Pengendalian Penyakit Tanaman Tebu

Tanaman tebu diketahui peka terhadap lebih dari 100 penyakit dan 30 lebih diantaranya dapat merugikan. Pada tahun 1938 di India penyakit mosaik banyak terdapat meluas di pertanaman tebu, tetapi kerugian akibat dari penyakit tersebut dianggap kecil. Pengendalian dengan menggunakan varietas tahan merupakan cara yang efektif. Ditinjau dari penyebabnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : 
  1. Penyakit-penyakit fisiologis; 
  2. Penyakit-penyakit menular. 
Keduanya menyebabkan pertumbuhan yang abnormal. Penyakit-penyakit fisiologis disebabkan keadaan lingkungan tempat tumbuh tanaman yang kurang mendukung bagi proses kegiatan fisiologisnya. Misalnya keadaan tanah yang kahat hara, drainase yang buruk, iklim atau cuaca kering dan sebagainya. Penyakit fisiologis ini tidak menular. Namun kondisi tanaman pada lingkungan yang demikian mempengaruhi ketahanan tanaman terhadap penyakit yang menular. Penyakit fisiologis dapat dicegah dengan memperbaiki lingkungan tempat tumbuh antara lain pengolahan tanah dan pemeliharaan tanam yang baik serta pemenuhan kebutuhan hara yang berimbang. 

Penyakit-penyakit menular dapat disebabkan oleh bakteri, jamur atau cendawan, virus atau mikroorganisme lain. Penyakit-penyakit menular berdasarkan sifatnya dapat dibagi menjadi : 
  1. Penyakit sistemik, yaitu penyakit yang menjangkiti seluruh tubuh (akar, batang dan daun) tanaman menjadi sakit. Bibit yang berasal dari tanaman tersebut akan menghasilkan tanaman baru yang sakit pula; 
  2. Penyakit setempat, yaitu penyakit yang penyerangannya bersifat setempat, disebagian atau kadang-kadang sebagian besar tanaman menjadi sakit. 
Jenis-jenis penyakit menular, diantaranya adalah :

Penyakit Mosaik

disebabkan oleh virus dengan gejala serangan pada daun terdapat noda-noda atau garis-garis berwarna hijau muda, hijau tua, atau klorosis yang sejajar dengan berkas-berkas pembuluh kayu. Gejala ini jelas pada daun muda. Pengendalian dilakukan dengan menanam jenis tebu yang tahan, menghindari infeksi dengan menggunakan bibit sehat dan pembersihan lingkungan.

Penyakit busuk akar

disebabkan oleh cendawan Pythium sp. Penyakit ini banyak terjadi di lahan yang drainasenya kurang sempurna. Akibat penyakit ini, akar tanaman menjadi busuk sehingga tanaman tampak layu dan mati. Pengendaliannya dengan menanam varietas tahan dan dengan memperbaiki drainase lahan.

Penyakit blendok

disebabkan oleh bakteri Xanthomonas albilineans, dengan gejala serangan timbulnya klorosis pada daun yang mengikuti alur pembuluh, gejala penyakit ini terlihat kira-kira 6 minggu hingga 2 bulan setelah tanam. Penularan penyakit terjadi melaui bibit yang berpenyakit blendok atau melalui pisau pemotong bibit. Pengendalian dengan menanam varietas tahan penyakit, penggunaan bibit yang sehat serta mencegah penularan dengan menggunakan desinfektan larutan lysol 15 % untuk pisau pemotong bibit.

Penyakit pokahbung

disebabkan oleh cendawan Gibbrella monoliformis, gejala serangan berupa bintik-bintik klorosis pada daun terutama pangkal daun, sering kali disertai cacat bentuk, sehingga daun-daun tidak dapat membuka sempurna, ruas-ruas bengkok dan sedikit gepeng, akibat serangan pucuk putus karena busuk. Pengendalian dapat dilakukan secara kimiawi atau pengembusan dengan tepung kapur tembaga (1, 4, 5) atau dengan menanam varietas tahan.