Penyebab dan Dampak Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia meningkat selama sepuluh tahun terakhir ini, sebagian besar disebabkan oleh ulah manusia (yang disengaja atau karena lalai) juga karena kondisi yang sangat kering sebagai pengaruh terjadinya perubahan iklim global/makro yang melanda wilayah Indonesia.

Unsur iklim/cuaca

Kebakaran hutan dan lahan, dapat pula terjadi pada musim hujan yang disebabkan karena kejadian alam yaitu halilintar/petir menyambar pohon yang bertajuk dalam keadaan basah (pohon pinus) sehingga menimbulkan kebakaran tajuk yang hebat pada hutan pinus. Dengan adanya iklim ekstrim dimana musim kemarau dan penghujan tidak menentu yaitu bila musim kemarau/kering tiba dan sangat panas yang memungkinkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, sebaliknya bila musim hujan terjadi longsor dan banjir. Beberapa unsur penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan adalah panas, bahan bakar dan udara/oksigen. Pada prinsipnya, pengendalian kebakaran hutan dan lahan adalah menghilangkan salah satu atau lebih dari unsur-unsur tersebut. 


Penyebaran api bergantung kepada bahan bakar/vegetasi tanaman dan cuaca. Bahan bakar berat seperti log, tonggak dan cabang-cabang kayu dalam keadaan kering bisa terbakar, meski lambat tetapi menghasilkan panas yang tinggi. Bahan bakar ringan seperti rumput, ranting kering, daun-daun pinus dan serasah, mudah terbakar dan cepat menyebar, yang selanjutnya dapat menyebabkan kebakaran hutan/lahan yang besar.

Unsur-unsur cuaca yang penting yang mempengaruhi kebakaran hutan dan lahan adalah angin, kelembaban dan suhu. Angin yang bertiup kencang meningkatkan pasokan udara sehingga mempercepat penyebaran api. Pada kasus kebakaran besar, angin bersifat simultan. Semakin besar kebakaran, tiupan angin semakin kencang akibat perpindahan massa udara padat di sekitar kebakaran ke ruang udara renggang di tempat kebakaran. Kadar air/kelembaban bahan bakar juga penting untuk dipertimbangkan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Pada keadaan normal, api menyala perlahan pada malam hari karena kelembaban udara diserap oleh bahan bakar. Udara yang lebih kering pada siang hari dapat menyebabkan kebakaran yang cepat. Oleh sebab itu, secara teknis pada malam hari akan lebih mudah mengendalikan kebakaran hutan/lahan daripada siang hari.

Ulah manusia

Dalam banyak kasus, kebakaran hutan juga berawal dari kesengajaan manusia melakukan pembakaran hutan dan lahan yang akan dipergunakan untuk hutan tanaman industri (HTI), perkebunan, ladang, penggembala/pemburu yang ingin merangsang tumbuhnya rumput, pengusir lebah dari sarangnya oleh peternak lebah/pengumpul madu dan para perambah hutan. Pembakaran juga dilakukan pada lahan pertanian/perkebunan untuk membersihkan daun kering tanaman, sisa-sisa panen serta limbah tanaman pada calon lokasi lahan perkebunan/pertanian dalam kegiatan persiapan lahan. Karena kebakaran biasanya dilakukan pada musim kemarau dan kurang diawasi sehingga api mudah merambat kekawasan hutan dan lahan sekitar yang menyebabkan kerugian baik ekologis maupun ekonomis.

Konflik sosial

Penyebab sosial, umumnya berawal dari suatu konflik antara para pemilik modal industri perkayuan maupun pertambangan, dengan penduduk asli yang merasa kepemilikan tradisional (adat) mereka atas lahan, hutan dan tanah dikuasai oleh para investor yang diberi pengesahan melalui hukum positif negara. Akibatnya kekesalan masyarakat dilampiaskan dengan melakukan pembakaran demi mempertahankan lahan yang telah mereka miliki secara turun temurun. Pada situasi seperti ini, masalah kemiskinan dan ketidak adilan menjadi pemicu kebakaran hutan dan masyarakat tidak akan mau berpartisipasi untuk memadamkannya.

Dampak Kebakaran 

Kebakaran hutan dan lahan berdampak luas terhadap kerusakan plasma nutfah, bio-fisik, lingkungan dan dampak sosial ekonomi yang dapat digambarkan sebagai berikut. Kerusakan plasma nutfah, yaitu hancurnya pepohonan, tanaman, vegetasi lain dan satwa liar yang ada sebagai akibat kebakaran yang dapat menyebabkan hilangnya plasma nutfah (sumber daya genetik pembawa sifat keturunan) dari pepohonan, tanaman, vegetasi dan satwa liar tersebut. Bio-fisik, adalah rusaknya sifat fisik tanah akibat hilangnya humus dan bahan-bahan organik tanah yang menyebabkan tanah menjadi terbuka terhadap panas matahari dan aliran air permukaan. Hal ini menyebabkan tanah mudah tererosi dan tingkat air tanah menurun. 

Kebakaran yang terjadi secara berulang dikawasan yang sama dapat menghabiskan lapisan organik dan serasah serta mematikan mikroorganisme/ jasad  renik yang sangat berguna bagi kesuburan tanah. Kebakaran yang terjadi kawasan lereng didaerah hulu DAS yang berulang, berakibat menurunnya mutu kawasan yaitu menyebabkan erosi tanah dan banjir yang berdampak pada pendangkalan terhadap saluran air, sungai, danau dan bendungan. Dampak lain dari kebakaran adalah rusaknya lingkungan, yaitu menyebabkan adanya gangguan cuaca sebagai akibat asap kebakaran yang mengganggu lapisan atmosfir di wilayah Indonesia dan negara tetangga yang menyebabkan penurunan daya tembus pandang (visibilitas) sehingga mengganggu kelancaran transportasi baik darat, laut maupun udara. 

Kebakaran hutan dan lahan juga berdampak pada masalah sosial ekonomi masyarakat, yaitu dengan adanya perubahan bio-fisik terhadap sumberdaya alam dan lingkungan yang disebabkan peristiwa kebakaran berakibat pada penurunan daya dukung dan produktivitas hutan dan lahan sehingga menurunkan pendapatan masyarakat dan negara dari sektor kehutanan, pertanian, perindustrian, perdagangan, pariwisata dan lainnya yang terkait dengan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungannya. Pencemaran udara yang disebabkan asap kebakaran mengakibatkan penyakit saluran pernapasan (ISPA).

Sumber : Pedoman Teknis Pembukaan Lahan Tanpa Bakar, Ditjen Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta, 2007 dan Dari berbagai sumber.