Pupuk Organik Dari Limbah Tebu

Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari sisa-sisa tanaman/tetumbuhan dan hewan/binatang yang dimasukkan ke dalam tanah dan hasil pelapukannya dapat memperbaiki kesuburan tanah baik secara fisika, kimia maupun biologis. Pupuk organik yang pernah dan telah digunakan di perkebunan tebu, sebagai berikut :


a) Bungkil; komposisi unsur hara yang terdapat di dalam pupuk bungkil : Bungkil kacang 3,6 - 7,9 % N; 3 - 4 % P2O5; 2,5 % K2O, Bungkil kapuk 3,5 - 4,5 % N; 2 % P2O5; 2 % K2O, Bungkil jarak 3 - 5 % N; 2 % P2O5; 2 % K2O, Bugkil kedelai 6 - 7 % N; 7 % P2O5; 7 % K2O, Bungkil Kelapa 2 - 4 % N. Unsur hara yang berada dalam pupuk bungkil terikat sebagai senyawa organik sehingga tidak dapat digunakan langsung oleh tanaman. Untuk dapat tersedia pupuknya harus mengalami perombakan dan mineralisasi terlebih dahulu. Perombakan dilakukan oleh mikroba yang kemudian akan membebaskan amonium dan nitrat yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Makin halus bungkilnya makin cepat perombakannya dan makin cepat pengaruhnya bagi pertumbuhan tanaman; 

b) Pupuk Kandang; merupakan "hasil samping" dari usaha atau industri peternakan yang berupa kotoran-kotoran binatang-binatang ternak (sapi, kerbau, kuda, ayam, itik dan kambing) yang biasanya bercampur baur dengan sisa-sisa makanannya. Unsur hara yang dapat diperoleh dari pupuk kandang macam dan jumlahnya sangat beragam bergantung pada macam ternak, jenis pakan, dan sistem pengelolaannya;
c) Kompos; merupakan pupuk organik yang merupakan hasil perombakan dari berbagai macam campuran bahan organik sisa tetumbuhan, yang terjadi secara alami maupun yang diproses dengan suatu cara atau sistem tertentu. Bahan yang dipakai untuk pembuatan kompos, diantaranya sampah kota, jerami, sisa-sisa seresah dedaunan, misalnya daun tebu, dan sebagainya. Untuk memperpendek waktu pengomposan dapat digunakan "ragi" yang berisi berbagai jenis mikroba yang dapat berkembang dengan pesat di dalam bahan campuran untuk pembuatan kompos. Ragi yang khusus untuk pembuatan kompos dari sisa-sisa daduk (daun tebu) yang dicampur dengan ampas dan blotong serta bahan-bahan kimia tertentu (urea atau amonium sulfat), dinamakan INOPOS (diproduksi oleh Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia). Pada umumnya penggunaan kompos lebih ditekankan untuk perbaikan sifat fisik tanah daripada sifat kimia tanahnya; 
d) Blotong; merupakan salah satu dari limbah padat industri (pabrik) gula disamping abu ketel. Pada proses pengolahan tebu menjadi gula, setiap ton tebu akan menghasilkan limbah berupa blotong sebanyak 14 - 18 kg dengan kadar air 55 - 65 persen untuk sistem saringan tekan (filter press), dan sebanyak 27 - 28 kg dengan kadar air 65 - 80 persen untuk sistem saringan hampa putar (rotary vacuum filter) (Chen, 1985). Bagian organik blotong karbonatasi lebih kurang hanya 18 % dan bagian anorganiknya 82 %, sedangkan pada blotong sulfitasi bagian organiknya kira-kira 60 % dan bagian anorganiknya 40 % (Darsono Ariadi, 1970). Melihat tingginya bagian organik blotong sulfitasi, maka dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik;
e) Tetes; merupakan "hasil samping" dari urutan proses pembuatan gula yang paling akhir, yaitu setelah dilakukannya sentrifugasi. Pada saat sentrifugasi masekuit masakan gula akhir, terjadi pemisahan yang menghasilkan hablur gula sebagai hasil utama dan tetes sebagai hasil sampingnya. Tetes berujud cairan kental, berwarna coklat tua kehitaman; 
f) Pupuk Hijau; mengandung semua hijauan dari dedaunan dan jaringan tanaman yang ditambahkan ke dalam tanah dalam keadaan segar, dengan tujuan untuk menambah bahan organik dan nitrogen. Golongan Leguminocese banyak dipakai sebagai bahan utama pupuk hijau. Kecuali hara N, pupuk hijau juga dapat memberi tambahan hara P dan K ke dalam tanah, terutama jika menggunakan pupuk hijau yang berbentuk pepohonan;
g) Pupuk lain-lain; yang dimaksud dengan pupuk lain-lain adalah bahan-bahan yang dapat meningkatkan kesuburan tanah, antara lain abu ketel dari pabrik gula dan pupuk hayati (biofertilizer). Abu ketel mempunyai nilai pupuk karena mengandung ± 2% P2O5 dan 7 % K2O. Pupuk hayati atau lebih tepat disebut "Inokulan Mikroba" mengandung arti yang lebih luas, yaitu mencakup semua sumber (pupuk) organik bagi pertumbuhan tanaman yang diberikan dalam bentuk tersedia melalui mikroorganisme atau asosiasi mikroorganisme tanaman melalui bersaling-tindak (interaksi).
Sumber : Dasar-dasar Teknologi Budidaya Tebu dan Pengolahan Hasilnya, Marsadi Pawirosemadi, tahun 2011