Pengembangan Jaringan Pemasaran Sapi Potong

Usaha dan investasi peternakan sapi potong di Indonesia masih terbuka lebar dan prospektif untuk dikembangkan karena pertumbuhan permintaan atas produk ternak tersebut terus meningkat dan masih berpeluang tinggi. Dilain pihak potensi pemasaran ternak sapi potong pada umumnya belum mampu dimanfaatkan/ dikendalikan oleh petani pemilik ternak. Selama ini pemasaran ternak dilakukan sendiri-sendiri yang tidak jelas pemasarannya, sehingga penjualan ternak selalu merugi karena harga dipermainkan oleh para pedagang/tengkulak. Oleh karena itu Pemerintah berupaya mendorong agar petani ternak mampu memanfaatkan peluang untuk menjadi pelaku usaha pemasaran ternak sapi potong di wilayahnya.


Kondisi pola pemasaran ternak sapi potong saat ini ,masih didominasi oleh para pedagang, dimulai dari pedagang pengumpul yang berkeliling ke peternak-peternak sapi potong di perdesaan mengumpulkan sapi, kemudian didistribusi ke pedagang besar dengan harga dua kali lipat dari harga dari peternak sapi. Pedagang Besar ini sudah mempunyai jaringan pasar tersendiri secara kontinyu dengan mitra usahanya yaitu para Eksportir atau ke Industri pengolahan daging sapi supplai bahan baku dengan kualitas standar/ mutu yang telah disepakati. Selanjutnya ternak-ternak sapi yang tidak memenuhi spesifikasi teknis (SOP) yang disepakati akan disalurkan ke pedagang pengecer di kios-kios di kabupaten/ kota, yang nantinya akan dijual ke konsumen-konsumen.

Melihat mata rantai pemasaran seperti ini, maka upaya-upaya kebijakan Pemerintah dalam Pemasaran Domestik Ternak adalah : 
  • Mendorong kelompoktani peternak untuk berperan aktif dan mampu mengendalikan tataniaga perdagangan sapi potong dalam kelompoknya; 
  • Mendorong kelompoktani peternak untuk memiliki kemampuan menjadi pemasok kebutuhan masyarakat akan produk ternak sapi potong; 
  • Mendukung peran kelompoktani peternak sebagai basis penentu harga sapi potong (dan produknya) di pasar domestik; 
  • Melakukan fasilitasi pembangunan sarana pemasaran hasil peternakan berupa pasar ternak, shelter ternak, showroom ternak, kios daging dan lain-lain.
Menindaklanjuti kebijakan Pemerintah ini, maka dalam pembinaan pengembangan usaha peternakan khususnya bagi petani ternak sapi, maka diarahkan untuk membangun jejaring diantara kelompoktani peternak yang mengusahakan komoditas yang sejenis. Dalam pengembangan jejaring usaha ini para peternak didorong untuk memasarkan ternaknya secara bersama-sama yang diorganisir oleh unit usaha Gapoktan/ Kelompok Usaha Bersama (KUB) / asosiasi sapi/ koperasi tani/ PT / kelembagaan ekonomi petani lainnya yang sudah terbentuk. KUB/ kelembagaan usaha petani lainnya ini akan mengorganisir para anggota jejaringnya baik dalam bidang pemasaran hasil usahanya dan penyediaan sarana prasarana maupun pembinaan budidaya ternak sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP) terhadap pasokan yang harus ditaati serta penyediaan permodalan untuk pengembangan usaha kelompok/ kelembagaan usahanya. 

Selain itu, Organisasi usaha petani ini juga mengatur ketersediaan pasokan ternak sapi dari masing-masing petani mitra produsen sehingga ketersediaan pasokan ternak dijamin akan ketepatan jumlah, mutu, harga dan waktu sesuai dengan kesepakatan yang sudah disepakati bersama dengan mitra usaha pemasaran. Dengan pemasaran bersama ini diharapkan harga dapat ditekan sehingga hasil usaha peternak dapat dinikmati sebesar-besarnya oleh peternak.

Kondisi pola pemasaran sapi potong yang diharapkan

Kelompoktani peternak yang ada di perdesaan menjalin jejaring usaha yang sejenis dengan kelompoktani peternak lainnya. Kemudian bergabung membentuk Gabungan Kelompoktani (Gapoktan)/ atau menjadi anggota kelembagaan usaha petani yang dapat berbentuk KUB/Assosiasi sapi/ koperasi tani/ PT yang bergerak dalam usaha sapi. Gapoktan/ Kelembagaan ekonomi petani ini menjalin jaringan usaha/ kemitraan usaha dengan para mitra usaha yang bergerak dalam usaha peternakan sapi baik itu dalam bentuk kerjasama bidang pemasaran, penyediaan sarana prasarana produksi maupun permodalan. Dalam kemitraan usaha ini diharapkan adanya kesepakatan kerjasama yang ditandai dengan Naskah Kerjasama (MOU) terhadap kesepakatan-kesepakatan yang harus ditaati oleh pihak yang bermitra dalam menjalin kemitraan.

Organisasi petani (Gapoktan/ kelembagaan ekonomi petani) secara langsung melakukan kerjasama usaha/ kemitraan dengan para eksportir/ industri pengolahan hasil ternak dan dengan pasar ternak/ pasar lelang dalam pemasaran ternak sapi. Sehingga mata rantai pemasaran dapat diperpendek dan harga dapat ditetapkan sesuai dengan harga ternak dari kesepakatan harga dari organisasi petani. Selain itu jaminan ketersedian pasokan ternak baik dari segi kuantitas, kualitas dan harga akan lebih menguntungkan bagi peternak maupun pihak mitra.