun tidak semua pohon menghasilkan gaharu. Sebab resin itu baru keluar kalau tanaman terinfeksi oleh kapang (Fungus) Phialophora Parasitca. Akibat infeksi, tanaman mengeluarkan getah yang aromanya sangat harum. Getah ini akan menggumpak di dalam batang kayu. Para pencari garahu menyebut kayu dengan resin ini sebagai gubal.

Bagi orang awam, kerap kali gaharu dikenal sebagai pohon berkayu wangi layaknya kayu cendana. Padahal berbeda sama sekali. Gaharupun sekarang bukan melul;u berkah alam tanpa campur tangan manusia karena ditemukan metode produksi gaharu buatan yang tak kalah dengan yang alami. Beberapa jenis tumbuhan itu meliputi Aquilaria spp, Aetoxylon sympetallum, Gyrinops, dan Gonsystylus.

Gaharu digunakan dalam berbagai cara termasuk pengobatan tradisional, benda seni dan minyak atsiri. Gaharu dibakar untuk menghasilkan bau-bauan yang wangi sejak dahulu kala oleh orang-orang Cina, Arab, India dan Jepang yang mana ia banyak digunakan dalam perayaan-perayaan, adat dan keagamaan.

Minyak atsiri yang diekstrak daripada gaharu pula digunakan sebagaaki bahan capuran minyak wangi sebagai contoh minyak "attar"yaitu wewangian berasaskan air yang mengandungi minyak ekstrat gaharu Wangian tersebut digunakan secara meluas oleh orang Islam.

Kioni ektrat gaharu juga digunakan alam pembuatan sab un dan pewangi sampo serta pengusir serangga. Bentuk produk gaharu merupakan hasil alami dari kawasan hutan berupa cacahan, gumpalan atau bubuk. Selain dalam bentuk bahan mentah berupa serpihan kayu, juga diproses dengan penyulingan yangb dapat menghasilkan minyak atsiri gaharu yang juga bernilai jual tinggi. Cairan ekstrak ini ini kabarnya mencapai nilai jual lebih dari USD 30.000 atau Rp. 300.000.000,-/liter. Sementara harga satu batang pohonnya bias mencapai ribuan dollar per kilonya. Gaharu banyak digunakan sebagai bahan farfum, obat-obatan dan bahan dupa.

Kebutuhan gaharu dunia sangat besar. Kauta Indonesia 300 ton/pertahun baru dapat dipenuhi10 % inipun lebih banyak didapatkan dengan cara illegal dan ini berasal dari gaharun alam. Temuan rekayasa produksi kayu gaharu memberi peluang yang sangat besar bagi perkebunan lainnya. Mempertimbangkan nilai jual Gaharu, patut diupayakan peringatan penaran gaharu sebagai komunitas andalan sebagai alternative untuk penyumbang devisa dari sector kehutanan selain dari produk hasil hutan kayu.

Selain itu hasil gaharu ini merupakan komoditas ekspor di Negara-negara Asia Timur dan Timur Tengah dalam hal ini maka dengan meningkatkan produksi gaharu berarti akan dapat meningkatklan daya saing bangsa. Dampak lain adalah peningkatan kesejahteraan rakyat dan kelestarian sumber daya hutan dan lahan.