Usaha Tani Tebu Antara Sistem Bongkar Ratoon dengan Sistem Rawat Raton

Indonesia merupakan produsen gula pasir dimana gula pasir digolongkan sebagai komoditas strategis, sehingga pemerintah berkewajiban menyediakan dalam jumlah yang cukup pada tingkat harga yang terjangkau di masyarakat. Saat ini produksi gula dalam negeri belum mampu mencukupi konsumsi, baik konsumsi langsung maupun konsumsi tidak langsung. Kekurangan gula untuk mencukupi kebutuhan konsumsi tersebut masih harus disediakan melalui impor. Sehingga Sektor pertanian merupakan bagian terpenting dari perekonomian Negara Indonesia yang mampu menyumbang devisa. Hal tersebut didukung dengan pembangunan pertanian yang sangat erat kaitannya dalam menunjang terwujudnya sistem ketahanan pangan yang kokoh khususnya peningkatan gula atau tebu.


Tebu (Sacharum Officinarum) adalah tanaman rumput - rumputan yang banyak mengandung gula pada batangnya. Namun untuk sampai menghasilkan gula, terlebih dahulu tebu hasil panen dari kebun harus segera dikirim ke Pabrik Gula (PG) untuk selanjutnya diolah. Dari pengolahan tebu ini dihasilkan apa yang dikenal sebagai Gula Kristal Putih (GKP) dan tetes sebagai produk utama. Disamping itu proses pengolahan tebu ini juga memproduksi ampas tebu yang kemudian dapat dimamfaatkan sebagai bahan bakar Boiler, media jamur merang, serta pupuk organik (Kompos). Sedangkan blotong yang dihasilkan dari proses pemurnian, dapat dimamfaatkan pula sebagai pupuk organic. 

Usaha tani tanaman tebu dengan menggunakan sistem bongkar ratoon yang dilihat dari segi tanam menggunakan tebu varietas baru dari hasil persilangan dengan tebu yang sebelumnya, pemeliharaan yang digunakan hampir sama dengan tebu yang lain yaitu dilakukan pemeliharan ulang dari tebu sebelumnya mulai dari pemupukan, penyulaman, pengairan, membunbun, dan memberantas hama penyakit pada tanaman tebu itu sendiri. Panen dilakukan apabila tebu tersebut telah dikatakan sudah tua dengan ciri - ciri berwarna kecoklatan tua dan siap untuk di tebang dan pasca panen dilakukan pengangkutan ke pabrik gula untuk dilakukan penyortiran tebu yang berkwalitas dan tidak berkualitas. 

Berdasarkan hasil penelitian usaha tani tebu sistem bongkar ratoon mempunyai biaya per hektar sebesar Rp. 19.878.192, (Rp/Ha), penerimaan per hektar sebesar Rp. 34.540.266, (Rp/Ha) dan pendapatan per hektar sebesar Rp. 15.256.068, (Rp/Ha). Sedangkan usahatani tebu sistem rawat ratoon memiliki biaya per hektar sebesar Rp. 15.084.981, (Rp/Ha), penerimaan per hektar sebesar Rp. 27.837.660, (Rp/Ha), dan pendapatan perhektar sebesar Rp. 10.636.277, (Rp/Ha). 

Sedangkan untuk produktivitas sistem bongkar ratoon hasil tebu 1.203 (Ton/Ha) dan gula 91.4 (Ku/Ha) dan sistem rawat ratoon hasil tebu sebesar tebu 1.124 (Ton/Ha) dan gula 90.5 (Ku/Ha). Dari hasil tersebut terjadi daya saing antara sistem bongkar ratoon dan sistem rawat ratoon yang dilihat dari segi biaya, penerimaan, pendapatan dan produktivitas.