Manfaat Tanaman Gambir Sebagai Obat

Pengembangan komoditas gambir masih belum memperhatikan aspek lingkungan hal ini belum banyak mendapat perhatian dari berbagai pihak. Seperti diketahui bahwa petani kita sudah terbiasa menanam gambir ditempat-tempat yang berlereng yang pada hakekatnya merupakan kawasan hutan atau penyangga. Kawasan penanaman gambir pada dasarnya dikembangkan di lahan marginal yang miring dengan tanah masam, kesuburan fisik dan kimia sangat rendah, solum dangkal dan rentan terhadap erosi, memiliki erodibilitas tinggi.

Ditinjau dari faktor iklim, curah hujan di wilayah barat Pulau Sumatera cukup tinggi. Budidaya gambir pada daerah ini belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi lahan, sehingga akan menimbulkan lahan kritis baik pada bagian hulu maupun bagian hilir aliran sungai. Keadaan semakin diperparah oleh kebiasaan petani menggunakan kayu sebagai bahan bakar dalam pengolahan hasil gambir sehingga juga dapat mengancam kerusakan lingkungan hutan. Dari segi budidaya penanaman gambir pada lahan yang berfotografi tidak datar atau berlereng belum mengikuti kaedah-kaedah konservasi.

Manfaat tanaman gambir

Gambir merupakan salah satu komoditas perkebunan rakyat yang bernilai ekonomi tinggi dan prospektif untuk dikembangkan secara komersial pada masa yang akan datang, mengingat kegunaannya yang beragam Tanaman gambir mempunyai banyak manfaat yaitu sebagai obat, bahan campuran industri kosmetik, farmasi, penyamak kulit, minuman, cat, dan sebagai tanaman konservasi.

1. Sebagai komponen menyirih dan obat

Kegunaan utama adalah sebagai komponen menyirih, yang sudah dikenal masyarakat Indonesia dari pulau Sumatra hingga Papua. Untuk obat, gambir dapat merangsang keluarnya getah empedu sehingga membantu kelancaran proses metabolisme perut dan usus. Fungsi lain adalah sebagai campuran obat, seperti sebagai luka bakar, obat sakit kepala, obat diare, obat disentri, obat kumur-kumur, obat sariawan, serta obat sakit kulit (dibalurkan)

2. Sebagai bahan industri

Gambir dapat dimanfaatkan untuk bahan penyamak kulit, bahan pewarna tekstil dan sebagai perekat kayu lapis atau papan partikel.

3. Industri farmasi dan makanan

Di antaranya bahan baku obat penyakit hati dengan paten "catergen", bahan baku permen yang melegakan kerongkongan bagi perokok di Jepang karena gambir mampu menetralisir nikotin. Sedangkan di Singapura gambir digunakan sebagai bahan baku obat sakit perut dan sakit gigi

Sebagai pestisida nabati

Gambir dapat dipergunakan sebagai pestisida nabati karena dapat dipergunakan untuk mengendalikan pathogen Fusarium Sp sebagai penyebab penyakit becak daun tanaman klausena dan untuk mengendalikan F. Oxysporium penyebab penyakit layu tanaman cabai, dan F. oxysporium f.Sp Licopersici penyebab penyakit layu tanaman tomat.

Sebagai tanaman konservasi

Usaha pengembangan komoditas gambir pada lahan yang mempunyai tingkat kemiringan tinggi dapat dimanfaatkan sebagai tanaman konservasi dengan menerapkan teknologi budidaya konservasi: 

1) Pembuatan Teras, pembuatan lahan untuk penanaman gambir pada awalnya banyak menimbulkan bahaya erosi, karena permukaan bebas dari vegetasi. Untuk mengurangi terjadinya erosi sebelum tanam dibuat teras menurut baris kontur guna memperlambat laju erosi; 

2) Pengaturan sistem jarak tanam menurut baris kontur, penanaman menurut baris kontur juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi erosi, tanam menurut baris kontur kelak akan membentuk teras alami yang sangat efektif untuk mengurangi erosi permukaan. Material-material yang terbawa oleh aliran permukaan akan tertahan pada barisan tanaman sehingga membentuk lapisan yang lebih tebal membentuk teras; 

3) Intercropping, intercropping gambir dan komoditas lain yang mempunyai system perakaran dalam dapat dimanfaatkan sebagai penyangga-penyangga erosi. Tanaman yang dimanfaatkan sebagai penyangga erosi adalah tanaman yang dapat memberikan hasil tambahan antara lain, petai, jengkol dan lain-lain. Serta tanaman yang tidak menganggu pertumbuhan tanaman gambir. Tajuk tanaman tidak terlalu lebar sehingga intensitas cahaya banyak terhalang.

Sebagai penyedia tenaga kerja

Di Sumatera Barat tanaman gambir tumbuh dengan baik terutama didaerah Limapuluh Kota, Pesisir Selatan. dan Kabupaten lainnya. Berdasarkan data statistik tahun 2011 luasan kebun gambir 21.404 ha yang mampu melibatkan 8.000-9.000 orang tenaga kerja. Lahan tersebar di Kabupaten Limapuluh Kota sebanyak 14.577 Ha, di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 5.023 Ha, Sijunjung 231 ha, Padang Pariaman 224 ha, Agam 446 ha, Pasaman 641 ha, Pasaman Barat 157 ha, Padang 95 ha dan Sawahlunto 10 ha. Produksi mencapai 14.025 ton per tahun yang 85% diekspor ke India dan Asia Selatan.

Dengan luasan tersebut, tanaman gambir cukup potensial dan memenuhi skala ekonomi untuk dikembangkan. Jumlah unit usaha pengolahan gambir di Sumatera Barat tercatat sebanyak 3571 unit dengan nilai investasi Rp 1.029.614.000.

Sebagai komoditi ekspor

Data permintaan gambir dari Sumatera Barat tiap tahun meningkat sekitar 2-3 persen. Pada periode 2000-2004 ada peningkatan volume ekspor sebesar 87,49 persen. Dan tercatat 85 persen kebutuhan gambir dunia dipasok dari Sumatera Barat dengan tujuan India, Bangladesh, Pakistan, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Perancis dan Swis dan 15% dikonsumsi dalam negeri. 

Gambir dapat juga dijadikan sebagai bahan baku utama perekat perekat kayu lapis dan papan partikel. Bila gambir yang diekspor tersebut digunakan sebagai bahan baku perekat kayu lapis di dalam negeri maka baru akan memenuhi kebutuhan tiga pabrik kayu lapis yang berkapasitas 5000-6000 m3/bulan. Gambir dapat diolah di dalam negeri menjadi bentuk yang lain dari sekarang, seperti bentuk biskuit dan tepung gambir sesuai dengan permintaan pasar dunia. Negara India saja membutuhkan gambir sebanyak 6000 ton pertahun. Terlihat bahwa prospek luar negeri masih terbuka.