Panen dan Pengolahan Hasil Tanaman Nila

Panen dan Pengolahan Hasil Tanaman Nila

Panen

Kalau daun indigofera yang warnanya sudah warna hijau tua merata mulai layu dan mulai menguning maka hasil indigofera menjadi kurang. Cara menentukan waktu panen memang sulit. Berdasarkan para pengusaha /petani yang berpengalaman menentukan waktu panen berdasarka warna daun dan pada bau daun kalau diremas - remas dengan jari. Cabang-cabang pohon dipanen, biasanya pada pagi hari, ketika tanaman berumur 4-5 bulan dan telah membentuk tegakan yang rapat.

Saat itu biasanya merupakan stadium berbunga. Kira-kira 3-4 bulan kemudian tanaman dapat dipotong lagi.; tanaman tarum dapat dipanen 3 kali dalam setahun. Masa hidup tanaman sebagai penghasil pewarna adalah 2-3 tahun, dan sebagai penutup tanah 1,5-2 tahun. Tarum hanya dapat dipanen sekali jika ditanam disawah, sebab tanaman ini harus memberi ruang pada tanaman padi berikutnya.


Penanganan pasca panen ; Cabang-cabang yang telah di panen disimpan dalam tangki berisi air, yang telah diberi beberapa butir kapur dan diberati dengan papan agar tenggelam. Setelah terjadi fermentasi selama beberapa jam, yang selama itu hidrolisis melalui enzim akan menyebabkan pembentukan indoksil, cairannya dibuang, kemudian diaduk-aduk selama beberapa jam untuk mendorong oksidasi indoksil.

Setelah itu larutan dibiarkan, dan bagian tarum yang tidak dapat larut akan mengendap ke dasar tangki berupa lumpur kebiru-biruan. Airnya dibuang, dan setelah tarum mengering, dipotong-potongmenjadi balok-balok kecil atau dibuat bulat-bulatan. Untuk mewarnai tektil, tarum direduksi menjadi bentuk yang dapat larut melalui proses frmentasi dalam lingkungan basa.

Pengolahan Hasil

Cara pengolahan adalah sebagai berikut : Cabang-cabang kecil yang telah dipotong, pada pengolahan yang hati-hati telah dipisahkan dari cabang yang berkayu, diletakan dalam bejana kayu/tanah atau dalam bak tembok. Pada tempat tersebut terdapat campuran kapur dan air. Kumpulkan dan ditekan dengan papan yang ditidih dengan batu, perlakuan ini dijalankan demikian rupa hingga atasnya terdapat 1 kaki lapisan air. setelah beberapa jam gelembung-gelembung udara naik ke atas prmukaan air kemudia akhirnya cairan tersebut mengalami peragian. 

Di perusahaan orang Eropa setelah terjadi peragian maka ekstrak bahan tersebut kemudian dialirkan karena fermentasi mempunyai pengaruh jelek terhadap hasil akhirnya, pengaruh jelek ini mengenai jumlah dan mutu. Lambat laun kekuatan proses ini menurun dan permukaan air tertutup dengan lapisan tipis, cairannya sendiri lambat laun berubah warnanya menjadi hijau tua. Kalau airnya telah memberi bau manis dan warnanya tidak lagi berubah maka cairannya dipindahkan ke bejana lain sedang daunnya kadang-kadang digunakan untuk memelihara beberapa jenis jamur yang enak dimakan. 

Cairan yang telah dipindhkan mengandung bahan uraian indoxyl dibentuk karena pengaruh enzima yang ada dalam daun yang berasal dari indicaan; karena oksidasi dari indoxyl terjadi indigoblauw yang tidak larut. Pemberian oksigen dikerjakan dengan selalu membuat cairan digerak-gerakkan, misalnya dengan menaik turunkan keranjang kecil yang bertangkai panjang atau dengan mengisi dan mengosongkan gayung kecil. Pekerjaan ini diteruskan sampai cairan tidak berbuih lagi, pada waktu tersebut warna menjadi kecoklat-coklatan. dalam proses pengolah ini diadakan waktu istirahat 12 jam dan juga selama 12 jam cairannya digerak-gerakkan hingga cairan itu tidak lagi berbuih. Kemudian bahan ini dibiarkan dan setelah 3 atau 4 jam, kadang-kadang lebih lama, indigonya mulai mengendap. Cairan yang ada di bagian atas pada umumnya dibuang, cairan ini berwarna kuning jerami dan baunya tidak enak; kadang-kadang cairan ini diberi air kapur untuk mendapatkan indigo.

Prospek, Produksi dan Perdagangan Dunia

Prospek pengembangan tanaman nila Tarum pernah dinyatakan sebagai ' raja pewarna '. Tidak ada tanaman pewarna lain yang terjalin sangat erat dengan kebudayaan seperti halnya tanaman tarum. Warna biru tua dari pewarna ini sangat disukai, dan sejarahnya menakjubkan serta berlangsung ribuan tahun. Walaupun demikian, penggunaan tarum yang berasal dari tumbuhan hampir habis dan hampir seluruhnya diambil alih oleh tarum sintetik. 

Dalam tahun-tahun belakangan ini minat terhadap pewarna alami meningkat lagi di berbagai negara, tidak hanya karena kepedulian terhadap pencemaran lingkungan yang disebabkan yang disebabkan oleh industri-industri kimia penghasil pewrana dan adanya pengaruh berbahaya dari pewarna sintetik terhadap kesehatan, tetapi juga karena timbulnya kembalinya minat dalam kaitan antara pewarna dan kebudayaan. Diharapkan agar minat baru ini akan memperoleh landasan yang cukup cepat untuk melindungi tarum dari kepunahannya secara total sebagai tanaman budidaya tanaman di Asia Tenggara.

Produksi dan perdagangan dunia

Budidaya Indigofera secara besar-besaran dimulai dalam abad -16 di India dan Asia Tenggara. Kemudian, perkebunan -perkebunan besar juga dibangun di Amerika Tengah dan Amerika Serikat bagian selatan. Ekspor tarum ke Eropa sangat penting dan harus bersaing dengan pewarna dari 'woad' (Isatis tinctoria L), yang dibudidayakan terutama Perancis, Jerman dan Inggris. Produksi tarum sintetik secara komersial yang dimulai digunakan pada tahun1897, terbukti membahayakan produksi tarum alami, dan menjelang tahun 1914 hanya 4 % dari keseluruh produksi dunia berasal dari pewarna nabati. Kini, tanaman tarum masih dibudidayakan untuk keperluan pewarna, tetapi hanya dalam skalakecil, yaitu di India ( di bagian utara Karnataka) dan di beberapa tempat di Afrika dan Amerika Tengah. 

Di Indonesia Indigofera masih dibudidayakan di beberapa desa pantai utara dan di seluruh wilayah Indonesia Timur, yang di sana digunakan untuk mewarnai kain tradisional dan kain untuk keperluan upacara adat. Sebagai bahan yang diusahakan di perkebunan besar terutama di Jakarta, daerah Yogyakarta dan Solo pada tahun 1920 diolah 202.071 kg indigo kering dan 288 kg indigo basah dari luas 3.102 bau (1.035,3 ha); pada tahun 1921 diolah 201.981 kg indigo kering dan 41.616 kg indigo basah dari luas tanah 3.793 bau (1.264 ha); pada tahun 1922 diolah 37.244 kg indigo kering dan 50.400 kg indigo basah dari luas tanah 1.726 bau ( 575 ha); pada tahun 1923 di perkebunan besar mendapatkan panen indigo 744 kg dengan luas tanah 285 bau (95 ha) dan tahun 1924 panen indigo 655 kg dengan luas tanah 285 bau (95 ha). 

Dapat dikemukakan bahwa persaingan antara bahan pewarna alamiah dan bahan pewarna buatan dimenangkan oleh indigo buatan tom werdi (Jawa). Bahan buatan ini telah demikian umum dipakai di kalangan perusahaan batik hingga sewaktu pada tahun 1914 pengiriman dihentikan, terjadi penghambatan pekerjaan perusahaan batik. Berdasarkan surat dari 67 perusahaan batik yang menyatakan lebih senang menggunakan bahan indigo buatan dan tidak tahu menahu tentang bahan indigo alamiah. Sekiranya persediaan bahan indigo buatan cukup maka industri batik berdasarkan pertimbangan ekonomi tidak akan menggunakan bahan indigo buatan.