Pola Curah Metode Oldeman Pada Tanaman Tebu

Perubahan pola hujan, menyebabkan terjadinya pergeseran musim. Musim Kemarau akan berlangsung lebih lama yang menimbulkan bencana kekeringan, menurunkan produktivitas dan luas areal tanam. Sementara musim hujan akan berlangsung dalam waktu singkat dengan kecenderungan intensitas curah hujan yang lebih tinggi yang menyebabkan bencana banjir dan tanah longsor. Berubahnya pola hujan tentunya berdampak pula pada pergeseran awal musim dan pola tanam petani yang sudah terbiasa dengan pola pranata mangsa, warisan dari nenek moyang petani jaman dahulu kala.

Salah satu metode untuk menentukan pola hujan adalah dengan menggunakan metode Oldeman yaitu metode dengan menggunakan kriteria bulan basah dan kering yang terjadi secara kontinyu selama setahun. Kriteria bulan basah ditentukan berdasarkan nilai ambang batas ketersediaan air yang dianggap mampu memenuhi kebutuhan air tanaman (crop water requirement). Metode ini juga disebut sebagai klasifikasi agroklimat karena selain untuk menentukan pola hujan juga dapat menggambarkan potensi periode masa tanam (length of growing period) terutama tanaman tebu.


Cara menentukan/analisis pola hujan menggunakan (metode Oldeman) pada dasarnya adalah : menggunakan data curah hujan periode pengamatan jangka panjang (lebih dari 10 tahun). Dari data curah hujan tersebut, oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dibedakan menjadi 3 kriteria yaitu : 
  • Tahun basah; 
  • Tahun normal; dan 
  • Tahun kering. 
Tahun basah dengan kriteria jumlah curah hujan > 115% yaitu jika nilai perbandingan curah hujan tahunan terhadap rata-ratanya lebih besar dari 115%, tahun normal dengan kriteria jumlah curah hujan 85 - 115% yaitu jika nilai perbandingan curah hujan tahunan terhadap rata-ratanya 85 - 115%; dan tahun kering dengan kriteria jumlah curah hujan < 115% yaitu jika nilai perbandingan curah hujan tahunan terhadap rata-ratanya kurang dari 85% - 115%.

Kemudian pada setiap kelompok hujan tersebut dihitung nilai rata-rata jumlah curah hujannya setiap bulan, pada periode yang ditentukan (lebih dari 10 tahun),sehingga diperoleh 12 macam data tahun basah, tahun normal dan tahun kering. Dari data yang diperoleh tersebut, kemudian dikelompokkan berdasarkan metode Oldeman yaitu : 
  • Bulan basah adalah bulan dengan dengan curah hujan lebih dari 200 mm; 
  • Bulan kering adalah bulan dengan curah hujan kurang dari 100 mm; dan 
  • Bulan lembab adalah bulan dengan curah hujan lebih besar dari 100 mm dan kurang dari 200 mm.

Oldeman (1975) telah membagi periode masa tanam dan pola hujan menjadi 15 yaitu:

1. Pola hujan A, dengan jumlah bulan basah > 9 dan bulan kering < 2 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 10-12 bulan. 

2. Pola hujan B1, dengan jumlah bulan basah 7-9 dan bulan kering < 2 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 11-12 bulan. 

3. Pola hujan B2, dengan jumlah bulan basah 7-9 dan bulan kering 2-4 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 9-10 bulan. 

4. Pola hujan B3, dengan jumlah bulan basah 7-8 dan bulan kering 4-5 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 7-8 bulan. 

5. Pola hujan C1, dengan jumlah bulan basah 5-6 dan bulan kering < 2 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 11-12 bulan. 

6. Pola hujan C2, dengan jumlah bulan basah 5-6 dan bulan kering 2-4 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 9-10 bulan. 

7. Pola hujan C3, dengan jumlah bulan basah 5-6 dan bulan kering 5-6 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 6-8 bulan. 

8. Pola hujan D1, dengan jumlah bulan basah 3-4 dan bulan kering < 2 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 11-12 bulan. 

9. Pola hujan D2, dengan jumlah bulan basah 3-4 dan bulan kering 2-4 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 9-10 bulan. 

10.Pola hujan D3, dengan jumlah bulan basah 3-4 dan bulan kering 5-6 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 6-8 bulan. 

11.Pola hujan D4, dengan jumlah bulan basah 3-4 dan bulan kering >6 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 3-5 bulan. 

12.Pola hujan E1, dengan jumlah bulan basah < 3 dan bulan kering < 2 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 11-12 bulan. 

13.Pola hujan E2, dengan jumlah bulan basah < 3 dan bulan kering 2-4 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 9-10 bulan. 

14.Pola hujan E3, dengan jumlah bulan basah < 3 dan bulan kering 5-6 bulan, mempunyai periode masa tanam selama 6-8 bulan. 

15.Pola hujan E4, dengan jumlah bulan basah < 3 dan bulan kering > 6 bulan, mempunyai periode masa tanam selama < 6 bulan.

Yang harus diperhatikan petani tebu

Sehubungan dengan pola tanam tersebut, yang harus diperhatikan petani tebu adalah: 

1) melakukan optimalisasi pengelolaan sumberdaya air guna memenuhi kebutuhan pada waktu musim kemarau dan pengelolaan drainase pada saat kelebihan air; 

2) menggunakan varietas tanaman tebu yang adaptif; dan 

3) menentukan kalender dan pola tanam yang sesuai dengan perubahan iklim.Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, curah hujan bulanan yang ideal untuk pertanaman tebu adalah 200 mm / bulan pada 5-6 bulan berturut - turut, 125 mm/bulan pada 2 bulan transisi dan kurang 75 mm / bulan pada 4 - 5 bulan berturut-turut. Menurut tipe iklim Oldeman, zona yang terbaik untuk tanaman tebu adalah tipe iklim C2 dan C3. 

Dalam pengembangannya ke lahan kering, selain kedua tipe iklim tersebut ada beberapa jenis tanah/lahan dengan tipe iklim tertentu yang dapat diusahakan untuk pertanaman tebu, yaitu jenis tanah/lahan cukup ringan dan berdrainase baik adalah dengan tipe iklim B1, C1, D1 dan E1.

Kemasaman tanah (pH) yang terbaik untuk tanaman tebu adalah pada kisaran 6,0 - 7,0, dengan kesuburan tanah (status hara) cukup. Berdasarkan hasil penelitian P3GI, kesesuaian lahan bagi tanaman tebu dengan kriteria kandungan N total > 1,5 ppm, P2O5 tersedia > 75 ppm, K2O tersedia > 150 ppm.

Masa tanam yang optimal adalah pada akhir musim kemarau sampai awal musim hujan yaitu pertengahan Oktober sampai dengan masa tanam juga dapat pada akhir musim hujan sampai awal musim kemarau (pola II) dengan kondisi tanah ringan. Pada daerah basah (bulan kering = 2 bulan), masa tanam tebu terbaik pada awal musim kemarau.

Sumber : 
  • Gunawan, L.W. 1988. Teknik kultur jaringan tumbuhan. 
  • Laboratorium kultur jaringan tumbuhan, PAU Bioteknologi, IPB. Bogor; 
  • Pedoman Teknis, Pengembangan Tanaman Tebu, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian 2013; dan
  • Berbagai sumber