Pengembangan Tanaman Mentha

Persiapan bahan tanaman; sampai saat ini belum ada varietas unggul yang dilepas, tetapi ada 3 - 4 nomor harapan yang sedang diuji daya adaptasinya untuk mendapatkan varietas unggul. Tanaman menthe diperbanyak secara vegetatif melalui setek pucuk, setek batang dan setek stolon, perbanyakan yang dianjurkan dengan menggunakan setek pucuk sepanjang 5-10 cm (3-5 ruas) pertumbuhannya lebih cepat dan baik, penyemaian langsung di polybag dengan media tanah dan pupuk organic dengan perbandingan 3 : 1 yang dipelihara selama lebih kurang 1 bulan.


Persiapan lahan; dilakukan sebelum atau bersamaan dengan persiapan pesemaian yaitu pengolahan tanah sekaligus pembersihan gulma dan pencangkulan tanah dengan kedalaman lebih kurang 30 cm agar akar tanaman tumbuh dengan mudah kedalam tanah, pembuatan bedengan atau guludan dengan tinggi 20 - 30 cm dan lebar 1 - 1,5 cm, jarak antar bedengan dibuat selebar lebih kurang 50 cm, jarak tanam 40x60 cm (jarak dalam barisan 40 cm, antar barisan 60 cm) dengan lubang tanam 20x20x20 cm. Benih yang sudah cukup umur 1 bulan dalam polybag, kemudian ditanam dalam lubang yang telah dipersiapkan.

Pemeliharaan; selain pupuk organik juga diberikan pupuk anorganik seperti urea, TSP atau SP-36 dan KCl, dengan memberikan unsur hara yang sesuai anjuran dapat meningkatkan produksi terna yaitu batang dan daun atau minyak, mutu minyak dipengaruhi oleh varietas bahan tanam yang ditanam. Pupuk organik diberikan dengan dosis 30 ton per hektar, sedangkan pupuk anorganik (urea, SP-36 dan KCl) masing-masing dengan dosis 150 kg per hektar. Untuk menjaga pengaruh mutu dan aroma minyak mentha maka disekitar tanaman mentha harus bebas dari gulma dan diberikan air yang cukup karena tanaman mentha tidak tahan terhadap kekeringan.

Hama yang banyak ditemukan dan menyerang tanaman antara lain ; ulat pemakan daun, ulat penggulung daun (Sylepta sp), belalang, kutu putih (Planococcus sp) dan serangga yang harus mendapat perhatian serius yaitu rayap tanah (Coptotermes sp), sedangkan musuh utama tanaman mentha yang dominan merusak tanaman yaitu tungau merah (Tetranychus sp).

Penyakit yang banyak menyerang tanaman mentha yaitu penyakit karat yang disebabkan Puccinia menthae, bercak daun (Alternaria alternate), layu (Verticillium dahliae), busuk batang (Phoma stasserti), busuk daun/akar/stolon (Rhizoctonia solani/Rhizoctonia bataticola), powdery mildew (Erysiphe cichoracearum). Saat ini yang banyak menyerang pertanaman mentha adalah penyakit busuk daun yang disebabkan oleh Rhizoctonia solani yang berkembang pada kondisi panas dan lembab.

Panen; kebun yang akan dipanen sebaiknya disiangi dahulu agar gulma tidak ikut terpanen karena akan mempengaruhi mutu dan aroma minyak yang dihasilkan. Terna dipanen dengan cara memotong bagian tanaman dengan sabit atau gunting setek lebih kurang 20 cm diatas permukaan tanah, waktu panen pukul 8-10 untuk mencegah daun tidak berembun yang dapat mengakibatkan daun cepat busuk, terna yang baru dipanen dikering anginkan ditempat teduh selama 3-4 hari atau tergantung kondisi cuaca.

Pasca panen; terna yang sudah kering angin kemudian dilakukan proses penyulingan, minyak hasil suling disaring dengan kain sablon atau kertas saring, apabila hasilnya masih keruh maka tambahkan Na2SO4 anhidris yang sudah dikeringkan sebanyak 2 % dari jumlah minyak kemudian diaduk dan disaring, minyak yang sudah jernih kemudian dikemas dalam botol dan ditutup rapat, minyak cornmint dapat dipisahkan dari mentholnya melalui proses pendinginan, minyak yang sudah diambil mentholnya disebut dementholized oil. Standar mutu Dementholized Oil dengan karakterisik minyak tidak berwarna atau warna kuning, bobot jenis 0,888-0,904, indeks bias 1,4585-1,4650, putaran optik (-20oC) - (35oC), kelarutan dalam alcohol 70 % 1 : 2-3 larut jernih, total menthol 40 - 60 %.

Analisa usaha tani; tanaman mentha memperlihatkan dengan harga terna basah sebesar Rp. 700 per kilogram, NPV sudah positif dengan B/C ratio lebih besar dari 1 dan IRR perbulan lebih dari 1,5 %. Hasil analisis sensivitas menunjukan bahwa dengan tingkat produktivitas tetap maka break event point akan terjadi pada saat harga terna basah Rp. 670 per kilogram. Agroindustri penyulingan mentha dengan kapasitas alat 100 kilogram terna kering angin setiap kali penyulingan memerlukan pasokan terna seluas 8 hektar pertanaman mentha secara kontinyu agar mendapat bahan baku cukup, dari produksi terna seluas 8 hektar akan dapat memasok bahan baku untuk sekitar 3-5 kali penyulingan perhari dengan 25 hari kerja per bulan. 

Analisis financial; agroindustri penyulingan mentha menunjukan dengan harga terna kering angina Rp. 2.000 per kilogram (perbandingan terna basah dengan terna kering angin 3 : 1), rendemen 1,5 % dan harga minyak mentha Rp 165.000,- per kilogram, NPV sudah positif dengan B/C ratio lebih besar dari 1 dan IRR per bulan lebih dari 1,5 %. Hasil analisis sensivitas menunjukan bahwa dengan harga terna kering angina dan tingkat rendemen tetap, break event point akan terjadi pada saat harga minyak cornmint sebesar Rp. 160.400 per kilogram.