Penanaman Tanaman Tebu

Tanaman baru (plant cane); keberhasilan tanaman tebu giling (baru maupun keprasan) sangat bergatung pada baiknya persiapan lahan, kerapatan tanaman dan tingginya hasil panen tanaman barunya.


Bahan dan cara tanam

Jarak juring lahan tegalan pada umumnya berkisar antara 1,30 - 1,50 m. Kedalaman juring biasanya 20 - 30 cm, tergantung kondisi tanah dan peralatan. Pada daerah dengan musim kemarau panjang (lebih dari 4 bulan) mempunyai satu masa tanam, yaitu awal musim hujan. Tebu ditanam dengan bibit bagal (stek) bermata tiga sebanyak 2 - 3 bibit per meter atau 15.000 - 20.000 bagal perhektar. Dengan demikian permeter juring terdapat 8 - 9 mata tunas. Bagal tebu diletakkan di dasar juringa kemudian ditutup tanah setebal 3 - 5 cm. Pengolahan tanahnya sebaiknya dikerjakan pada musim kemarau. 

Bahan tanam yang digunakan juga bagal bermata tiga, diletakkan dalam papan tanam bersentuh ujung (end to end) atau tumpang tindih 20 % (overlapped 20 %). Papan tanam dapat berupa juringan dangkal (10 - 15 cm) atau yang dalam (20 - 25 cm) atau bahkan diatas guludan, tergantung kondisi tanahnya. Pada keadaan mendesak dan langka tenaga, dapat memakai bibit lonjoran 5 - 6 mata yang kemudian dipotong menjadi 2 setelah di dalam juringan. Di daerah berawa atau tanah berdrainase jelek, diperlukan membuat papan tanam yang dinaikkan, semisal camberred bed, Brabandt, "grand bank", maupun guludan. Pada daerah dengan musim kering panjang, masa tanam yang paling sesuai adalah periode II (satu masa tanam). 

Pemupukan

Dosis pupuk yang mendekati kebutuhan tanaman dapat diketahui dengan mengadakan percobaan pemupukan, analisis kimia tanah atau tanaman. Lahan yang memerlukan pemupukan posfat, perlu diberikan posfat yang setara dengan 60 - 90 kg P2O5 setiap hektarnya. Jika jenjang kandungan kaliumnya rendah perlu diberi pupuk Kalium yang setara dengan 120 - 150 kg K2O setiap hektarnya. Kebutuhan pupuk nitrogen pada tanah yang baru dibuka dari lahan hutan, setara dengan 40 - 60 kg N per hektar. 

Pada tanah yang sudah cukup lama dibudidayakan, kebutuhan pupuk nitrogennya berkisar 80 - 120 kg N per hektar (King et al., 1965). Pada daerah bermusim kemarau panjang, pupuk pertama sebanyak 100 % dosis P2O5 (60 - 90 kg/ha) dan 30 % dosis nitrogen (dan kalium jika dosisnya lebih dari 120 kg K2O) yang diperlukan (40 kg N/ha) diberikan bersamaan atau sesaat sebelum tanam pada dua alur di kedua sisi bibit yang ditanam. Sisanya (80 kg N/ha dan 120 kg K2O/ha) diberikan pada saat tanaman berumur 1,5 bulan, bersamaan dengan turun tanah pertama yang dapat dikerjakan sebagai usaha menutup pupuknya.

Pada daerah yang bermusim kemarau pendek, prinsip pemupukannya tidak berbeda dengan daerah bermusim kemarau panjang. Pada daerah yang kecukupan air, pemberian pupuk nitrogen (ataupun kalium yang berdosis tinggi) pertama dapat diberikan hingga 50 % dosis yang diperlukan.

Pupuk nitrogen dapat diberikan dalam bentuk urea maupun Amonium Sulfat) (AS=ZA=Zwavelzuur Ammoniak, old). Urea dapat menggantikan AS terutama pada tanah-tanah yang jenjang sulfatnya kecukupan (200 - 400 ppm SO4) dan kondisi pengairan atau jumlah curah hujannya cukup baik. 

Pemeliharaan tanaman

Bila bibit tebu telah tertanam, tunas primer dan akar-akar cincin akan mulai berkembang jika suhunya sesuai dan tanahnya cukup lembab. Tunas primer yang berupa "jalur" dapat menembus permukaan tanah dan hidup untuk sementara dengan kandungan air yang ada di dalam bagal tanaman (bibit), sedangkan akar-akar muda yang berkembang dari cincin akar akan segera musnah jika akar tersebut tumbuh masuk ke lingkungan tanah kering yang hanya mengandung air higroskopik yang tidak tersedia baginya. Selanjutnya perlu diikuti dengan pemeliharaan kebun yang mencakup :

a) Pengendalian gulma; pertumbuhan gulma akan terhambat apabila pengolahan tanah cukup baik dan jagka waktu antara pengolahan tanah dan penanaman tidak terlalu lama (tidak lebih dari dua minggu), maka tebu akan tumbuh cepat dan segera menutup sebagian permukaan tanah. Pengendalian gulma dapat dikerjakan dengan penyiangan manual maupun mekanis, jika perlu dikendalikan dengan penyemprotan herbisida; 

b) Turun tanah; dilakukan dua kali, yakni bersamaan dengan pemupukan pertama atau sebelum pemupukan kedua pada umur 1,0 - 1,5 bulan dan mengembalikan tanah galian juringan keseluruhannya ke dalam barisan tanaman, dikerjakan pada waktu tanaman telah berumur 2,5 - 3,0 bulan. Untuk penurunan tanah dapat menggunakan cangkul atau bajak yang ditarik sapi. Jika dikerjakan dengan mesin dapat menggunakan "disc type cultivater"; 

c) Drainase; dengan adanya drainase yang baik dapat menghambat pertumbuhan dan kelebatan gulma. Dalam pemeliharaan tanaman, pengolahan lahan dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah yang tidak mantap sehingga dapat memperlancar perembesan air masuk dalam tanah; d) Klentek; bila penebangan tebu menggunakan tenaga manusia, seyogyanya dilakukan pengelentekan tebu sebelum tebang sehingga mutu tebangan menjadi lebih baik. Pengelentekan dapat dikerjakan satu kali menjelang atau pada akhir musim hujan, kira-kira 2 - 3 bulan sebelum tebu ditebang.