Teknologi Adaptasi Iklim Yang Diperlukan Dalam Budidaya Tebu

Menyikapi adanya fenomena iklim yang tidak menentu seperti ini, petani tebu memerlukan teknologi inovasi yang tepat karena akan berpengaruh terhadap produksi dan produktivitas tebu. Untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap produksi tebu, kita dapat menggunakan teknologi adaptasi dan mitigasi yang dapat diuraikan sebagai berikut.


Teknologi adaptasi

Teknologi adaptif adalah teknologi yang dapat diadaptasikan terhadap kondisi tertentu. Teknologi yang dapat diterapkan antara lain dengan penggunaan varietas unggul adaptif terhadap perubahan lingkungan. Saat ini, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Pasuruan, telah menghasilkan varietas tebu yang mempunyai tingkat adaptasi yang cukup luas pada berbagai kondisi jenis tanah dan iklim yaitu: 
  • Varietas PS 851; 
  • Varietas PS 862; 
  • Varietas PS 863; 
  • Varietas PS 864; 
  • Varietas Bulullawang (BL); 
  • Varietas PSCO 902; 
  • Varietas Kidang Kencana (KK); 
  • Varietas PS 865; 
  • Varietas PS 881; 
  • Varietas 882; dan 
  • Varietas PSJT 941 tahan kekeringan. 
Selain itu telah ditemukan varietas yang tahan terhadap iklim basah dan hama yaitu: 

1) varietas PSBM 901, tahan dengan iklim yang relatif basah dan tahan terhadap serangan penggerek batang dan penggerek pucuk dan relatif tahan penyakit leaf scorch; 

2) Varietas PS 921 tahan cukup air dan kekeringan dan hama tikus; dan 

3) Varietas PSJT 941 tahan kekeringan dan tahan terhadap hama penggerek batang dan penggerek pucuk, dan tahan terdap penyakit luka api. 

Teknologi Mitigasi

Untuk mencegah dan mengurangi dampak perubahan iklim terhadap produksi tebu dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa teknologi mitigasi antara lain: 
  • teknologi pengelolaan sumberdaya air; 
  • teknologi pengelolaan sumberdaya lahan; 
  • teknologi mitigatif ramah lingkungan; 
  • Sistem Usaha Tani Ramah Lingkungan; dan
  • Pengembangan teknologi biogas.
1. Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Air

Teknologi Panen Hujan Dan Aliran Permukaan, yaitu teknologi yang didasarkan atas penampungan kelebihan air pada musim hujan dan pemanfaatannya untuk musim kemarau. Menyimpan dimusim hujan, dan memasok air dimusim kemarau. Beberapa teknologi yang tersedia yaitu: 
  • teknologi embung, berfungsi sebagai tempat resapan yang dapat meningkatkan kapasitas simpanan air tanah, serta menyediakan air di musim kemarau; 
  • teknologi dam parit, adalah suatu cara untuk mengumpulkan/ membendung aliran air pada suatu parit (drainage network) dengan tujuan untuk menampung volume aliran permukaan, sehingga selain dapat digunakan untuk mengairi lahan di sekitarnya juga dapat menurunkan kecepatan (run off), erosi, dan sedimentasi 
2. Teknologi Pengelolaan Sumberdaya Lahan

Pengelolaan sumberdaya lahan dapat dilakukan dengan melakukan pengelolaan hara tanah agar tanaman dapat tumbuh dengan baik antara lain dengan memberikan unsur hara dalam jumlah yang sesuai, diberikan pada waktu yang tepat untuk memenuhi kebutuhan tanaman. Salah satu strategi pengelolaan hara yang efektif dan efisien yaitu dengan memanfaatkan sebaik mungkin hara yang tersedia dalam bentuk pupuk organik berupa sisa-sisa tanaman dan pupuk kandang.

3. Teknologi mitigatif Ramah Lingkungan

Teknologi mitigatif ramah lingkungan ini merupakan salah satu teknologi yang melaksanakan kegiatan pertanian dengan meminimalkan limbah pertanian (jerami, blotong, serasah tebu) atau zero waste yaitu dengan cara: 1) memanfaatkan serasah sisa panen untuk pakan ternak, yang dilakukan melalui fermentasi, teknologi amoniasi (penggunaan urea), dan pengepresan (pembuatan wafer dengan penambahan tetes tebu); b) pemanfaatan blotong dan sisa pembakaran bagas tebu untuk pupuk organik. 

4. Sistem Usaha Tani Ramah Lingkungan

a. Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT), yaitu merupakan upaya mengoptimalkan penggunaan sumberdaya dan memanfaatkan teknologi pertanian yang ditetapkan secara partispatif untuk meningkatkan produksi. Prinsip utama PTT: 
  • partisipatif, petani berperan aktif memilih dan menguji teknologi yang sesuai dengan kondisi setempat, dan meningkatkan kemampuan melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapangan; 
  • spesifik Lokasi, memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan biofisik, sosial-budaya, dan ekonomi petani setempat; 
  • terpadu, sumber daya tanaman, tanah, dan air dikelola dengan baik secara terpadu; 
  • sinergis, pemanfaatan teknologi terbaik, memperhatikan keterkaitan antar-komponen teknologi yang saling mendukung; 
  • dinamis, penerapan teknologi disesuaikan dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kondisi sosial-ekonomi setempat. 
b. SITT/SIPT (Sistem Integrasi Tanaman-Ternak/Sistem Integrasi Tebu Ternak)

Adalah sistem usaha tani yang mengintegrasikan kegiatan pertanian dengan kegiatan peternakan dalam suatu sistem usaha tani, dimana masing-masing komponen saling berintegrasi satu sama lain. Sebagai contoh, limbah tanaman pertanian diolah sebagai pakan untuk ternak, sedangkan limbah ternak digunakan sebagai kompos untuk menyuburkan tanah pertanian. 

c. SPTLK-IK (Sistem Pertanian Terpadu Lahan Kering Iklim Kering)

Kegiatan SPTLKIK merupakan kegiatan usaha tani yang berbasis Zero waste, yang dilakukan melalui pendekatan Integrasi antara tanaman dengan ternak. Prinsip zero waste dilakukan dengan pengolahan limbah pertanian untuk digunakan sebagai pakan ternak. Dan sebaliknya, kotoran ternak digunakan sebagai pupuk bagi tanaman pertanian. Kegiatan pengolahan limbah pertanian dengan teknik fermentasi untuk menghindari pembakaran limbah pertanian. Dengan adanya pengolahan limbah pertanian dan menghindari pembakaran, maka akan mengurangi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan hara tanaman. Penggunaan pupuk organik disamping penggunaan pupuk anorganik akan meningkatkan hasil pertanian. 

5. Pengembangan teknologi biogas

Pemanfaatan energi biogas pertanian dapat mengurangi efek gas rumah kaca, karena dapat mengurangi emisi gas metana yang dihasilkan pada dekomposi bahan organik yang diproduksi dari sektor pertanian dan peternakan. Bahan baku biogas dapat berupa kotoran ternak segar dan limbah organik atau limbah pertanian. Limbah tersebut dimasukkan ke dalam instalasi biogas untuk selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber energi rumah tangga, atau digunakan untuk menggerakkan mesin pertanian. Selain dimanfaatkan untuk pembuatan biogas, lumpur keluaran dari instalasi biogas dapat langsung dimanfaatkan menjadi pupuk organik dalam bentuk padat dan cair. Pemanfaatan kotoran ternak untuk biogas juga dapat menekan penebangan kayu di hutan untuk bahan bakar karena produk biogas dapat digunakan sebagai sumber energi untuk industri rumah tangga. 

Untuk mendukung program Kementerian Pertanian swasembada gula industri, penerapan teknologi adaptasi dan mitigasi terhadap tanaman tebu mutlak diperlukan. Dengan teknologi yang tepat, dampak perubahan iklim akan dapat diatasi dan tidak akan mengganggu produksi dan produktivitas tanaman tebu. 

Ada beberapa varietas tebu unggul yang adaptif dengan iklim antara lain: 
1) Varietas/galur: POJ 3016 dengan rendemen 14% dan hasil 150 ton/ha; 
2) Varietas/galur: POJ 86-10029 dengan rendemen 9% dan hasil 140 ton/ha; 
3) Varietas/galur: PS 92-3092 dengan rendemen 9% dan hasil 140 ton/ha; 
4) Varietas/galur: Triton dengan rendemen 9% dan hasil 125 ton/ha; 
5) Varietas/galur: BZ 148 dengan rendemen 9 % dan hasil 120 ton/ha; 
6) Varietas/galur: PS 81-1321 dengan rendemen 9% dan hasil 120 ton/ha; 
7) Varietas/galur: BZ132 dengan rendemen 9% dan hasil 80 ton/ha; 
8) Varietas/galur: PS 89-20961 dengan rendemen 9,5% dan hasil 140 ton/ha; 
9) Varietas/galur: PS MD7 dengan rendemen 9,5% dan hasil 130 ton/ha; 
10) Varietas/galur: PS 85-21470 dengan rendemen 9,5% dan hasil 120 ton/ha; 
11) Varietas/galur: PS 88-19432 dengan rendemen 9,5% dan hasil 120 ton/ha; 
12) Varietas/galur: PS 85-18135 dengan rendemen 9,5% dan hasil 105 ton/ha

Sumber : 
  • Gunawan, L.W. 1988. Teknik kultur jaringan tumbuhan. Laboratorium kultur jaringan tumbuhan, PAU Bioteknologi, IPB. Bogor; 
  • Pedoman Teknis, Pengembangan Tanaman Tebu, Peningkatan Produksi, Produktivitas dan Mutu Tanaman Semusim, Direktorat Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian 2013; 
  • Berbagai sumber