Perkembangbiakan Kambing

Untuk mendapatkan tingkat perkembangbiakan kambing yang tinggi, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : dewasa kelamin, tanda-tanda birahi dan lamanya birahi, waktu/saat mengawinkan, cara perkawinan, masa kebuntingan, kemajiran.

Kambing merupakan ternak yang memiliki sifat toleransi yang tinggi terhadap bermacam-macam pakan hijauan serta mempunyai daya adaptasi yang baik terhadap berbagai lingkungan. Pengembangan kambing mempunyai prospek yang baik karena disamping untuk memenuhi kebutuhan daging di dalam negeri, kambing juga memiliki peluang sebagai komoditas ekspor. Bertamabahnya jumlah penduduk Indonesia dan makin meningkat pendapatan masyarakat, makin meningkat pula kebutuhan daging di Indonesia. Maka salah satunya untuk memenuhi kebutuhan daging tersebut adalah tersedianya daging kambing.


Untuk tersedianya daging kambing, maka para peternak kambing harus terdorong untuk mengembangkan usaha ternak kambing yang lebih baik atau secara intensif sehingga dapat memberikan keuntungan yang memadai dan kesejahteran keluarganya. Dengan meningkatnya kesejahetraan keluarga dengan taraf hidup yang lebih baik dan dapat mengangkat derajat para peternak kambing, maka diharapkan banyak peternak selain beternak kambing dapat tertarik untuk berusaha ternak kambing.

Pada umumnya budidaya/pemeliharaan kambing saat ini masih berbasis pada peternakan rakyat yang berciri skala usaha kecil, manajemen sederhana, pemanfaatan teknologi seadanya, lokasi tidak terkonsentrasi dan belum menerapkan sistem dan usaha agribisnis. Oleh karena itu , agar budidaya kambing dapat berhasil baik dan menguntungkan yang dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan khususnya bagi peternak kambing, maka harus memperhatikan perkembangbiakan kambing yang akan dibudidayakan.

Melalui pengaturan perkawinan, maka diharapkan kambing dapat melahirkan anak setiap 7 bulan sekali dan anaknya disapih pada umur 3 - 4 bulan sehingga induk dapat dikawinkan lagi pada bulan pertama sesudah melahirkan. Untuk mendapatkan tingkat perkembangbiakan yang tinggi, maka perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

1. Dewasa kelamin. Umur pertama kali betina dikawinkan adalah 10 - 12 bulan, sedang yang jantan digunakan sebagai pemacek pada umur di atas 1 tahun. Perkawinan akan menghasilkan kebuntingan bila betina dalam keadaan birahi.

2. Tanda-tanda birahi dan lamanya birahi : 
  • Alat kelaminnya bengkak, merah dan agak basah; 
  • Gelisah, tidak tenang; 
  • Mencoba menaiki temennya; 
  • Ekor dikibas-kibaskan dan sering kencing; 
  • Diam kalau dinaiki kambing lain. 
Dalam hal ini, peternak harus memperhatikan tanda-tanda birahi tersebut di atas supaya dapat mengetahui dengan tepat kapan saat kambing harus dikawinkan. Adapun lama kambing birahi adalah 24 - 25 jam .

3. Mengawinkan . Saat tepat untuk mengawinkan betina adalah pada hari kedua masa birahi atau 18 - 20 jam sejak timbulnya tanda-tanda birahi. Sedangkan saat yang baik untuk dikawinkan, yaitu : 
  • Pagi hari sampai jam 10.00, saat mengawinkan yang baik tepatnya 18 - 20 jam dari mulai timbulnya birahi (pada hari kedua sampai jam 04.00 - 05.00 besoknya);
  • Siang hari sampai jam 15.00, saat mengawinkan yang baik tepatnya 18 - 20 jam dari mulai timbulnya birahi (pada hari kedua sampai jam 10.00); c) sore atau malam, saat mengawinkan yang baik tepatnya 18 - 20 jam dari mulai timbulnya birahi (pada hari kedua sampai jam 16.00 besoknya).
Kalau kambing telah dikawinkan dan masih memperlihatkan tanda-tanda birahi pada siklus birahi berikutnya (17 - 21 hari) supaya dikawinkan. Apabila ternak yang sudah dikawinkan sebanyak 3 kali periode birahi berturut-turut dan tidak terjadi kebuntingan, agar dilaporkan ke petugas peternakan setempat untuk diadakan pemeriksaan dan pengobatan.

4. Cara perkawinan, yaitu : 
  • Ternak betina birahi dibawa ke kandang pejantan untuk dikawinkan; 
  • Ternak-ternak betina disatukan dalam kandang pemeliharaan pejantan selama masa birahi untuk dikawini. Seekor pejantan mampu mengawini 9 ekor betina.
5. Masa kebuntingan, menyusui dan produksi induk, yaitu : 
  • Lamanya bunting sampai melahirkan berkisar 144 - 156 hari; 
  • Masa menyusui anak 3 bulan sesudah itu bisa dikawinkan lagi; 
  • Masa produktif induk lebih kurang 1,5 sampai 6 tahun.
6. Kemajiran. Tanda kemajiran dapat dilihat bila ternak selalu terlambat atau tidak birahi atau beberapa kali dikawinkan tidak terjadi kebuntingan. Jika hal ini terjadi, maka sebaiknya dilaporkan kepetugas untuk mendapatkan pengobatan dan petunjuk seperlunya.

Sumber : 
  • Pedoman Budidaya Kambing/Domba Yang Baik (Good Breeding Practice), Direktorat Jenderal Peternakan 2002; 
  • Pedoman Budidaya Ternak Kecil Dan Unggas Di Pekarangan Kebun Sekolah, Direktorat Jenderal Peternakan 1996.