Manfaat Membuka Lahan Baru Tanpa Bakar

Untuk membuka lahan yang akan dipergunakan untuk budidaya perkebunan, agar dihindari perlakuan dengan cara membakar hal ini karena selain mencegah terjadinya kebakaran, polusi karena asap, mencegah terjadinya degradasi kesuburan fisik tanah, menurunnya kemampuan tanah menahan air, juga mencegah hilangnya plasma nutfah. Dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2004 pasal 26 tentang Perkebunan, juga telah diamanatkan bahwa "setiap pelaku usaha perkebunan dilarang membuka dan/atau mengolah lahan dengan cara pembakaran yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan kerusakan fungsi lingkungan". Pekerjaan dan alat yang dipergunakan serta teknis pelaksanaan dalam pembukaan lahan tergantung pada kerapatan vegetasi dan cara yang digunakan.

Manfaat pembukaan lahan tanpa pembakaran

Hutan dan lahan merupakan sumber daya alam yang bila dikelola dengan baik dan benar akan sangat bermanfaat bagi pembangunan nasional khususnya pelestarian lingkungan. Namun demikian pengelolaan hutan dan lahan sering diabaikan yang mengakibatkan terjadinya bencana dan gangguan seperti kebakaran hutan, banjir dan tanah longsor sehingga merusak lingkungan, menurunkan produksi dan menghambat pelestariannya. Beberapa manfaat pembukaan lahan tanpa pembakaran adalah: 
  • Tidak menimbulkan polusi asap; 
  • Menurunkan emisi gas rumah kaca (terutama CO2) yang berdampak negatif pada perubahan iklim yang berpengaruh pada stabilitas ekosistem, aktifitas transportasi, komunikasi, dan kesehatan manusia; 
  • Memperbaiki bahan organik tanah, kadar air dan kesuburan tanah terutama di areal yang sudah pernah ditanami sehingga menurunkan kebutuhan pupuk organik; 
  • Dalam jangka panjang pembukaan lahan tanpa pembakaran akan menjamin kesinambungan secara ekonomi dan ekologi; 
  • Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan yang akan berdampak langsung kepada produksi tanaman akibatnya, hasil panen akan mengalami penurunan; dan 
  • Untuk pemulihan kwalitas lingkungan yang berbasis pembangunan berkelanjutan.

Menghindari meningkatnya gas rumah kaca (GRK) khususnya CO2

Gas Rumah Kaca (GRK) adalah gas yang memiliki sifat seperti rumah kaca yaitu meneruskan radiasi gelombang pendek atau cahaya matahari tetapi menyerap dan memantulkan radiasi gelombang panjang yang dipancarkan bumi yang bersifat panas sehingga meningkatkan suhu atmosfir bumi. Secara teoritis gas rumah kaca (GRK) di atmosfir bumi sangat penting, karena gas tersebut membuat iklim bumi menjadi hangat dan stabil. Tanpa GRK di atmosfir, suhu permukaan bumi diperkirakan mencapai -18 derajat Celcius.

Tapi bila GRK di atmosfir bumi berlebihan, maka akan berdampak buruk, karena panas yang dipantulkan kembali kemuka bumi akan lebih bnyak sehingga suhu bumi makin panas. GRK yang perlu mendapat perhatian adalah Karbon dioksida (CO2) Karbondioksida sangat diperlukan tanaman untuk keperluan fotosintesis guna pembentukan karbohidrat. Namun dalam kondisi berlebihan, CO2 ikut berperan dalam peningkatan efek rumah kaca. Menurut perhitungan, CO2 mempunyai pengaruh paling besar terhadap pemanasan global dibandingkan dengan GRK lainnya. Sekitar 50% pemanasan global disebabkan oleh CO2 dan sisanya oleh GRK yang lain.

Emisi CO2 terbesar berasal dari penebangan dan pembakaran hutan, terutama dari negara-negara sedang berkembang di sekitar katulistiwa. Sebagian dari CO2 akibat penggundulan hutan diikat oleh vegetasi hutan yang tumbuh kembali atau dari hutan yang masih tersisa. Selebihnya CO2 diemisikan ke atmosfir dan berkontribusi terhadap pemanasan global. Karbondioksida adalah salah satu GRK yang konsentrasinya di atmosfir mendapat prioritas untuk diturunkan. Ketika revolusi industri baru dimulai, konsentrasi CO2 di atmosfir hanya 290 ppmv (part per million volume), dan saat ini konsentrasinya telah meningkat yang disebabkan karena tidak seimbangnya antara besarnya sumber emisi (source) dan daya rosotnya.

Dengan membuka lahan tanpa bakar, berarti kita menghindari meningkatnya jumlah emisi CO2 merupakan salah satu emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global.

Sumber : Pedoman Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta, 2007 dan Dari berbagai sumber.