Persiapan Bibit dan Penaman Tanaman Sagu

Persiapan Bibit dan Penaman Tanaman Sagu

Persiapan Bahan Tanam

Persiapan bahan tanam sagu dapat dilakukan secara generatif dan vegetatif.

Pembiakan Generatif

Pembiakan generatif adalah pembiakan dengan menggunakan benih. Pembiakan dengan cara ini daya kecambahnya rendah dan tanaman hasil pembiakan dengan generative ini belum tentu sama dengan tanaman induknya. Benih sagu yang dikupas kulitnya kemudian direndam dengan dengan ZPT dapat berkecambah lebih banyak bila dibandingkan dengan benih sagu yang tidak dikupas. 

Pembiakan Vegetatif

Seleksi bibit: Seleksi bibit dilakukan berdasarkan kriteria sebagai berikut: 
  1. Anakan sagu diambil dari induk sagu yang produksi patinya tinggi, 
  2. Bibit masih segar dengan pelepah yang masih hijau, 
  3. Bibit sudah cukup tua, dicirikan dengan bonggol (banir) yang sudah keras , 
  4. Pelepah dan pucuk yang masih hidup, 
  5. Mempunyai perakaran yang cukup, 
  6. Panjang pelepah minimal 30 cm, 
  7. Tidak terserang hama penyakit , 
  8. Bonggol berbentuk L dan rata-rata bobot bibit 3-4 kg. 

Bibit yang sudah diseleksi kemudian ditempatkan di penampungan . Bibit sementara diberi naungan agar tidak terjadi transpirasi berlebihan. Bibit disiram setiap sore untuk menjaga kelembaban dan dipertahankan daya tumbuhnya. Bibit tersebut kemudian diangkut ke tempat persemaian. 

Persemaian

Sebelum persemaian, daun tua dipangkas lebih dahulu dengan ketinggian pangkasan 30-50 cm dari bonggol agar evaporasi dapat ditekan dan untuk mempercepat pemunculan calon tunas pertama yag selanjutnya akan menjadi daun. Bibit sagu kemudian dicelupkan dalam larutan fungisida, misalnya Manzate 200 atau Dithane M-45 dengan dosis 2 g/l air . Bibit direndam selama 1-2 menit setelah itu dikering anginkan selama 10-15 menit agar fungisida tersebut dapat meresap. 

Persemaian dilaksanakan dengan system kanal. Bibit ditata dalam rakit yang terbuat dari tulang daun sagu (gaba-gaba) atau dari bambu /kayu yang berukuran 3 m x 0.5 m. Rakit tersebut sangat ringan sehingga mengapung di air dan udah dilangsir ke lokasi penanaman. Setiap rakit dapat menampung 70-80 bibit. Bibit dalam rakit diletakkan dalam kanal sampai batangnya terendam, setelah 3 bulan akan ada 2-3 helai daun baru dan perakarannya sudah berkembang dengan baik. Saat itu bibit sagu dapat dipindahkan ke lapagan. Bibit yang disemai pada musim hujan akan memiliki daya tumbuh yang lebih baik bila dibandingkan dengan bibit yang disemai pada musim kemarau. 

Persemaian dapat juga dilakukan di tanah atau di polybag yang diisi tanah. Bila menggunakan persemaian dari kantong plastik, maka kantong plastik tersebut diisi dengan tanah gambut atau campuran tanah, pasir dan bahan organik. Apabila persemaian tersebut dari tanah langsung maka tanah terseut harus diberi bahan organik. Keberhasilan persemaian sistem kanal lebh tiggi dari pada sistem polibag atau di tanah, karena pelukaan bibit akibat pemisahan dari induknya sering menjadi sarang bagi hama. Pada saat direndam dalam kanal hama yang menyerang bibit sagu tidak dapat hidup.

Persiapan Penanaman dan Penanaman Sagu

Setelah tiga bulan di persemaian, bibit sagu sudah memiliki 2-3 helai daun baru dan bibit tersebut sudah dapat dipindahkan ke lapangan (kebun sagu) . Kemudian dilakukan pengajiran. Apabila sagu akan ditanam secara monokultur maka jarak antar ajir 10 m x 10 m , tetapi bila akan ditumpangsarikan dengan tanaman lain , maka jarak ajir dapat 10 m x 15 m. Pada ajir dibuat lubang tanam dengan ukuran 30 cm x 30 m x 30 cm. Kedalaman lubang yang ideal yaitu bila sudah mencapai permukaan air tanah. Bibit sagu akan cepat beraklimatisasi dan beradaptasi bila akar bibit sagu menyentuh permukaan tanah, tetapi bila air tanah sangat dalam maka kedalaman lubang tanam maksimal 60 cm. Setelah lubang tanam selesai dibuat maka bibit sagu dapat segera ditanam. Apabila jarak tanam sagu tersebut 10 m x 10 m dalam bentuk segi empat, maka populasi awalnya 100 tanaman/ha. Tetapi bila bentuk jarak tanamnya segitiga sama sisi maka populasi awalnya 136 tanaman/ha. 

Waktu penanaman yang paling sesuai adalah pada musim hujan karena kelembaban tanah tinggi. Kondisi lahan yang basah dan lembab dapat meningkatkan bibit yang hidup setelah penanaman di lapang karena sagu merupakan jenis tumbuhan yang bergantung pada air yang cukup untuk pertumbuhan. Daun serta akar bibit sagu yang berlebihan harus dipangkas untuk mengurangi transpirasi sewaktu ditanam di lapang. Untuk menhindari agar tunas muda tidak rusak atau patah, pucuk muda dan daun muda yang baru tumbuh dipotong sebelum ditanam. Ujung rhizome yang telah dipotong harus ditutup dengan tanah untuk menghindari serangan serangga perusak atau ulat sagu dan bagian tersebut harus terbenam dalam lubang.

Sewaktu ditanam, bagian rhizome ditekan ke dalam tanah atau lubang, hal ini dilakukan agar bibit benar-benar tertanam, tidak mudah rebah, dan memudahkan tanaman menyerap hara untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Bibit sagu yang telah ditanam kemudian diberikan dua potong kayu (ampiang) secara bersilangan pada bibit agar bibit tegak dan tidak hanyut ketika terjadi penggenangan. 

Sumber: Bercocok tanam sagu. Penulis: Prof. Dr. Ir. H. M. Bintoro, MM. Agr. Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor bekerjasama dengan Universitas Tokyo. 2008.