Penanaman Tanaman Gambir (Uncaria Gambir Hunt)

Salah satu produk pertanian sub sektor perkebunan yang menjadi bahan ekspor semenjak dahulu adalah gambir. Gambir (Uncaria Gambir (Hunter) Roxb) merupakan tanaman perdu setengan merambat. Tanaman gambir banyak terdapat di Sumatera seperti Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Sumatera Barat. Produksi gambir paling banyak adalah di Sumatera Barat bahkan 80 % produksi gambir nasional berasal dari daerah tersebut. Pemanfaatannya adalah sebagai bahan obat-obatan, pewarna alami dan lain-lain. 

Budidaya gambir pada umunya dilakukan di daerah dataran rendah dengan ketinggian 0 - 2000 m di atas permukaan laut. Wlaupun demikian, tanaman gambir dapat dibudidayakan pada lahan dengan ketinggian 200 - 800 m di atas permukaan laut, mulai dari toporafi agak datar sampai lereng bukit (Wikipedia. 2007). Di daerah sentra tanaman gambir, kebun - kebun gambir rakyat dapat ditemukan di daerah - daerah lereng perbukitan dengan kemiringan beragam, mulai dari kemiringan yang rendah hingga sangat curam. Budidaya gambir masyarakat dilakukan secara sederhana atau semi intensif sehingga pengembangannyapun masih dilakukan secara tradisional, baik tehnik budidaya maupun pengolahan hasil.

Persyaratan pertumbuhan

Gambir (Uncaria gambir) merupakan spesies tanaman berbunga genus Uncaria dalam family Rubianceae. Secara alami gambir tumbuh di kawasan hutan dengan ketinggian 200 - 800 meter dari permukaan laut, yang memiliki curah hujan merata sepanjang tahun dan cukup cahaya matahari, dengan suhu berkisar antara 26 - 280C serta kelembapan mencapai 70-80%. Daerah di sekitar khatulistiwa dengan curah hujan 2500-3000 mm per tahun merupakan daerah yang sesuai dengan pertumbuhan gambir. Tanaman gambir juga dapat tumbuh pada hampir seluruh semua jenis tanah dengan PH 4,8 - 5,5. Berdasarkan kareteristik tanaman, gambir termasuk tanaman perdu setengah merambat yang memiliki batang berkayu. Batang tampak tegak memiliki tipe percabangan simpoidal dan berwarna coklat pucat. Pada tanaman yang sudah tua, lingkar batang pohon dapat berukuran hingga 18 inci (36 cm). 

Karakteristik tanaman, daun gambir tumbuh tunggal pada tangkai batang dan saling berhadapan, bewarna hijau dan memiliki panjang 8 - 13 cm dan lebar 4-7 cm. Bentuk daun oval, bagian ujung meruncing, bagian tepi bergerigi, dan permukaan tidak berbulu. Tanaman gambir memiliki bunga majemuk berbentuk lonceng dan berwarna merah muda atau hijau yang tumbuh diketiak daun. Bunga gambir memiliki panjang sekitar 5 cm dengan 5 helai mahkota bunga dan buah gambir berbetuk bulat telur, berwarna hitam memiliki panjang sekitar 1,5 cm dan dua ruang buah.

Penanaman

Meskipun umumnya tanaman gambir tidak dibudidayakan secara intensif, namun untuk mendapatkan produksi dan rendemen yang tinggi sebaiknya gambir dibudidayakan dengan baik dengan langkah sebagai berikut:

Persiapan lahan, untuk mendapatkan pertumbuhan tanaman dengan baik, lahan pertanaman perlu diolah yang diawali dengan pembersihan semak belukar dan gulma. Pembukaan areal pada hutan baru, perlu dilakukan penebangan pohon, kemudian tebangan ditumpuk agar dapat dilakukan pengajiran. Pada lahan miring perlu di-sengked sesuai kontur dan lubang tanaman berbaris menurut kontur. 

Setelah lahan dibersihkan kemudian dilakukan pengajiran dan pembuatan lubang tanaman berukuran 40 x 40 x 40 cm atau minimal 30 x 30 x 30 cm dengan jarak yang ideal 2 x 2 m (2.500 tanaman/ha), atau dengan ukuran lubang tanam 30 x 30 x 30 cm atau dibuat lubang tanam dengan cara ditugal saja dengan jarak tanam ber-variasi antara 2 x 2 m, 2 x 3 m atau 2,5 x 2,5 m. Pada waktu penggalian lubang, tanah bagian atas yang masih mengandung humus dipisahkan dari bagian bawah setelah 15 hari lubang ditutup kembali dengan tanah bercampur pupuk organik (kompos/pupuk kandang).

Penanaman, gambir dapat ditanam melalui stek maupun dari bibit yang berasal dari benih. Penanaman dengan stek yaitu dengan cara menanam stek dengan panjang sekitar 50 cm kemudian lansung ke lubang tanam. Untuk menghindari agar tanaman tidak layu sebaiknya sehari sebelum ditanam, bahan stek direndam dalam air. Penanaman dengan bibit dari stek, dilakukan pada musim hujan. Penanaman dengan bibit yang berasal dari biji gambir merupakan cara yang paling banyak dilakukan petani gambir yaitu menanam langsung tunas yang berasal dari biji gambir yang sudah berusia dua sampai tiga minggu baru lansung ditaman di lahan kebuh atau dipindahkan ke dalam wadah polybag hingga berumur delapan bulan.

Apabila pengembangan komoditas gambir pada lahan yang mempunyai tingkat kemiringan tinggi perlu penerapan teknologi budidaya konservasi dengan cara sebagai berikut: 

1) Pembuatan Teras, untuk mengurangi terjadinya erosi sebelum tanam dibuat teras menurut baris kontur guna memperlambat laju erosi; 

2) Pengaturan sistem jarak tanam menurut baris kontur, penanaman menurut baris kontur juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi erosi, tanam menurut baris kontur kelak akan membentuk teras alami yang sangat efektif untuk mengurangi erosi permukaan. Material-material yang terbawa oleh aliran permukaan akan tertahan pada barisan tanaman sehingga membentuk lapisan yang lebih tebal membentuk teras; 

3) Intercropping, yaitu mena gambir dan komoditas lain yang mempunyai system perakaran dalam dapat dimanfaatkan sebagai penyangga-penyangga erosi. Tanaman yang dimanfaatkan sebagai penyangga erosi adalah tanaman yang dapat memberikan hasil tambahan antara lain, petai, jengkol dan lain-lain. Serta tanaman yang tidak menganggu pertumbuhan tanaman gambir yaitu tanaman yang mempunyai tajuk tanaman tidak terlalu lebar sehingga intensitas cahaya banyak terhalang. 

Pemeliharaan, untuk menghindari gangguan hama dan penyakit, perlu dilakukan pemeliharaan tanaman gambir yang meliputi: penyiangan naungan disaat baru tanam sampai dengan umur 1,5 - 2 tahun, kemudian pemupukan dan pengendalian hama penyakit. Untuk menstabilkan produksi tanaman gambir perlu dilakukan upaya pemupukan yang teratur.