Mengenal Fase Pertumbuhan Tanaman Tebu

Keberhasilan menanam tebu dengan produksi dan produktivitas tinggi tergantung bagaimana cara penanaman dan pemeliharaannya. Untuk mendapat hasil yang baik, para pekebun harus memahami fase-fase pertumbuhan tebu dengan baik. Kita mengenal tiga fase pertumbuhan tebu yaitu perkecambahan, pertumbuhan anakan dan pertumbuhan tanaman yang dapat diuraikan sebagai berikut :

Fase perkecambahan

Masa perkecambahan ditandai dengan berkecambahnya ruas-ruas muda lebih cepat kurang lebih selama dua minggu. Kecepatan berkecambah tergantung pada jumlah kadar air didalam ruas/mata tebu. Pada fase ini jangan mengelupas pelepah daun, karena berfungsi sebagai pelindung alami untuk mencegah penguapan. Sebelum masa tanam, benih dikebun bibit sebaiknya disiram dan diberi pupuk (mes). Jika pertumbuhan ruas-ruas tebu kurang baik maka dapat dilakukan perlakuan sebagai berikut: 
  • Merendam benih dalam air mengalir; 
  • Merendam benih dengan larutan kimia seperti kapur, larutan Ca-nitrat 1%, larutan Ethyl-alkohol 10% atau larutan amonium fosfat 1%; 
  • Memberi perlakuan benih dengan larutan fungisida (fungisida-triscabol 1/6% dan trifungol); 
  • atau dapat dilakukan dengan insektisida (benzee-hexa-chlorida) bersama-sama dengan pupuk.
Fase pertumbuhan anakan

Masa pertumbuhan anakan dapat dipengaruhi beberapa faktor antara lain : kadar air dalam pelepah daun. Kadar air didalam pelepah daun mempunyai korelasi positif dengan kecepatan tumbuh, sehubungan dengan hal tersebut tanaman harus diberi cukup air dan unsur hara (pupuk). Pemberian pupuk Nitrogen (ZA/Urea) dapat menambah jumlah anakan dan pemberian pupuk fosfat (DS/TSP) pada tanah yang kekurangan fosfat. Pada umur sekitar 2-3 bulam merupakan waktu tumbuhnya jumlah anakan, jadi saat inilah tanaman harus mendapat perhatian.

Fase pertumbuhan

Fase pertumbuhan merupakan fase tumbuhnya perakaran yaitu akar benih yang tumbuh pada akar-akar stek dan akar biasa yaitu akar yang tumbuh dari tunas tanaman baru. Selanjutnya perakaran mengalami perkembangan di tiga bagian yaitu: 
  • Akar dangkal yaitu akar yang letak dan tumbuhnya dekat dengan permukaan tanah; 
  • Akar penegak yaitu akar yang letak dan tumbuhnya bersudut 45-60° ke bawah, akar ini merupakan akar yang paling besar; dan 
  • Akar dalam yaitu akar yang tumbuh dan ltegak lurus ke bawah dan menerobos tanah sampai dalam.
Pada tanah yang padat, akar tumbuh pendek dan bercabang banyak, sedang pada tanah yang berstruktur baik dan subur perakaran akan tumbuh panjang dan bercabag sedikit.


Pertanaman

Tebu yang ditanam dipilih varietas yang hasil produksinya tinggi dan sesuai dengan jenis tanah yang akan ditanami. Sebaiknya sebelum melakukan penanaman lebih dahulu dilakukan pengamatan yang baik apakah lahan sudah siap ditanami, apakah sudah bersih dari rumpu/gulma dan apakah kasuran sudah cukup tebal dan halus. Selanjutnya benih yang akan ditanam harus diseleksi apakah benih benar-benar sehat dan mata tunasnya tidak cacat.

Cara penanaman dapat bervariasi disesuaikan dengan kondisi lahan dan ketersediaan bibit. Perlu diketahui, pada umumnya kebutuhan air pada lahan kering tergantung pada turunnya hujan sehingga kemungkinan tunas mati akan besar. Oleh karena itu, dengan over lapping atau double row, tunas yang hidup disebelahnya diharapkan dapat dipergunakan sebagai pengganti.

Cara penanaman tebu bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut: bibit yang telah diangkut menggunakan keranjang diletakkan pada guludan agar mudah dalam mengambilnya, kemudian bibit ditanam merata pada juringan/kairan dan ditutup dengan tanah setebal bibit tersebut. Untuk tanaman pertama pada lahan kering biasanya cenderung anakannya sedikit berkurang dibandingkan tanah sawah (reynoso), sehingga jumlah bibit tiap juringan diusahakan jumlahnya lebih bila dibandingkan dengan lahan sawah (± 80 ku), dan bila pada saat tanam curah terlalu tinggi, diusahakan penanaman dilakukan dengan cara glatimongup (bibit sedikit terlihat).

Bibit yang digunakan di lahan sawah dapat berupa bibit bagal atau bibit rayungan. Umumnya digunkaan bibit dengan 2 mata untuk menjaga kepastian tumbuh. Dalam satu meter juringan ditanam 5 - 6 stek bibit. Waktu tanam yang ideal untuk tebu sawah adalah bulan Mei - Juni, sehingga pada saat panen bulan Juli - September tanaman sudah cukup masak dan memiliki bobot tebu yang tinggi.Penanaman bibit diusahakan agar mata bibit menghadap ke samping. Apabila mata bibit menghadap keatas maka tunas akan muncul lebih dulu pada permukaan tanah daripada mata bibit yang menghadap kebawah. 

Keadaan tersebut disebabkan oleh waktu yang dibutuhkan oleh tunas untuk mencapai permukaan tanah menjadi dua kali lebih lama, secara perhitungan jaraknya saja sudah jelas lebih jauh untuk mencapai permukaan tanah sehingga mengakibatkan pertumbuhan tidak seragam dan pertumbuhan tunas terganggu