Hama dan Penyakit Pada Tanaman Lada

Hama yang menyerang tanaman lada terdiri dari penggerek batang, penghisap buah dan penghisap bunga, sedangkan penyakit lada terdiri dari Penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB), Penyakit Kuning dan Penyakit kerdil/keriting

Hama Penggerek Batang (Lophobaris piperis). 

Penggerek batang merupakan hama yang paling merugikan pada tanaman lada. Larva hama penggerek batang merusak batang dan cabang tanaman. Serangga dewasanya menyerang bagian tanaman seperti pucuk, bunga dan buah sehingga dapat menurunkan kualitas dan kuantitas produksi.

Hama penghisap bunga (Diconocoris hewetti). 

Hama ini dikenal dengan sebutan nyamuk lada, enduk-enduk, kapal terbang atau fui khicong (Bangka). Stadia nimfa maupun dewasa merusak bunga dan tandan bunga. Serangan ringan dapat menyebabkan tandan rusak, salah bentuk dan buah hanya sedikit, sedangkan serangan berat akan menyebabkan seluruh bunga rusak, tangkai hitam dan gugur sebelum waktunya. Hama ini juga memakan buah muda.

Hama penghisap buah (Dasynus piperis). 

Hama ini dikenal dengan nama kepik, kepinding, dan walang sangit. Bila menyerang buah muda menyebabkan tandan buah banyak yang kosong, sedangkan serangan pada buah tua menyebabkan buah menjadi hampa, kering dan gugur.

Penyakit busuk pangkal batang (BPB). 

Penyebab penyakit ini adalah jamur Phytophthora capsici. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Jamur P.capsici dapat menyerang seluruh bagian tanaman lada, namun yang paling membahayakan adalah serangan pada pangkal batang atau akar. Gejala serangan dini sulit diketahui, sedangkan pada serangan lanjut akan menyebabkan kelayuan tanaman. Serangan P.capsici pada daun menyebabkan gejala bercak daun pada bagian tengah atau tepi daun. Sepanjang tepi bercak tersebut terdapat bagian gejala berwarna hitam bergerigi seperti renda yang akan nampak apabila daun telah mengering atau pada gejala lanjut. Apabila serangan jamur terjadi pada satu tanaman dalam suatu kebun, maka dapat diperkirakan 1-2 bulan kemudian penyakit akan menyebar ke tanaman di sekitarnya. Pada musim hujan penyebaran penyakit akan lebih cepat, terutama pada pertanaman yang disiang bersih.

Penyakit Kuning: 

Penyakit ini disebabkan oleh serangan nematoda Radopholus similis dan Meloidogy incognita, jamur (Fusarium axysporum), kesuburan tanah yang kurang, serta rendahnya kelembaban tanah atau kadar air tanah. Luka-luka akibat serangan nematoda akan memudahkan terjadinya infeksi jamur F. Axysporum. 

Tanaman yang terserang pertumbuhannya terhambat, daun menjadi kuning kaku dan tergantung tegak lurus dan makin lama akan makin mengarah ke batang. Daun-daun yang menguning akan gugur sehingga tanaman akan gundul. Akar tanaman yang terserang menyebabkan sebagian akar rambut rusak. Pada akar tersebut terdapat luka-luka nekrosis dan puru (bintil-bintil akar). Gejala serangan Radopholus similis adalah adanya luka-luka pada akar, sedangkan gejala serangan M. incognita (root knot nematode atau nematoda bengkak/puru akar) adalah adanya akar yang membengkak . Di dalam jaringan akar yang luka dan membengkak tersebut terdapat kumpulan nematoda.

Penyakit kerdil/keriting. 

Penyakit ini tidak mematikan, tapi menghambat pertumbuhan tanaman sehingga menjadi kerdil dan menurunkan produktivitas, bahkan dapat menyebabkan tanaman tidak berbuah. Penyebab penyakit kerdil adalah virus Pepper Yellow Virus (PYMV) dijumpai di Bangka dan Lampung serta virus Cucumber Mosaic Virus (CMV) dijumpai di Bangka.

Gejala penyakit kerdil: 

Adanya daun-daun abnormal, ukuran lebih kecil sering kali bergelombang atau belang-belang. Pada serangan berat menyebabkan tanaman kerdil. Pada beberapa tanaman sering terjadi pertumbuhan cabang yang berlebihan dengan daun yang kecil-kecil atau tidak berdaun. Tanaman yang terserang ringan tetap berproduksi akan tetapi tandan buahnya pendek, tandan buah tidak penuh dan ukuran lebih kecil, sedangkan serangan berat menyebabkan tanaman kerdil dan tidak berbuah. Tanaman yang sudah menunjukkan gejala penyakit ini tidak boleh dijadikan bibit, dan apabila di pembibitan dijumpai bibit dengan gejala kerdil, maka bibit/tanaman tersebut hendaknya dimusnahkan. 

Penyebaran penyakit dilakukan oleh serangga vektor dan dapat juga melalui alat-alat pertanian yang bekas dipakai pada tanaman yang sakit. Untuk itu alat-alat yang akan digunakan disarankan untuk dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan pada tanaman yang sehat. Disamping itu dapat dilakukan dengan mengendalikan vektor penyakit seperti Aphis sp, Planococcus minor dan Ferrisia virgata, serta menghindari pemakaian bahan tanaman yang berasal dari tanaman yang sakit.

Sumber : Pedoman Teknis Budidaya Lada (Good Agricultural Practicwes /GAP), Departemen Pertanian RI, Direktorat Jenderal Perkebunan,Jakarta, 2007.