Pembangunan Pasar Ternak

Model pasar ternak (Sapi dan Ternak lainnya) di Indonesia pada umumnya masih dikategorikan sebagai pasar tradisional. Mengingat sistem pemasaran (transaksi jual beli ) antara peternak sebagai pemilik ternak dan pedagang (tengkulak/blantik) atau pembeli masih secara tradisional. Sistem jual beli / penetapan harga tidak transparan, hanya berdasarkan penaksiran ketampakan (performance) ternaknya bukan berdasarkan bobot badan yang diukur dengan timbangan/ alat ukur lainnya atau performance yang dinilai berdasarkan kualitas/kelas mutu (grade) . 

Selain itu belum ada standar harga yang ditetapkan oleh pasar tersebut sehingga harga ternak sering dipermainkan oleh para pedagang. Belum ada jual beli yang lebih terbuka seperti sistem lelang. Disamping itu, bangunan fisik pasar dan sarana prasarana (kandang karantina, kandang berdasarkan umur/ jenis kelamin, alat ukur/timbangan) yang ada di pasar juga belum memadai, hanya merupakan lapangan terbuka untuk tempat ternak yang akan dijual. Pola sistem pemasaran tradisional seperti ini kurang memberi nilai keuntungan bagi petani ternak sehingga hasil yang diperoleh tidak dapat dinikmati secara adil, hanya memberi keuntungan sepihak. Keuntungan lebih banyak diperoleh para pedagang/ blantik. 

Mengingat peluang pasar yang cukup bagus akan produk dan hasil ternak sehingga mulai dirancang membangun pasar ternak modern yang higienis. Pembangunan pasar ternak modern ini disesuaikan dengan kebutuhan daerah dan situasi lokasi. Pasar ternak yang dibangun harus dapat mendukung fungsi-fungsi pasar sehingga memerlukan kelengkapan sarana usaha seperti Rumah Potong Hewan (RPH), tempat penampungan ternak/ shelter ternak dengan ruang pemisah (antara ternak muda, dewasa, pejantan, induk ) , ruang penaksiran yang dilengkapi dengan alat ukur, dan timbangan, pemasaran daging atau Meat Business Centre dan produk olahan pangan yang berasal dari ternak. Saat ini kondisi perdagangan ternak besar di beberapa pasar ternak di Indonesia sudah menggunakan criteria berat badan maupun grade atau klas mutu sebagai dasar penentuan harga. Penggunaan timbangan dan penerapan grading mulai menjadi kebutuhan. 

Model pasar ternak modern ada 3 tipe yaitu tipe A,B,C, sebagai berikut : diawali tipe C kemudian dengan peningkatan kualitas pasar yang semakin membaik dan terlengkap meningkat menjadi tipe A. Tipe C belum ada peralatan timbangan, informasi harga dan pasar lelang serta penitipan ternak. Kelembagaan dan manajemen pasar sudah dilasanakan hanya belum baik, sedangkan tipe B sarana timbangan, informasi harga dan tepat penitipan serta pasar lelang kadang-kadang diaadakan. Tipe A semua sarana prasarana sudah tersedia, kelembagaan dan manajemen pasar baik. Pasar lelang secara kontinyu dilaksanakan.

Tahapan Pembangunan Pasar Ternak

Pembangunan pasar ternak dilaksanakan melalui empat tahapan yaitu : 
  • Tahap Persiapan (identifikasi kelayakan usaha yang menyangkut rekomendasi lokasi, desain bangunan dan persyaratan-persayaratan yang diperlukan dalam membangun dan mengoperasionalkan suatu pasar ternak; 
  • Penyusunan business plan dan sosialisasi (rencana kerja pembangunan fisik pasar dan non fisik yaitu penyusunan sarana fisik yang diperlukan dan sistem operasionalnya serta rancangan sistem pasokan dan distribusi ternak) dan sosialisasi tentang keberadaan dan manfaat pasar ternak serta siapa yang akan mengelola serta peran dan keterlibatan semua pelaku usaha yang terkait bidang peternakan dalam mendukung pengembangannya;
  • Pembangunan fisik pasar (melalui proses tender atau penunjukan pihak swasta yang akan mengelola pasar ternak) ; 
  • Pembentukan pengelola dan operasionalisasi. Membentuk lembaga pengelola yang terdiri dari Dewan Pembina Pasar Ternak (instansi pemerintah kabupaten/kota) dan pengelola pasar (peternak/Gapoktannak/Asosiasi peternak dan asosiasi pedagang ternak setempat) serta pengoperasionalisasian pasar ternak.

Fasilitas Pasar Ternak :

1. Tipe A :

Kapasitas 600 ekor satuan ternak, luas areal 1 ha dan lokasi di kabupaten/kota, fasilitas meliputi : Kantor; tempat peristirahatan ternak; timbangan ternak kapasitas 2000 kg, feed lotter; pembuangan limbah; pagar keliling; pakan ternak dan hijauan makanan ternak (HMT) ; air minum ternak; tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak; kandang isolasi; tempat parker kendaraan; kandang jepit; lantai tanah yang dipadatkan;tempat lelang ternak; tempat khusus setiap jenis ternak (sapi potong, sapi perah, sapi bibit, kambing, domba, sapi hasil IB, kerbau); tempat ibadah.

2. Tipe B :

Kapasitas 200 ekor satuan ternak, luas areal 0,5 ha dan berlokasi di kecamatan. Fasilitas terdiri : Kantor, tempat peristirahatan ternak, timbangan ternak kapasitas 2000 kg, pagar keliling, pakan ternak dan HMT; lantai tanah, cukup air minum ternak, tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak, kandang jepit; tempat khusus untuk ternak (sapi potong, sapi perah, sapi bibit, kambing/domba, sapi hasil IB) dan tempat ibadah

3. Tipe C :

Kapasitas 100 ekor satuan ternak, luas areal 0,25 ha dan berlokasi di desa. Fasilitas terdiri dari : kandang ternak, pagar keliling, timbangan ternak kapasitas 2000 kg, HMT cukup, air minum cukup, tempat untuk menaikkan dan menurunkan ternak, tempat untuk sapi/kerbau dan tempat khusus kambing/domba.

Sumber Informasi : Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Deptan. 2006. Panduan Umum Operasional Pasar Ternak