Standar Benih Unggul Tebu Di Kebun Bibit Datar (KBD)

Benih merupakan komponen teknologi yang sangat penting dalam budidaya tanaman karena sangat menentukan tingkat produktivitas, mutu hasil dan keberhasilan agribisnis. Penggunaan benih unggul bermutu pada tanaman tebu merupakan salah satu faktor penting dan secara langsung berdampak positif terhadap produktivitas tebu. Oleh karena itu penggunaan benih unggul bermutu menjadi keharusan bagi pelaku usaha (petani dan Pabrik gula/PG)

Untuk mendapatkan benih unggul bermutu, perlu dibangun kebun benih tebu dengan menggunakan benih yang memenui syarat/kriteria sebagai berikut: 
  • Benih yang digunakan memiliki asal usul yang jelas dan benar varietasnya; 
  • Benih yang digunakan memiliki tingkat kemurnian yang tinggi (> 95%); 
  • Benih yang digunakan harus sehat, bebas dari hama dan penyakit; 
  • Benih yang digunakan berasal dari tanaman yang pertumbuhannya normal; dan 
  • Benih yang digunakan harus lulus sertifikasi
Benih tebu unggul bermutu

Benih tebu unggul dan bermutu harus memenuhi standar tertentu yang merujuk pada kualifikasi sebagai berikut: 
  • Merupakan benih bina; 
  • Kemurnian varietas terjamin; 
  • Benih bebas dari hama dan penyakit; dan 
  • Benih berasal dari seleksi tanaman yang tumbuh dengan baik. 
Untuk mencapai kualifikasi tersebut perlu mempertimbangkan faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi bentuk fisik benih normal, umur benih tebu 6 - 8 bulan, kandungan/status hara benih dan kondisi hama dan penyakit. Sedang faktor eksternal terkait dengan kesesuaian lahan untuk kebun benih, kemurnian varietas, masa tanam yang tepat dan pemeliharaan tanaman yang memenuhi syarat

Standar Benih Tebu

1. Sumber Benih

Benih harus dihasilkan dari kebun benih yang di kelola dengan baik dan dilakukan secara berjanjang. Benih yang dihasilkan dapat melalui perbanyakan secara Konvensional (stek) dan asal Kultur Jaringan (laboratorium).

a. Jenjang kebun Benih tebu konvensional, meliputi: Kebun Bibit Pokok Utama (KBPU), Kebun Bibit Pokok (KBP), Kebun Bibit Nenek (KBN), Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar (KBD). Penyediaan benih melalui konvensional membutuhkan waktu antara 30 - 40 bulan.

a. Perbanyakan benih tebu melalui kultur jaringan

Perbanyakan benih/bibit tebu melalui kultur jaringan bertujuan menghasilkan benih dalam jumlah besar, waktu singkat terutama untuk varietas-varietas unggul yang baru dihasilkan (Gunawan, 1988). Pada tanaman tebu dari satu pucuk batang tebu umur 4 - 6 bulan mampu menghasilkan sekitar 20.000 tanaman semai dalam waktu 6 bulan (Sugiarta dan Widyaningsih). Sementara menurut Hendre et al., (1983), bahwa tingkat multiplikasi kultur meristem tunas tebu dapat mencapai 200.000 kali dalam waktu 6 bulan. Sedangkan secara konvensional tingkat perbanyakan di lapangan hanya mampu memberikan tingkat perbanyakan 8 - 12 kali dalam waktu yang sama. Perbanyakan kultur jaringan dilakukan memalui laboratorium sampai aklimatisasi dilapangan (G0 sampai G2) membutuhkan waktu antara 17 - 19 bulan. 

Bibit tanaman hasil perbanyakan melalui kultur jaringan/meristem mempunyai keunggulan antara lain sehat, seragam dan secara genetik sama dengan induknya. Hasil penelitian Flynn dan anderlini (1989) menunjukkan bahwa serangan penyakit pembuluh (RSD) tidak terdapat pada tanaman tebu asal kultur jaringan sampai dengan keprasan ke dua. Benih G0 yang dihasilkan dari laboratorium kultur jaringan, dapat ditangkarkan menjadi benih G1. Benih G1 ditangkarkan lagi menjadi G2 yang selanjutnya dapat ditanam/ditangkarkan untuk Kebun Bibit Induk (KBI) dan Kebun Bibit Datar (KBD). Proses produksi benih G0 dilakukan di laboratorium, sementara proses produksi benih G1 dilakukan di Pembibitan dan G2 dilakukan dilapangan.

2. Umur Benih

Benih harus berasal dari kebun benih yang telah berumur 6 - 8 bulan untuk setiap jenjang kebun benih.

3. Bentuk Benih

Bentuk dan macam benih antara lain benih bagal/stek mata 2-3, benih bud set/bud chip 1 mata tunas (kultur jaringan/konvensional dan rayungan

4. Mutu Benih

Benih yang bermutu harus memenuhi krietria sebagai berikut: standar daya kecambah > 90%, ukuran batang dengan panjang ruas normal (tidak ada gejala hambatan pertumbuhan/kerdil), mata tunas masih dorman, benih tebu tidak kering, keriput dan berjamur

5. Kesehatan Benih

Standar benih tebu yang sehat berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI) dengan kriteria sebagai berikut: serangan hama penggerek batang < 2 % dari jumlah ruas, penggerek pucuk < 5 % dari jumlah ruas, hama lain < 5 %, benih harus diusahakan tidak terserang penyakit sistemik seperti pembuluh (Ratoon Stunting Disease/RSD), mosaik dan blendok.

Untuk mencegah hama dan penyakit ikutan pada tanaman, benih sebelum ditanam diperlakukan dengan perawatan air panas (HWT) pada suhu 50 derajad (selama 2 jam untuk pengendalian penyakit RSD, luka api, pengendalian spora jamur, serangga, kutu.

Sumber : 
  • Gunawan, L.W. 1988. Teknik kultur jaringan tumbuhan. Laboratorium kultur jaringan tumbuhan, PAU Bioteknologi, IPB. Bogor; 
  • Pedoman Teknis, Pengembangan Tanaman Tebu, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian 2013; 
  • Berbagai sumber